RANCANGAN KHOTBAH: YUNUS MENYADARI TUHAN PEDULI BANGSA - BANGSA (Yunus 4:1-11)

Gagasan Utama:

Allah adalah Allah yang peduli. Kepedulian Allah tidak terbatas dan tidak dapat dibatasi oleh manusia.

 

Tujuan yang akan dicapai:

Agar jemaat menyadari bahwa Tuhan peduli semua orang dan terus bergerak dalam misi Allah untuk menjangkau semua orang agar mengalami kasih karunia Tuhan.    

 

Konteks saat itu:

Yunus 4:1–11 adalah puncak sekaligus penutup kitab Yunus. Allah peduli Niniwe meskipun mereka bukan bangsa pilihan Allah. Niniwe sudah bertobat secara total dan mendapat keselamatan dari Allah. Ketika Niniwe bertobat dan Tuhan mengampuni mereka dan kisah dilanjutkan pada pasal 4, kembali lagi konflik batin Yunus. Di sinilah pesan utama kitab Yunus ditegaskan: masalah terbesar bukan hanya dosa Niniwe, tetapi sikap hati Yunus.

 

Kaitan dengan PB dan Yesus:

Allah yang mengampuni Niniwe adalah Allah yang sama yang menyambut orang berdosa melalui Yesus. Yesus adalah perwujudan penuh dari belas kasihan Allah. Apa yang Allah mulai dalam kitab Yunus digenapi di dalam Yesus (Mat. 28:19-20). Yunus 4 memperlihatkan hati manusia yang sempit, Perjanjian Baru memperlihatkan hati Allah yang penuh kasih di dalam Yesus Kristus. Yunus tidak tahan melihat musuh diselamatkan. Yesus justru memberikan diriNya agar manusia diselamatkan.

 

Penjelasan Teks:

Ayat 1-3: Kemarahan Yunus

Pasal 4 dibuka dengan kalimat yang mengejutkan: “Hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.” Dalam TB 2 disebutkan Yunus gusar dan marah. Teks Ibrani menggunakan ungkapan רָ×¢ָ×” ×’ְדוֹלָ×” (raah gedolah), yang secara harfiah berarti kejahatan besar atau sesuatu yang sangat buruk. Bagi Yunus, pengampunan Tuhan terhadap Niniwe dianggap sebagai sesuatu yang salah, buruk, bahkan tidak adil. Apa yang bagi Tuhan adalah anugerah, bagi Yunus nilai sebagai masalah besar. Yunus tersinggung secara batin dan merasa Tuhan “keliru”. Ini penolakan batin terhadap keputusan Allah. Yunus menilai kebaikan Tuhan dengan ukuran emosinya sendiri. Kata “marah” berasal dari bahasa Ibrani ×—ָרָ×” (kharah), yang berarti “menyala, terbakar, memanas.” Sangat marah bukan sekadar jengkel. Amarah ini membuat Yunus kehilangan sukacita, kehilangan empati, bahkan kehilangan keinginan hidup. Yunus marah karena Tuhan mengampuni Niniwe yang sudah bertobat. Yunus tahu Tuhan adalah Allah yang pengasih, penyayang, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia. Yunus tidak ingin Niniwe diselamatkan. Bagi Yunus, orang Niniwe adalah musuh, bangsa kejam, penindas Israel. Niniwe pantas dihukum, bukan diampuni. Yunus tahu siapa Tuhan, tetapi tidak siap menerima bahwa kasih Tuhan melampaui batas nasionalisme, luka sejarah, dan kebencian pribadi. Kemarahan Yunus membuatnya sampai berkata, “Lebih baik aku mati daripada hidup.” Doa Yunus berisi pelampiasan kemarahan dan luka hati. Ketika hati dikuasai ego dan kepahitan, hidup pun terasa tidak berarti.

 

Ayat 4-5: Undangan untuk Introspeksi diri

Tuhan tidak langsung menghukum Yunus. Tuhan bertanya, “Layakkah engkau marah?” Ini bukan pertanyaan untuk mencari informasi, melainkan undangan untuk merenung. Tuhan memberi ruang bagi Yunus untuk menyadari kesalahannya. Tapi Yunus tidak menjawab. Ia memilih keluar kota, duduk di timur Niniwe, dan menunggu apa yang akan terjadi. Yunus masih berharap penghukuman terjadi. Secara fisik Yunus dekat dengan karya Tuhan, tetapi secara hati jauh dari kehendak-Nya.

 

Ayat 6-11: Kepedulian Tuhan

Tuhan menumbuhkan pohon jarak untuk menaungi Yunus dari panas matahari. Yunus sangat bersukacita karena pohon itu. Namun keesokan harinya, Tuhan mengirimkan ulat yang membuat pohon itu layu, lalu angin panas yang menyengat. Yunus kembali marah dan ingin mati. Yunus sangat peduli pada pohon yang tidak ia tanam dan tidak ia pelihara, tetapi tidak peduli pada 120.000 orang Niniwe yang tidak tahu membedakan tangan kanan dan kiri, bahkan ternak-ternak mereka. Tuhan mengajar Yunus. Pohon jarak menjadi alat pendidikan rohani. Tuhan menunjukkan betapa sempitnya kepedulian Yunus: ia lebih mengasihi kenyamanannya daripada sesamanya.

Puncak kitab Yunus ada pada pertanyaan terakhir Tuhan: “Masakan Aku tidak akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang…?” Ini adalah deklarasi misi Allah. Tuhan bukan hanya Allah Israel, tetapi Allah segala bangsa. Kasih Tuhan selalu tertuju kepada seluruh umat manusia. Niniwe memang jahat, tetapi mereka bertobat. Dan Tuhan lebih memilih pertobatan daripada kebinasaan. Kasih Allah lebih besar daripada dosa manusia, dan belas kasih-Nya tidak dapat dibatasi oleh manusia. Kitab Yunus berakhir tanpa jawaban dari Yunus. Seolah-olah pertanyaan itu juga ditujukan juga kepada setiap pembaca kitab Yunus: apakah kita mau memiliki hati seperti Yunus, atau hati seperti Tuhan?

 

Referensi lain dalam Alkitab:

Keluaran 34:6–7 “TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih setia dan kesetiaan…”

Yehezkiel 33:11 “Aku tidak berkenan pada kematian orang fasik, melainkan supaya ia bertobat dan hidup.”

Pengkhotbah 7 : 9 “ Janganlah lekas- lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh”

Matius 28:19 – 20 Segala bangsa menjadi alamat Pekabaran Injil

Lukas 15:7 “Akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat…”

 

Ilustrasi:

ü Seorang Kakek menjemur cengkeh, dalam situasi hujan dan panas bergantian. Ia marah dan kesal dengan cuaca yang tidak menentu dan membuatnya lelah. Ada banyak situasi yang terjadi di sekitar kita yang kadang membuat kita kesal. Kita ingin keadaan atau situasi tersebut dapat kita kendalikan menurut cara atau pandangan kita. Dan saat sesuatu terjadi tidak sesuai ekpektasi, kita lantas marah dan kecewa. Padahal kemarahan kita, kekecewaan kita tidak akan merubah situasi yang terjadi.

ü Seseorang menanam hidroponik di rumah. Ia sangat senang saat tanaman tumbuh cepat, tetapi marah ketika listrik mati dan pompa berhenti sehingga tanaman layu.Ia lupa bahwa hidup tanaman bukan hanya soal usahanya, tetapi anugerah. Seperti Yunus dan pohon jarak: Tuhan memberi, Tuhan mengambil, untuk mendidik hati.

 

Aplikasi:

ü Kasih Allah melampaui segala batas. Anugerah Allah tidak bisa dimonopoli oleh sekelompok manusia. Allah bukan hanya Allah Israel, tetapi Allah segala bangsa. Dalam hidup sehari-hari, kita sering kecewa ketika doa tidak dijawab sesuai keinginan kita, atau ketika orang yang menurut kita “tidak layak” justru diberkati. Percayalah Allah menyediakan berkat yang indah bagi setiap orang secara special.

ü Seseorang bisa melayani Allah, namun belum mengasihi seperti Allah mengasihi. Kita ingin orang lain dihukum, sementara kita ingin diampuni. Kita menuntut perubahan cepat dari orang lain, tapi meminta kesabaran bagi diri sendiri.

ü Allah mendidik umat-Nya dengan kesabaran. Tuhan bisa memakai situasi nyaman dan tidak nyaman untuk mendidik kita. Ketika kenyamanan dicabut, itu bisa menjadi sarana pembentukan, bukan hukuman.

 

ü Allah berdaulat dalam kasih dan pengampunan. Tuhan peduli pada semua bangsa, semua orang, tanpa kecuali. Kepedulian Tuhan melampaui batas budaya, dosa masa lalu, dan reputasi. Kita dipanggil untuk memiliki hati yang luas seperti hati Tuhan. Jangan cepat menghakimi. Belajarlah berbelas kasih. Jadilah alat Tuhan untuk menghadirkan pengampunan dan harapan.

ü Allah tidak hanya ingin kita taat, tetapi ikut peduli. Kita bisa sangat peduli pada hal kecil yang menyentuh kepentingan pribadi, namun acuh terhadap keberadaan orang lain. Kita seringkali mudah mengasihi yang seiman, sesuku, sepemikiran tapi sulit mengasihi yang berbeda, menyakiti, atau mengecewakan kita. Mari melatih kepedulian nyata: mendengar, mendoakan, dan menolong sesama dan alam tanpa membedakan.

 

Penutup:

Kita dipanggil bukan hanya untuk memberitakan Injil, tetapi juga untuk memiliki kepedulian seperti Allah. Tuhan peduli pada mereka yang berbeda suku, budaya, latar belakang, bahkan mereka yang pernah melukai kita. Pertobatan sejati bukan hanya perubahan perilaku orang lain, tetapi perubahan hati kita sendiri. Mari terus bertumbuh dalam kasih yang luas. Biarlah kita menjadi umat yang bersukacita melihat orang lain diselamatkan, bukan iri atau marah.  Tuhan sungguh peduli pada bangsa-bangsa, dan Ia memanggil kita untuk memiliki hati yang sama. Amin.

 

 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "RANCANGAN KHOTBAH: YUNUS MENYADARI TUHAN PEDULI BANGSA - BANGSA (Yunus 4:1-11)"

Posting Komentar

Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.

ABOUT ME

Foto saya
Sorong, Papua Barat Daya, Indonesia
Menemukan PELANGI dalam hidup sendiri dan menjadi PELANGI di langit hidup sesama. Like and Subscribe my youtube channel: DEAR PELANGI CHANNEL

Iklan

Display

Inarticle

Infeed