RANCANGAN KHOTBAH: ALLAH PEDULI KITA SEPERTI ALLAH PEDULI ABRAHAM DAN SARA (Kejadian 18:1-15)
Allah adalah Allah yang peduli, yang menghendaki umatNya hidup dalam kepedulian.
Tujuan yang akan dicapai:
Agar jemaat hidup dalam keramahtamahan serta percaya bahwa Allah setia pada janjiNya dan tiada yang mustahil bagi Allah.
Konteks saat itu:
Kejadian 18:1–15 berada dalam rangkaian kisah perjanjian Allah dengan Abraham. Kisah perjanjian itu dimulai dari Kejadian 12: Abram dipanggil keluar dari Ur, dijanjikan menjadi bangsa besar. Kejadian 15: Allah meneguhkan perjanjian tentang keturunan. Kejadian 17: Abram diubah namanya menjadi Abraham; Sarai menjadi Sara; Tanda perjanjian sunat diberikan; Janji kelahiran seorang anak dari Sara ditegaskan, meski usia mereka sudah lanjut. Jjanji itu sudah lama diucapkan, tetapi belum terwujud. Kejadian 18 menjadi titik di mana janji itu ditegaskan kembali secara sangat pribadi dan konkret.
Kaitan dengan PB dan Yesus:
Kejadian 18:1–15 punya benang merah dengan Perjanjian Baru, bahkan sangat kuat mengarah kepada Yesus. Bagian ini bukan hanya kisah tentang Abram dan Sara, tetapi juga bayangan awal karya Allah yang digenapi dalam Kristus. Beberapa kaitan itu: Allah yang datang Mendekat → Allah yang Menjadi Manusia (Yesus). “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita” (Yohanes 1:14). Janji tentang Kelahiran yang Mustahil → Kelahiran Yesus yang dari Roh Kudus. Isak lahir dari Rahim Sara yang sudah lanjut usia. Yesus lahir dari rahim perempuan muda Maria. Keduanya menegaskan: keselamatan adalah karya Allah, bukan kemampuan manusia.
Ayat 1-8: Allah peduli dan hadir dalam kehidupan sehari - hari
Kejadian 18 dibuka dengan kalimat yang sangat sederhana namun penuh makna: “Kemudian TUHAN menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre, sedang ia duduk di pintu kemah pada waktu hari panas.” Pohon tarbantin (Ibrani: ’êlôn atau ’êlāh) adalah sejenis pohon besar dan kuat dengan ciri utama: batang besar dan kokoh, umur sangat panjang, cabang pohon menyebar luas dan rimbun sehingga menjadi tempat berteduh yang memberi naungan sejuk di daerah panas dan kering. Pohon tarbantin menjadi simbol keteguhan, perlindungan, dan perjumpaan dengan Allah. Allah tidak menampakkan diri kepada Abraham di tengah peristiwa spektakuler, melainkan di saat yang sangat biasa—di pintu kemah, pada waktu hari panas. Abraham masih tinggal di kemah. Sesungguhnya Abraham telah berada di Kanaan, negeri yang dijanjikan tetapi Abraham masih berpindah - pindah wilayah: Sikhem, Betel, Mamre. Abraham menyambut ketiga tamu itu dengan penuh perhatian: ia berlari menyongsong mereka, menyediakan air, roti, dan makanan terbaik. Sikap Abraham yang menyambut mereka dengan ramah adalah bentuk keramahtamahan umumnya di Israel. Abraham melayani tanpa syarat, bukan karena tahu siapa mereka, tetapi karena hatinya memang terbuka dan peduli. Tradisi Israel dalam hal menyambut tamu yakni tuan rumah yang baik akan berinisiatif untuk menyambut tamu. Menunda menyambut tamu dianggap tidak sopan dan memalukan. Karena perjalanan jauh dilakukan dengan berjalan kaki dan sandal terbuka maka membasuh kaki dan memberi air adalah kebutuhan dasar. Itu tanda penghormatan dari tuan rumah. Menyediakan makanan biasanya yang terbaik. Abraham berkata hanya akan memberi “sepotong roti”, tetapi kemudian menyajikan: roti dari tepung terbaik, anak lembu yang empuk dan baik, susu dan dadih (Kej. 18:6–8). Ucapan sederhana, tetapi tindakan berlimpah. Memberi makanan terbaik adalah ekspresi kehormatan dan sukacita menerima tamu. Tuan rumah melayani, bukan dilayani. Abraham berdiri di dekat mereka di bawah pohon saat mereka makan (Kej. 18:8). Ini menunjukkan sikap: rendah hati, siap melayani, bertanggung jawab atas kenyamanan tamu. Dalam tradisi Israel, tuan rumah tidak duduk santai sementara tamu bekerja sendiri. Abraham dan Sara serta bujang mereka, sama – sama menyambut tamu dan memberi pelayanan terbaik. Sikap Abraham dan Sara menunjukkan bahwa hati yang peka adalah hati yang terbuka untuk melayani dan peduli. Keramahtamahan bukan sekedar tradisi tapi juga ketaatan iman.
Ayat 9-15: Janji Yang Tampak Mustahil bagi manusia tapi tidak mustahil bagi Allah
Tamu – tamu itu bertanya, “Di manakah Sara, isterimu?” Di Israel, perempuan berada di dalam kemah, tidak ikut duduk bersama tamu. Pertanyaan ini bukan karena Allah tidak tahu, melainkan karena Allah ingin menegaskan bahwa perhatian-Nya tertuju bukan hanya kepada Abraham, tetapi juga kepada Sara. Kemudian Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku akan kembali kepadamu tahun depan, dan Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki.” Ada peralihan dari tamu yang 3 orang Malaikat menjadi Tuhan yang berfirman. Abraham diajak bergerak menuju kesadaran bahwa Allah sendirilah yang hadir. Allah bisa hadir secara sederhana. Allah dapat berbicara melalui kehadiran bersama malaikat-Nya, tetapi otoritas firman tetap milik Allah sendiri.Janji ini sebenarnya bukan hal baru. Allah telah menyampaikannya sebelumnya. Namun kini, janji itu diulangi dengan penegasan waktu: tahun depan.
Sara tertawa dalam hatinya. Tertawa bukan karena sukacita, tetapi karena keraguan. Secara manusiawi, reaksi Sara sangat masuk akal: ia sudah tua, haidnya telah berhenti, dan harapan itu terasa tidak realistis. Namun yang menarik, Allah tidak langsung menegur dengan keras atau menghukum Sara. Allah justru menyingkapkan isi hati Sara dengan penuh kelembutan. Kepedulian Allah terlihat dari kesediaan-Nya menghadapi keraguan manusia. Pernyataan Tuhan ini menjadi pusat dari seluruh perikop: “Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk TUHAN?” Allah mengingatkan Abram dan Sara bahwa kedaan dan situasi manusia tidak bisa membatasi kuasa Allah. Kepedulian Allah bukan hanya perasaan simpati, tetapi kuasa nyata yang sanggup mengubah keadaan. Sara menyangkal bahwa ia tertawa, karena takut. Namun Tuhan berkata, “Tidak, engkau memang tertawa.” Ini bukan teguran yang menghancurkan, melainkan ajakan untuk jujur di hadapan Allah.
Referensi lain dalam Alkitab:
Lukas 1:37 “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”
Mazmur 145:18 “TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya.
Pengkhotbah 3:11 “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.”
Bilangan 23:19 “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta… masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya?”
Yosua 21:45 “Dari segala yang baik yang dijanjikan TUHAN… tidak ada yang tidak dipenuhi.”
Ilustrasi:
ü Pernah melihat tanda “typing (sedang mengetik)…” di chat, lalu tiba-tiba hilang? Kita bertanya-tanya: “Jadi atau tidak?” Dalam hidup, sering kali kita merasa Tuhan sedang “typing”, tapi tidak meneruskan pesannya. Kita menanti dan menunggu. Sara menunggu lama—sangat lama—hingga ia pikir Tuhan sudah berhenti berbicara. Diamnya Tuhan bukan berarti Tuhan lupa atau Tuhan tidak bekerja. Janji Tuhan selalu digenapi bagi rencanaNya yang indah.
ü Di WhatsApp kita bisa arsipkan pesan. Jika arsip tidak dibuka maka pesan tidak dibaca dan bisa terlewatkan atau terlupakan. Kerinduan Sara tentang anak seperti pesan yang diarsipkan. Harapan punya anak sudah lama “diarsipkan”. Ketika Tuhan berbicara lagi tentang janji itu, Sara tertawa. Sara tak lagi melihat harapan itu. Manusia bisa mengarsipkan harapan, tetapi Tuhan tidak pernah melupakan janjiNya.
Aplikasi:
ü Allah bukan Allah yang jauh dan tersembunyi, melainkan Allah yang berinisiatif hadir dalam kehidupan manusia. Allah berkenan menyatakan diriNya dalam keseharian hidup manusia. Kehadiran Allah sering kali datang melalui hal-hal yang tampak biasa, bukan selalu spektakuler.
ü Keramahan bukan sekadar etika, tetapi tindakan iman. Iman yang sejati terwujud dalam tindakan kasih yang konkret kepada semua orang.
ü Allah setia pada janji-Nya, meskipun manusia mulai lelah menunggu. Janji Allah tidak dibatalkan oleh usia, keterlambatan, atau ketidakmampuan manusia. Waktu Allah tidak tunduk pada logika manusia. Dalam hidup kita, ada janji Tuhan yang mungkin terasa lama digenapi: kesembuhan, pekerjaan, pemulihan keluarga, atau masa depan yang lebih baik. Firman hari ini menegaskan bahwa keterlambatan menurut manusia bukan berarti Allah tidak setia pada janjiNya.
ü Allah bekerja melampaui keraguan manusia. Sering kali kita juga seperti Sara—tersenyum di luar, tetapi di dalam hati penuh tanya dan ragu. Kita tetap berdoa, tetapi hati kecil kita berkata, “Mungkinkah?” Sesunggunya, Allah tidak meninggalkan kita disaat iman yang rapuh. Ia peduli, memahami keterbatasan kita, dan tetap bekerja.
ü Allah mengenal isi hati manusia, bukan hanya ucapan bibir. Tidak ada yang tersembunyi di hadapan Allah. Allah mengetahui keraguan kita, tetapi tetap mengajak kita berjalan dalam janji-Nya. Allah peduli bukan hanya pada hasil akhir, tetapi juga pada proses iman kita. Ia ingin kita bertumbuh, belajar percaya, dan berani jujur tentang ketakutan dan keraguan kita.
Penutup:
Allah adalah Allah yang peduli secara utuh: Ia hadir, Ia mendengar, Ia mengingat janji-Nya, Ia memahami keraguan kita, dan Ia bertindak dengan kuasa-Nya. Apa pun kondisi hidup kita hari ini—entah sedang menunggu, lelah, ragu, atau hampir menyerah—ingatlah satu kebenaran ini: Allah peduli kita, seperti Allah peduli Abram dan Sara. Mari membuka hati, tetap setia melayani, dan percaya bahwa pada waktu-Nya yang tepat, Allah akan menyatakan janji-Nya dengan indah. Amin.
Usulan Untuk Ibadah Rayon dan Unsur:
Metode sesuai Buku Manna:
Aktivitas/Games: "Mendengar Janji Tuhan"
Tujuan: Mendengar suara Tuhan dengan hati tenang
Proses:
ü Peserta duduk diam selama 1–2 menit.
ü Pemimpin membacakan ayat perlahan: Kejadian 18:10
ü Peserta menuliskan satu kata yang paling menguatkan.
Refleksi: Tuhan berbicara bukan hanya lewat keajaiban, tapi lewat janji-Nya. Mendengar Tuhan perlu keheningan dan kesiapan hati.
Aktivitas/Games: “Janji yang ditunggu”
Dasar Alkitab: Kejadian 18:10–14
Tujuan: Umat belajar kesabaran dan pengharapan
Proses:
ü Peserta diberikan kertas kosong dan diminta menuliskan satu hal yang sedang mereka nantikan dalam doa.
ü Kertas dikumpulkan dan didoakan bersama.
Refleksi: Janji Tuhan sering datang setelah penantian panjang. Penantian tidak sia-sia jika disertai iman.


Belum ada Komentar untuk "RANCANGAN KHOTBAH: ALLAH PEDULI KITA SEPERTI ALLAH PEDULI ABRAHAM DAN SARA (Kejadian 18:1-15)"
Posting Komentar
Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.