RENUNGAN UNTUK PENGHIBURAN KEDUKAAN (Yakobus 1:2-8)

Suka dan duka, susah dan senang menjadikan hidup penuh warna, penuh rasa dan penuh arti. Untuk menghadapi berbagai keadaan dalam hidup, Yakobus mendorong orang beriman supaya menjadikan pencobaan, tantangan dan pergumulan  sebagai sarana bertumbuh dalam iman, berdoa untuk mendapat hikmat, dan tahan uji di segala situasi.  

 

Salah satu tantangan dan pergumulan yang tidak dapat kita hindari adalah kematian orang yang kita kasihi. Peristiwa kematian menantang kita untuk belajar menerima kehendak Tuhan walaupun kenyataan hidup berbeda dengan keinginan kita. Kematian memang menyebabkan perpisahan dan dukacita namun dukacita menantang kita untuk tahan uji dan bertekun dalam iman. Dukacita juga dapat menjadi sarana untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam hal iman kepada Allah, kasih kepada sesama juga dalam karya dan pelayanan kita setiap hari.  Sebagai orang percaya, kita diajak untuk mengimani bahwa kematian ada dalam kuasa dan rencana Allah. Allah berdaulat baik atas kehidupan maupun kematian.

 

Pembacaan Firman Tuhan ini menghibur dan menguatkan kita untuk bersyukur walaupun mengalami dukacita, untuk tetap berharap dan bergantung pada Allah meskipun ditinggalkan oleh orang yang kita kasihi. Berkenan dengan pengucapan syukur atas kepergian orang terkasih kita maka Firman Tuhan mengingatkan kita untuk tidak berputus asa melainkan hidup bersyukur dan melanjutkan teladan, kerajinan, kasih sayang serta ketekunan yang sudah dilakukan semasa hidup kekasih kita ini.

 

Hendaknya keluarga dan kita semua yang ditinggalkan tapi juga yang bersyukur saat ini, memakai setiap keadaan termasuk dukacita sebagai sarana untuk bertumbuh. Belajarlah dari petatas (ubi) dan batu. Kita tahu batu dan petatas. Batu dan petatas sama – sama keras. Tapi jika kita merebus petatas dan batu dalam air mendidih. Batu tetap keras sedangkan petatas akan menjadi lembut dan enak dimakan. Ketika berbagai peristiwa hidup membawa kita seolah – olah masuk ke dalam panci air yang mendidih, seperti apakah hidup kita? Apakah kita mau dibentuk seperti petatas, meskipun sebelumnya keras tapi setelah direbus menjadi lembut, harum, nikmat untuk disantap? Apakah kita mau mengalami proses Tuhan untuk menjadi bijak dan matang, hangat dan ramah, tahan uji dan menjadi berkat? Ataukah kita tetap keras dan tidak mengalami perubahan apapun bahkan tetap tinggal dalam dosa seperti batu?

 

Situasi buruk, ujian dan pencobaan justru menghasilkan kematangan iman. Itu adalah suatu kebahagiaan. Tapi  Yakobus menegaskan bahwa berbagai – bagai pencobaan yang dimaksud bukanlah pencobaan – pencobaan yang terjadi karena kita melakukan dosa melainkan karena kita melakukan kehendak Tuhan. Orang beriman perlu kepekaan membedakan kehendak Tuhan dan kekuatan untuk melaksanakannya dengan taat. Mau dibentuk dalam ujian ataukah keraskan hati.

 

Memang dalam dukacita dan situasi sedang dicobai, iman kita tergoncang. Surat Yakobus menasihatkan agar kita meminta hikmat Tuhan. Hikmat Tuhan akan menuntun kita untuk tetap fokus pada Tuhan. Jika kita focus pada Tuhan maka situasi apapun yang terjadi dalam hidup kita tidak menggoyahkan iman kita. Kita tetap bersyukur meskipun berduka. Kita tetap menaruh pengharapan kepada Allah sekalipun bersedih. Kita tetap percaya pemeliharaan Allah meskipun orang terkasih kita tidak lagi bersama kita.

 

Fokus kepada Tuhan memampukan kita untuk melihat dan mengalami kebaikan – kebaikan Tuhan di tengah peristiwa tak menyenangkan dalam hidup. Saat kita fokus kepada Tuhan maka kita memiliki sikap pemenang. Ketika berhadapan dengan masalah besar kita tidak berkata : “Tuhan, saya sedang mengalami masalah besar”. Tapi kita berkata: “Hey, masalah besar, saya punya Tuhan yang lebih besar”. Yakobus katakan “berbahagialah kamu jika mengalami pencobaan” dan itu menghasilkan iman yang tekun dan tahan uji. Selamat bersyukur meskipun berduka. Tuhan memberkati

 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "RENUNGAN UNTUK PENGHIBURAN KEDUKAAN (Yakobus 1:2-8)"

Posting Komentar

Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.

YANG PALING BARU

MENJADI SEKUTU ALLAH (Rut 1:15-22)

ABOUT ME

Foto saya
Waropen, Papua, Indonesia
Menemukan PELANGI dalam hidup sendiri dan menjadi PELANGI di langit hidup sesama. Like and Subscribe my youtube channel: DEAR PELANGI CHANNEL

Iklan

Display

Inarticle

Infeed