TETAP SETIA DI TENGAH TANTANGAN (Ester 3:1-15)
Hanya ikan mati yang ikut arus. Sedangkan ikan yang masih hidup akan melawan arus. Demikian juga kehidupan orang percaya. Kompromi itu mudah. Tetapi tetap setia kepada Tuhan sering kali harus melawan arus dunia ini. Saat semua orang berlutut. Hanya Mordekhai yang tetap berdiri. Bukan karena keras kepala. Bukan karena ingin terkenal. Tetapi karena ia lebih takut kepada Tuhan daripada kepada manusia. Hari ini Firman Tuhan mengajak kita belajar sebagaimana tema minggu ini: Tetap setia di tengah tekanan.
Mengapa Mordekhai tidak berlutut? Di dalam ayat 2 dipakai kata ×›ָּרַ×¢ (karaÊ¿), bukan sekedar berlutut; kata ini dipakai untuk tindakan sujud yang berkaitan dengan penghormatan yang sangat dalam, penyembahan. Ayat berikutnya juga memakai kata שָׁ×—ָ×” (shachah), yang berarti sujud menyembah, tersungkur dengan wajah ke tanah. Kata ini sangat sering dipakai ketika umat Israel menyembah TUHAN. Artinya, persoalannya bukan sekadar sopan santun atau etika kerajaan. Mordekhai tidak mau memberikan penghormatan yang menggeser tempat Tuhan dalam hidupnya. Mordekhai tidak sedang melawan pemerintah. Ia sedang menjaga kesetiaannya kepada Allah.
Tetapi tekanan mulai datang. Pegawai-pegawai kerajaan berkata, "Mordekhai... semua orang berlutut. Mengapa hanya engkau tidak?" "Haman menjadi sangat geram (panas hatinya)."
Kata Ibrani yang dipakai menggambarkan kemarahan yang menyala-nyala, seperti api yang membakar dari dalam. Kesombongan Haman terluka karena ada satu orang yang tidak mau mengangkat dirinya. Haman tidak lagi berpikir sebagai pemimpin. Ia berubah menjadi orang yang dikuasai dendam. Bahkan ia tidak hanya ingin membunuh Mordekhai. Ia ingin memusnahkan seluruh bangsa Yahudi. Dendam selalu membesar jika tidak dihentikan.
Sahabatku, dalam seluruh kitab Ester, nama Allah hampir tidak disebutkan. Seolah-olah Tuhan diam. Tidak ada mukjizat besar. Tidak ada laut yang terbelah. Tidak ada api dari langit. Tetapi justru di balik keheningan itu, Allah sedang bekerja. Mungkin hari ini ada jemaat yang berkata, "Pendeta... saya sudah lama berdoa. Tuhan seperti diam." Jangan buru-buru menyimpulkan Tuhan tidak bekerja. Mari kitapun peka pada "Haman-Haman modern" yang setiap hari meminta hati kita untuk tunduk.
Ada Haman yang bernama uang.
Ada Haman yang bernama jabatan.
Ada Haman yang bernama popularitas.
Ada Haman yang bernama kenyamanan.
Ada haman yang membuat kita leboh pilih bola daripada ibadah
Tanpa sadar, kita mulai tunduk dan memberikan hati kita kepada semuanya itu.
Hari ini Tuhan bertanya kepada kita: "Kepada siapa sebenarnya engkau sedang menyembah?" Dalam pelayanan gereja, apakah kita melayani karena kasih kepada Kristus, atau karena ingin mendapat posisi, penghargaan, dan tepuk tangan? Firman Tuhan hari ini tidak sedang menunjuk orang di luar gereja. Firman Tuhan sedang bercermin kepada kita yang duduk di dalam gereja. Sebagai gereja, kita juga perlu bertanya dengan rendah hati. Apakah kita masih menjadi terang? Atau justru kita sedang mengikuti arus dunia? Kita hidup pada zaman ketika ukuran keberhasilan sering kali bukan lagi kesetiaan, melainkan popularitas. Orang lebih sibuk membangun citra daripada membangun karakter. Lebih takut kehilangan pengikut daripada kehilangan kejujuran. Media sosial pun bisa menjadi tempat tekanan yang besar. Demi mendapatkan "like", "view", atau pujian, orang rela menampilkan kehidupan yang tidak sesuai kenyataan. Sedikit demi sedikit, kita belajar mencari pengakuan manusia lebih daripada mencari perkenanan Allah. Kita rajin bernyanyi, tetapi sulit mengampuni. Kadang kita setia mengikuti ibadah, tetapi belum tentu setia dalam kehidupan sehari-hari. Mordekhai mengajarkan bahwa kesetiaan bukan hanya terlihat ketika berdiri di rumah ibadah. Kesetiaan justru diuji ketika kita berada di pasar, di kantor, di sekolah, di kebun, di laut, di rumah, dalam rapat, dalam pelayanan, dan ketika tidak ada seorang pun yang melihat kita. Sebagai jemaat di Tanah Papua, kita juga dipanggil menjadi saksi Kristus di tengah berbagai tantangan yang kita hadapi. Jangan sampai kita kehilangan kejujuran karena uang. Jangan sampai kita kehilangan persaudaraan karena politik. Jangan sampai kita kehilangan kasih karena perbedaan suku, marga, atau kelompok. Jangan sampai kita kehilangan integritas karena jabatan.
Ingatlah, Tuhan tidak pernah meminta kita menjadi orang yang paling terkenal.
Tuhan tidak meminta kita menjadi orang yang paling kaya.
Tuhan tidak meminta kita menjadi orang yang paling berkuasa.
Tetapi Tuhan meminta kita tetap setia.
Marilah kita kembali berdiri di hadapan Tuhan. Sebab kasih karunia-Nya selalu membuka jalan bagi orang yang mau bertobat. Tuhan tidak mencari orang yang sempurna. Tuhan mencari orang yang tetap setia. Mordekhai memilih tetap berdiri. Bukan karena ia paling kuat. Tetapi karena ia tahu kepada siapa ia harus setia. Hari ini biarlah kita memiliki keberanian seperti Mordekhai: tetap berdiri dengan rendah hati, tetap mengasihi tanpa membalas dendam, dan tetap percaya bahwa sekalipun Tuhan tampak diam, tangan-Nya sedang bekerja. Sebab ikan yang hidup akan terus melawan arus, dan hati yang hidup di dalam Kristus akan tetap setia di tengah tekanan. Amin.


Belum ada Komentar untuk "TETAP SETIA DI TENGAH TANTANGAN (Ester 3:1-15)"
Posting Komentar
Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.