RANCANGAN KHOTBAH: BEKERJA MENYATU MEMPERLIHATKAN KEPEDULIAN TUHAN (Keluaran 5:1-24)
Allah adalah Allah yang peduli. Kepedulian Allah tidak dipengaruhi dan dibatasi oleh situasi duniawi sebab itu umat bekerja menyatu untuk meresponi kepedulian Allah.
Tujuan yang akan dicapai:
Jemaat dapat memahami bahwa Allah peduli dan tetap bekerja di tengah penolakan dan tekanan hidup. Penderitaan bukan sebagai tanda Tuhan menjauh, tetapi sebagai bagian dari proses pembentukan iman. Waktu dan rencana Tuhan tetap yang terbaik.
Konteks saat itu:
Kitab Keluaran merupakan kelanjutan dari kisah dalam Kitab Kejadian. Pada akhir Kejadian, keluarga Yakub (Israel) menetap di Mesir karena kelaparan. Mereka awalnya dihormati karena jasa Yusuf, namun generasi berikutnya mengalami penindasan (Kel. 1:8–14). Bangsa Israel diperbudak dan dipaksa kerja rodi untuk membangun kota-kota. Dalam situasi inilah Tuhan memanggil Musa untuk membebaskan umat-Nya. Musa bersama Harun diutus menghadap raja Mesir. Keluaran 5 adalah konfrontasi pertama antara Musa dan Firaun setelah panggilan Tuhan itu. Pasal ini menempatkan umat Tuhan dalam ketegangan antara janji dan realitas — sebuah konteks yang sering juga kita alami dalam kehidupan iman saat ini.
Kaitan dengan PB dan Yesus:
Dalam Keluaran 5, Musa tampil sebagai [emimpin yang diutus Allah untuk membawa Israel pada pembebasan dari perbudakan Mesir. Dalam Perjanjian Baru, Yesus hadir sebagai Pembebas sejati dari perbudakan dosa. Keluaran 5 menunjukkan bahwa sebelum pembebasan terjadi, penindasan dan penderitaan semakin meningkat. Demikian pula, sebelum kemenangan salib, Yesus mengalami penderitaan yang hebat. Namun penderitaan bukanlah akhir cerita. Keluaran 5 bukan akhir dari kisah Israel. Demikian juga salib bukan akhir dari kisah Yesus. Ada kebangkitan, ada kemenangan. Keluaran 5 mengajarkan bahwa pembebasan sejati sering diawali pergumulan. Perjanjian Baru menegaskan bahwa di dalam Yesus Kristus, pembebasan itu menjadi sempurna dan kekal.
Penjelasan Teks:
Ayat 1-3: Allah Peduli Meski Dunia Menolak
Musa dan Harun menghadap Firaun. Sesuai Otoritas Allah, mereka meminta agar umat Israel dibiarkan pergi untuk menyembah Tuhan. Musa dan Harun berdiri sebagai utusan Allah, bukan sebagai pemberontak politik. Pada bagian ini, identitas Allah ditegaskan – “TUHAN, Allah Israel.” Di tengah bangsa Mesir yang penuh dewa-dewi, Allah menyatakan diri sebagai Pribadi yang hidup dan berdaulat atas umat-Nya. Ini adalah konfrontasi Allah Israel berhadapan dengan kekuasaan duniawi: Firaun. Israel disebut sebagai umat Tuhan. Tuhan menegaskan kepemilikan. Israel bukan milik Firaun, bukan milik sistem perbudakan, melainkan milik Allah. Israel hendak mengadakan perayaan bagi Allah. Pembebasan bertujuan menyembah Tuhan. Tuhan peduli bukan hanya pada kondisi fisik umat (bebas dari perbudakan), tetapi juga kondisi rohani mereka (bebas untuk beribadah). Di sini terlihat kepedulian Tuhan: Ia ingin umat-Nya hidup dalam relasi penyembahan, bukan dalam penindasan.
Ayat 4-21: Bekerja Menyatu di Tengah Tekanan
Firaun berkata bahwa Musa dan Harun membuat bangsa itu “melalaikan pekerjaan mereka.” Ia menuduh mereka sebagai pengacau. Musa dan Harun digambarkan sebagai penyebab masalah. Firaun melihat umat hanya sebagai tenaga kerja. Ia berkata bahwa rakyat itu banyak dan Musa membuat mereka berhenti bekerja. Artinya, Firaun takut kehilangan kontrol atas sistem yang menguntungkannya. Firaun memerintahkan agar jerami tidak lagi disediakan, tetapi target jumlah batu bata tetap sama. Tujuan Firaun: supaya bangsa Israel sibuk bekerja dan tidak mengindahkan “perkataan dusta.” Firaun menyebut firman Tuhan sebagai dusta. Mandor-mandor Israel bahkan dipukul ketika target tidak tercapai. Mandor-mandor Israel datang mengadu kepada Firaun. Mereka berkata bahwa mereka diperlakukan tidak adil. Namun Firaun memutarbalikkan fakta dengan menyebut bahwa orang Israellah yang malas. Setelah ditolak Firaun, para mandor bertemu Musa dan Harun. Namun yang terjadi bukan dukungan, melainkan tuduhan. Orang Israel menganggap Musa dan Harun sebagai penyebab penderitaan yang makin berat.
Ayat 22-24: Doa Musa dan Janji Tuhan tentang Pembebasan
Musa bukan membela diri, tetapi kembali kepada Tuhan. Musa berdoa dan bertanya kepada Tuhan: “Mengapa?” Ketika Musa taat kepada panggilan Tuhan, situasi semakin memburuk dan umat Israel semakin ditekan dan mengalami penderitaan. “Mengapakah Engkau menyuruh aku?” Musa mulai meragukan misinya. Ini sangat manusiawi. Pemimpin pun bisa lelah dan mempertanyakan panggilannya ketika hasil belum terlihat. Musa menyampaikan perasaannya secara jujur kepada Tuhan. Keluaran 5 seolah-olah menunjukkan Tuhan bahwa Tuhan belum bertindak namun sebenarnya: Tuhan sedang memperlihatkan siapa Firaun sebenarnya. Tuhan sedang mengajar Israel tentang ketergantungan penuh kepada-Nya. Tuhan sedang membentuk Musa menjadi pemimpin yang matang. Kepedulian Tuhan tidak selalu tampak dalam hasil instan, tetapi dalam penyertaan-Nya di tengah proses.
Roma 5:3-5 Orang percaya dapat bermegah dalam kesengsaraan karena penderitaan menghasilkan ketekunan, ketekunan menghasilkan tahan uji, dan tahan uji menghasilkan pengharapan. Pengharapan ini tidak mengecewakan karena kasih Allah dicurahkan ke dalam hati melalui Roh Kudus.
Mazmur 34:20” “Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu.”
2 Korintus 4:8–9 Ditindas tetapi tidak terjepit; terhempas tetapi tidak binasa.
Roma 8:28 – Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan.
Ilustrasi:
ü Seorang petani ingin menanam benih yang baik. Sebelum benih tumbuh, tanah harus dibajak. Saat dibajak: tanah digemburkan, akar lama tercabut, permukaan terlihat rusak. Namun pembajakan bukan penghancuran, itu persiapan pertumbuhan. Keluaran 5 adalah “pembajakan”. Situasi tampak makin kacau, tetapi Tuhan sedang menyiapkan mujizat besar dalam pasal-pasal berikutnya.
ü Seorang atlet ingin naik level. Pelatihnya menambah beban latihan. Lari lebih jauh. Beban lebih berat. Disiplin lebih ketat. Atlet mungkin merasa: “Latihanya sangat menyiksa!” Namun tanpa tekanan tambahan, kekuatan baru tidak akan terbentuk. Keluaran 5 menunjukkan bahwa sebelum Tuhan menyatakan kuasa-Nya atas Mesir, tekanan diperbolehkan meningkat tapi kekanan bukan tanda Tuhan meninggalkan, melainkan bagian dari proses pembebasan.
ü Penderitaan tidak berarti Tuhan jauh. Allah dapat memakai situasi yang sulit sebagai sarana pembentukan iman dan ketekunan. Pembebasan dalam rencana Allah sering melewati tahap yang tidak mudah dimengerti manusia.
ü Allah adalah pelaku utama dalam sejarah keselamatan. Kelemahan manusia tidak membatalkan rencana Tuhan. Janji Tuhan digenapi di dalam waktu Tuhan yang tepat.
ü Ketika doa terasa seperti ratapan dan harapan mulai melemah, hati kita diundang untuk tetap tinggal di hadapan Tuhan. Kisah ini mengajak jemaat melihat bahwa justru di titik kelemahan, kasih Allah mulai dinyatakan dengan cara yang lebih nyata.
Penutup:
Penolakan Firaun terhadap TUHAN mencerminkan penolakan dunia terhadap Kristus. Penderitaan yang meningkat sebelum pembebasan mengingatkan pada jalan salib sebelum kebangkitan. Ratapan Musa memperlihatkan pergumulan manusia yang kemudian menemukan jawabannya dalam tindakan Allah. Dalam Injil, kasih Allah dinyatakan sepenuhnya ketika Yesus menanggung penderitaan dan Allah menyatakan kemenangan melalui kebangkitan. Dengan demikian, kisah ini mengarahkan kita untuk melihat bahwa pembebasan sejati datang dari tindakan Allah melalui Kristus. Mari menjalani minggu – minggu sengsara Yesus Kristus dalam iman yang sungguh kepada Kristus, gunung batu kehidupan kita. Amin.
Usulan Untuk Ibadah Rayon dan Unsur:
Metode sesuai Buku Manna: Renungan
Aktivitas/Games: "Doa Bergilir: Seruan Musa"
Minta peserta berdoa satu kalimat:
“Tuhan, mengapa…”
“Tuhan, tolong…”
“Tuhan, aku percaya…”
Bawalah keluhan kepada Tuhan adalah bentuk relasi, bukan pemberontakan.
Aktivitas/Games: “Buat Bata Tanpa Jerami”
Alat: Kertas koran / kertas bekas, timer, dan pembatas waktu.
Proses:
ü Peserta dibagi dalam beberapa kelompok.
ü Tantangan pertama: membuat 10 “bata” (gulungan kertas) dalam 3 menit.
ü Tantangan kedua: tetap harus membuat 10 bata, tetapi: Waktu dikurangi, Tidak boleh berbicara, Satu anggota tidak boleh membantu
Refleksi: Bagaimana perasaan saat aturan makin berat? Apa yang dirasakan bangsa Israel? Apa yang kita lakukan saat hidup terasa makin berat?
Pesan rohani: Penderitaan bukan berarti Tuhan tidak bekerja.


Belum ada Komentar untuk "RANCANGAN KHOTBAH: BEKERJA MENYATU MEMPERLIHATKAN KEPEDULIAN TUHAN (Keluaran 5:1-24)"
Posting Komentar
Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.