PERJAMUAN KUDUS: KRISTUS YANG HIDUP HADIR DI TENGAH JEMAATNYA (Wahyu 1:9-20)
Kita menjadi orang – orang yang berbahagia sebab pada awal tahun ini, sebagai Anggota Sidi Jemaat, kita mengingat pengakuan dan janji kita masing – masing; pengakuan dan janji untuk setia di sekitar pelayanan Firman dan sakramen. Di tahun 2026 ini, kita punya rencana dan harapan – harapan baru dan Perjamuan Kudus ini menjadi penanda yang penting. Kita tidak hanya mengingat apa yang telah Kristus lakukan di masa lalu, tetapi kita juga diteguhkan bahwa Kristus yang bangkit itu hidup dan hadir di tengah jemaat-Nya hari ini. Tema kita: Kristus Yang Hidup Hadir di Tengah JemaatNya.
Firman Tuhan dari Wahyu 1:9–20 meneguhkan iman kita akan kehadiran Kristus yang hidup, yang menyertai gereja-Nya di sepanjang perjalanan waktu. Rasul Yohanes menulis kitab Wahyu ketika ia berada di pulau Patmos. Yohanes diasingkan karena kesaksiannya tentang Yesus (ay. 9). Ia berada dalam penderitaan, keterasingan, dan ketidakpastian. Namun justru di tempat yang sunyi dan terbuang itulah Yohanes mengalami perjumpaan yang agung dengan Kristus yang bangkit. Ini mengingatkan kita bahwa kehadiran Kristus tidak dibatasi oleh tempat, keadaan, atau situasi. Di awal tahun ini, mungkin ada di antara kita yang merasa “terasing” oleh masalah hidup, kesulitan ekonomi, pergumulan keluarga, atau kelelahan rohani. Firman Tuhan menegaskan: Kristus hadir justru di tengah kondisi seperti itu.
Dalam penglihatan Yohanes, Kristus menampakkan diri sebagai Anak Manusia yang berdiri di tengah-tengah tujuh kaki dian emas (ay. 12–13). Kaki dian melambangkan tujuh jemaat, yaitu gereja Tuhan. Gambaran ini sangat kuat: Kristus tidak berdiri jauh dari gereja-Nya, tidak mengamati dari kejauhan, tetapi hadir di tengah-tengah jemaat. Artinya, kehidupan gereja, ibadah, pelayanan, dan pergumulan umat Tuhan tidak pernah lepas dari perhatian Kristus. Ketika kita berkumpul dalam Perjamuan Kudus, kita percaya bahwa Kristus yang hidup itu sungguh hadir di tengah-tengah kita, meneguhkan, menyembuhkan, dan memperbarui iman kita.
Penampilan Kristus yang digambarkan Yohanes penuh dengan makna: jubah yang panjang dan ikat pinggang emas menunjukkan kemuliaan dan keimaman-Nya; rambut-Nya putih seperti bulu domba melambangkan kekekalan dan hikmat ilahi; mata-Nya seperti nyala api menunjukkan bahwa Ia melihat segala sesuatu dengan kebenaran; dan suara-Nya seperti desau air bah menyatakan kuasa firman-Nya (ay. 13–16). Kristus yang kita sambut dalam Perjamuan Kudus bukanlah Kristus yang lemah atau jauh, melainkan Tuhan yang mulia dan berkuasa, yang mengenal hidup kita sepenuhnya.
Reaksi Yohanes ketika melihat Kristus adalah tersungkur seperti orang mati (ay. 17). Ini menunjukkan kekudusan dan kemuliaan Kristus yang melampaui pemahaman manusia. Namun Kristus tidak membiarkan Yohanes tinggal dalam ketakutan. Ia meletakkan tangan kanan-Nya ke atas Yohanes dan berkata: “Jangan takut!” Kata-kata ini sangat penting di awal tahun. Kristus yang hidup datang untuk menguatkan, untuk menyelamatkan. Dalam Perjamuan Kudus, kita datang dengan segala kelemahan dan dosa, tetapi kita disentuh oleh kasih karunia Kristus yang berkata kepada kita: “Jangan takut, Aku menyertai engkau.”
Kristus menyatakan diri-Nya: “Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut” (ay. 17–18). Pernyataan ini menjadi dasar pengharapan kita. Di awal tahun, kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi, tetapi kita mengenal Dia yang memegang kendali atas hidup dan mati, atas awal dan akhir. Perjamuan Kudus mengingatkan kita akan kematian Kristus, tetapi sekaligus meneguhkan kebangkitan-Nya. Kita makan roti dan minum dari cawan sebagai perayaan kemenangan Kristus atas dosa dan maut.
Kristus juga digambarkan memegang tujuh bintang di tangan kanan-Nya (ay. 16, 20), yang melambangkan para malaikat atau utusan jemaat. Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan, pelayanan, dan arah gereja berada di dalam tangan Kristus sendiri. Gereja bukan milik manusia, bukan milik satu generasi, melainkan milik Kristus yang hidup. Di awal tahun ini, kita menyerahkan kembali seluruh kehidupan jemaat, pelayanan, dan kesaksian kita ke dalam tangan-Nya yang setia.
Mari pandang pada Kristus yang hidup dan hadir di tengah jemaat-Nya. Kita datang dengan iman, menerima roti dan anggur sebagai lambang tubuh dan darah-Nya, sambil percaya bahwa Kristus menyertai kita dalam setiap langkah tahun yang baru ini. Biarlah perjamuan Kudus menguatkan kita untuk hidup setia, berani bersaksi, dan tekun berjalan bersama Kristus, Tuhan yang hidup, yang ada di tengah-tengah jemaat-Nya, kini dan selama-lamanya. Amin.


Belum ada Komentar untuk "PERJAMUAN KUDUS: KRISTUS YANG HIDUP HADIR DI TENGAH JEMAATNYA (Wahyu 1:9-20)"
Posting Komentar
Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.