DIPERSATUKAN DI DALAM KRISTUS (Efesus 2:11-22)

Kalau mengamati kehidupan orang Kristen, terkesan ada dua tipe orang Kristen, termasuk yang ada dalam GKI. Pertama orang Kristen bersama Kristus, dan kedua orang Kristen di dalam Kristus. Apa perbedaan antara orang Kristen bersama Kristus dan di dalam Kristus? Perbedaannya dapat diamati dalam karakter orang bersama Kristus dan orang di dalam Kristus. Perhatikan ayat 12-13, “Pada waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketetapan-ketetapan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam di dunia.Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu dalam dunia “jauh” sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus”. Jadi orang Kristen bersama Kristus sebenarnya orang itu jauh dari Kristus, sekalipun dia berdoa, hadir ibadah, sebut nama Kristus, tetapi sesungguhnya  dia jauh dari Kristus, bahkan Kristus tidak ada di dalam dirinya. Orang Kristen tanpa Kristus, orang Kristen tanpa Allah dan tanpa pengharapan. Tidak heran kalau mulutnya penuh dengan kata-kata kotor, maki-maki, cerita-cerita orang punya kejelekan. Dan tidak heran juga kalau hatinya penuh dengan kebencian, kemarahan, dendam dan perseteruan. Itu model orang Kristen bersama Kristus, dan hari ini model seperti itu ada juga  di dalam gereja, termasuk dalam GKI, bahkan menjadi majelis jemaat. Yang harus ada dalam GKI adalah orang Kristen di dalam Kristus, karena GKI, Tuhan dan Kepalanya adalah Yesus Kristus.  

Maka sudah seharusnya setiap warga GKI itu adalah orang Kristen di dalam Kristus, bukan bersama Kristus. Seperti apakah orang Kristen di dalam Kistus?

 

Orang Kristen di dalam Kristus adalah orang Kristen yang “dekat” dengan Kritus, karena dia ada di dalam Kristus, dan Kristus ada di dalam dia. Kepada orang Kristen di Galatia, Rasul Paulus pernah berucap: “Namun, aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam aku”.(Gal 2:20). Jadi orang Kristen wajib hukumnya harus ada di dalam Kristus, bukan bersama Kristus. Warga GKI harus ada di dalam Kristus, karena, sekali lagi, yang menjadi Tuhan dan Kepala GKI adalah Yesus Kristus. Hari ini kita tahu bahwa orang Kristen yang benar adalah  orang Kristen yang ada di dalam Kristus, bukan yang bersama Kristus. Bagaimana kita menjadi orang Kristen yang ada di dalam Kristus? Perhatikan ayat 13 yang sudah disebutkan tadi. “Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus, kamu, yang dahulu “jauh”, sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus”. Luar biasa yang Yesus lakukan, Dia membuat kita yang dahulu “jauh” kini menjadi “dekat” bahkan ada di dalam Dia, oleh darah-Nya. Kita tahu di salib Yesus menumpahkan darah-Nya sampai mati di situ. Darah yang ditumpahkan itu adalah darah yang kudus. Petrus menyebut darah Kristus sebagai darah yang mahal, yang tak bernoda dan tak bercacat (1 Pet 1: 18 – 19). Supaya kita layak ada di dalam Kristus, maka darah kita pun harus kudus, tak bernoda dan tak bercacat. Padahal darah kita sudah menjadi darah kotor karena dosa. Darah Yesuslah yang membuat darah kita yang bernoda dosa itu menjadi kudus. Karena itu, warga GKI yang ada di dalam Kristus darahnya, yaitu kehidupannya sudah tak bernoda, sudah kudus. Warga GKI adalah orang Kristen yang ada di dalam Kristus, orang Kristen yang telah dikuduskan. Sebab itu tata gereja GKI menyebut GKI sebagai gereja yang kudus.  Kita berada dalam gereja yang kudus, maka suka atau tidak suka setiap warga GKI patut menjalani hidup ini dalam kekudusan dan kebenaran.  

 

Kalau dalam GKI masih ada orang Kristen yang bersama Kristus, maka hari ini sudah harus tinggalkan bentuk orang Kristen seperti itu. Sebab kalau dalam gereja masih ada orang Kristen yang belum ada di dalam Kristus, maka  kejahatan dalam segala bentuknya akan menodai kekudusan GKI di Tanah Papua.  Hari ini kita menyaksikan dalam jemaat-jemaat ada konflk, ada kemabukan, ada KDRT, ada perseteruan dan permusuhan. Semuanya ini menandai bahwa orang Kristen yang ada dalam GKI adalah orang Kristen belum ada di dalam Krisus, orang Kristen yang masih “jauh” dari Allah. Orang Kristen tanpa Allah dan tanpa pengharapan.

 

Kondisi orang Kristen seperti itu, patut ditiadakan dari GKI, sebab GKI adalah gereja yang kudus. GKI dalam Pengakuan Imannya disebut sebagai persekutuan sorgawi di bumi. Ini menunjukkan bahwa dalam GKI tidak ada lagi kejahatan apapun bentuknya. Yang ada dalam gereja hanya suasana sorgawi, damai, sebab oleh darah-Nya Yesus telah mengakhiri kuasa dosa dan menghadirkan damai di antara manusia dan terlebih damai antara manusia dengan Allah. Perhatikan ayat 14, dari pembacaan kita hari ini. “Karena Dialah damai sejahteran kita yang telah mempersatukan kedua pihak dan merobohkan tembok pemisah, yaitu perseteruan”. Perseteruan itu menjadi tembok pemisah antara manusia dengan Allah, dan manusia dengan sesamanya. Tetapi tembok pemisah itu sudah dirobohkan Allah di dalam Yesus yang menumpahkan darah-Nya disalib. Perhatikan ayat 16, “dan untuk memperdamaikan keduannya, di dalam satu tubuh, dengan Allah melalui salib, dengan melenyapkan persetuan pada salib itu”. Di salib perseteruan manusia dengan Allah dilenyapkan, juga perseteruan manusia dengan sesama dilenyapkan. Sehingga GKI menghayati keberadaannya sebagai persekutuan sorgawi di bumi. Maka tidak boleh lagi ada perseteruan dalam GKI. Orang Kristen yang masih hidup dalam perseteruan dan permusuhan   adalah orang Kristen yang tidak hidup di dalam Kristus. Marilah mulai hari ini kita berkomitmen menjalani kehidupan ini tanpa perseteruan dan permusuhan, melainkan dalam persaudaraan dan kedamaian satu terhadap yang lain. Sebab dengan Yesus melenyapkan perseteruan di salib, kita oleh pertolongan Roh Kudus, memiliki jalan masuk kepada Allah (ayat 18). Tanda yang paling fenomenal terbukanya jalan masuk kepada Allah ialah ketika tirai Bait Allah robek terbelah dua saat Yesus mati di salib. Oleh kematian Yesus di salib, tirai pemisah tidak ada lagi dan jalan masuk kepada Allah menjadi terbuka.  Tetapi kalau masih ada perseteruan sebaik apapun doa-doa kita, gumul dan juang kita, tak akan tembus kepada Allah. Sebaliknya ketika tidak ada lagi perseteruan dalam diri kita, kita bukan saja memiliki jalan masuk kepada Allah, tetapi bahkan menjadi “anggota-anggota keluarga Allah” (ayat 19). Bukan hanya itu, kitapun dijadikan Allah sebagai “bait Allah yang kudus” (ayat 21).  Ini hendak menegaskan keberadaan orang Kristen yang sesungguhnya. Orang Kristen sebagai keluarga Allah, orang Kristen sebagai bait atau Rumah Allah. Dan ini bisa terjadi kalau kita ada di dalam Kristus, bukan bersama Kristus. Mari kita bangun hidup pribadi dan keluarga menjadi pribadi dan keluarga di dalam Kristus, mari kita bangun komitmen menjadi warga GKI di dalam Kristus, sebab oleh Yesus yang disalib dan dengan darah-Nya, Allah teleh menjadikan kita umat yang hidup di dalam Kristus. Amin!  (Penulis: Pdt. Dr. Sostenes Sumihe, M. Th)

 

 

 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "DIPERSATUKAN DI DALAM KRISTUS (Efesus 2:11-22)"

Posting Komentar

Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.

YANG PALING BARU

DIPERSATUKAN DI DALAM KRISTUS (Efesus 2:11-22)

ABOUT ME

Foto saya
Sorong, Papua Barat Daya, Indonesia
Menemukan PELANGI dalam hidup sendiri dan menjadi PELANGI di langit hidup sesama. Like and Subscribe my youtube channel: DEAR PELANGI CHANNEL

Iklan

Display

Inarticle

Infeed