RANCANGAN KHOTBAH: KEPEDULIAN TUHAN DALAM PENGUTUSAN MUSA (Keluaran 6:1-12)

Gagasan Utama:

Allah adalah Tuhan yang setia pada perjanjianNya, Tuhan yang bertindak untuk menyelamatkan umatNya dan Tuhan yang meneguhkan pengutusan hambaNya di tengah situasi yang sulit.

 

Tujuan yang akan dicapai:

Jemaat memahami bahwa Allah peduli dengan kuasaNya yang membebaskan, oleh sebab itu umat mesti tetap percaya walaupun situasi belum berubah

 

Konteks saat itu:

Keluaran 6:1–12 adalah jawaban Allah atas kekecewaan Musa dan keluhan umat. Ini adalah bagian peneguhan dan pembaruan janji. Allah menyingkapkan diriNya sebagai TUHAN yang mengingat perjanjian, mendengar keluh kesah umat dan Allah yang bertindak menyelamatkan. Allah menegaskan kembali perjanjianNya, menyatakan namaNya sebagai TUHAN (YHWH), dan berjanji membebaskan umatNya dengan tangan yang teracung dan hukuman-hukuman yang berat.

 

Kaitan dengan PB dan Yesus:

Dalam Keluaran 6, Allah menyatakan diri sebagai Allah yang setia menepati perjanjian dan bertindak menyelamatkan. Dalam Perjanjian Baru, Yesus adalah penyataan Allah yang sempurna. “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yohanes 14:9). Yesus adalah Allah yang menyatakan diri menjadi manusia dan mengerjakan keselamatan bagi manusia dalam pengorbananNya di Salib. Jika Israel ditebus dari perbudakan fisik di Mesir, maka melalui Yesus kita ditebus dari perbudakan dosa. Dalam Injil Markus 10:45 tertulis bahwa Anak Manusia datang untuk “memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Jika di Keluaran Allah berkata, “Aku adalah TUHAN,” maka dalam Yesus kita melihat sepenuhnya siapa TUHAN itu: Allah yang setia, Allah yang menebus, Allah yang mengangkat umatNya menjadi milik kepunyaanNya. Jika di Keluaran Allah mengikat perjanjian dengan satu bangsa, maka dalam Yesus Allah membuka perjanjian keselamatan bagi segala bangsa.

 

Penjelasan Teks:

Ayat 1-4: Allah Setia pada perjanjianNya

Bagian ini diawali dengan deklarasi penyataan diri Tuhan: “Akulah TUHAN.” Dalam bahasa Ibrani digunakan nama YHWH. Ini adalah penyataan identitas Allah sebagai Allah yang hidup dan kudus. Karena begitu kudusnya nama ini, orang Israel tidak boleh mengucapkan namaNya sembarangan. Mereka menggantinya dengan “Adonai” (Tuhan).  YHWH adalah TUHAN semesta alam, Pribadi yang hidup dan bertindak. “Akulah TUHAN”, adalah deklarasi identitas dan otoritas Allah di tengah situasi Israel yang semakin buruk: penindasan makin berat di tangan Firaun, umat yang kehilangan harapan, dan Musa yang merasa tidak percaya diri. “Akulah Tuhan” menegaskan bahwa Tuhanlah yang berkuasa bukan Firaun. Firaun merasa dirinya penguasa tertinggi dan dengan memperberat kerja paksa Israel (Kel. 5), seolah-olah ia sedang berkata, “Akulah yang berkuasa.” Namun dalam Keluaran 6:2, Allah menyatakan: “Akulah TUHAN.” Itu berarti, otoritas tertinggi bukan di tangan Firaun, Allah pegang kendali atas semuanya, kekerasan Firaun tidak membatalkan rencana Tuhan. Pernyataan ini juga untuk meneguhkan Musa. Musa baru saja mengalami kegagalan. Ia sudah taat, tetapi hasilnya buruk. Ia bahkan berkata bahwa “mengapa pula aku yang diutus”, Allah memulai dengan menyatakan diri-Nya. “Akulah TUHAN,” menegaskan bahwa pengutusan Musa adalah dari Tuhan. TUHAN yang mengutus akan menopang dengan kuasaNya. Musa harus lebih mengenal dan percaya pada TUHAN yang punya otoritas dan kuasa yang lebih tinggi dari Firaun. Tuhan juga menegaskan perjanjian dengan Abraham, Ishak, dan Yakub. Bahwa kepada mereka Allah telah menyatakan diri sebagai Allah Yang Mahakuasa (El Shaddai), tetapi sekarang Ia menyatakan nama-Nya sebagai TUHAN — Allah yang mengingat perjanjian dan menggenapinya. Tuhan tidak pernah melupakan janjiNya. Sejak Abraham Tuhan telah merancangkan maksudNya bagi Israel. Ayat 4 menegaskan: “Aku ingat akan  perjanjian-Ku…” Artinya, pembebasan Israel bukan ide baru.

 

Ayat 5-7: Allah Akan bertindak

Bagian ini dimulai dan diakhiri dengan penegasan: Akulah Tuhan. Dalam kuasaNya ada tindak aktif yang akan dilakukanNya.

ü Aku akan membebaskan

ü Aku akan melepaskan

ü Aku akan menebus

ü Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku

ü Aku akan menjadi Allahmu

ü Aku akan membawa kamu ke negeri itu

ü Aku akan memberikannya kepadamu

7 tindakan ini menunjukkan bahwa karya Allah itu utuh, tuntas dan sempurna. Janji Tuhan untuk bertindak adalah janji yang pasti. Tuhan bertindak menyelamatkan yang mencakup  pembebasan, relasi, perjalanan, dan warisan.

 

Ayat 8-12: Allah Meneguhkan Tugas Pengutusan

Musa menyampaikan perkataan Allah itu kepada umat Israel, tetapi umat Israel tidak mendengar karena putus asa dengan beratnya penindasan yang mereka alami. Janji sudah disampaikan, umat tidak merespons dan situasi belum berubah. Tapi di tengah situasi seperti itu: Allah kembali berfirman kepada Musa dan menyuruhnya pergi lagi kepada Firaun. dan sekalipun Musa menyampaikan ketidakmampuannya tetapi ia tetap melaksanakan tugas yang Allah berikan. Ketidakpercayaan umat tidak menghentikan rencana Allah. Kelemahan Musa tidak membatalkan pengutusan. Situasi yang belum berubah tidak menghentikan misi Allah.

 

Referensi lain dalam Alkitab:

Ulangan 7:8 Tuhan membawa Israel keluar dengan tangan yang kuat karena kasih dan sumpah-Nya.

Mazmur 34:17 Orang benar berseru, dan TUHAN mendengar serta melepaskan mereka dari segala kesesakan.

1 Petrus 2:9-10 Umat tebusan yang dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya.

Wahyu 1:5-6 Kristus mengasihi dan membebaskan kita dari dosa oleh darah-Nya.

 

Ilustrasi:

ü Seorang petani menanam benih di ladang. Hari pertama, tidak ada perubahan. Minggu pertama, tetap tidak terlihat apa-apa. Tanah tampak biasa – biasa saja. Tetapi di bawah tanah, benih itu sedang pecah, bertumbuh, dan berakar. Umat Israel dalam Keluaran 6 sedang berada di “bawah tanah” penderitaan. Mereka belum melihat pembebasan. Bahkan ayat 9 berkata mereka tidak mendengarkan Musa karena patah semangat dan perbudakan yang berat. Namun Tuhan sedang bekerja. Proses pembebasan sudah dimulai. Kadang karya Tuhan tidak langsung terlihat, tetapi bukan berarti Tuhan diam.

ü Seseorang yang sedang berdiri di pantai saat badai besar, maka suara orang yang memanggilnya hampir tidak terdengar karena gemuruh ombak. Israel tidak bisa mendengarkan Musa bukan karena tidak mau, tetapi karena hati mereka tertutup oleh penderitaan. Patah semangat membuat suara janji Tuhan terasa jauh. Kadang masalah hidup seperti ombak yang menutupi suara Tuhan. Bukan berarti Tuhan berhenti berbicara — hanya saja kita perlu kembali menenangkan hati untuk mendengar-Nya.

 

Aplikasi:

ü Allah adalah Tuhan yang berkuasa dan pegang kendali dalam setiap situasi. Sebab itu iman dan pengharapan manusia tidak boleh tergantung pada situasi dan keadaan di depan mata tetapi harus sepenuhnya terletak pada pengenalan akan pribadi TUHAN yang penuh kuasa kasih. Dalam diri Yesus Kristus, Allah yang setia pada janjiNya  datang untuk menyelamatakan manusia dari hukuman dosa dan maut.

 

 

 

ü Dalam minggu Sengsara, kita melihat Yesus yang taat sampai mati. Ia diutus oleh Bapa, bukan ke jalan yang mudah, tetapi ke jalan penderitaan. Kepedulian Tuhan bagi dunia diwujudkan melalui pengutusan yang penuh pengorbanan.

ü Jangan menunggu keadaan ideal barulah taat. Sering kita berkata: “Nanti kalau keadaan lebih baik…, “Nanti kalau saya lebih siap…”Tetapi Allah memanggil di tengah ketidakpastian.

ü Jangan biarkan kelemahan menghentikan panggilan. Musa merasa tidak pandai bicara. Namun panggilan Allah lebih besar daripada keterbatasannya. Tetaplah melayani meski respons sesuai harapan. Umat Israel tidak langsung percaya. Firaun tidak langsung tunduk. Tetapi Allah tetap bekerja melalui proses. Tuhan tidak mencari yang sempurna tapi menyertai yang dipilihNya.

 

Penutup:

Tuhan peduli dengan setia pada janji-Nya. Tuhan peduli dengan bertindak melakukan pembebasan bagi umatNya. Tuhan peduli dengan mengutus hambaNya. Minggu Sengsara mengingatkan kita bahwa kepedulian terbesar Tuhan dinyatakan melalui salib Kristus. Di saat dunia melihat penderitaan, Allah sedang mengerjakan pembebasan. Jika tekanan hidup membuat kita lelah dan putus asa, ingatlah: Tuhan berkata, “Akulah TUHAN.” Ia tetap bekerja. Ia tetap setia. Dan Ia tetap menyertai orang – orang yang diutusNya. Amin.

 

Usulan Untuk Ibadah Rayon dan Unsur:

Metode sesuai Buku Manna: Aktivitas Main Peran

Aktivitas/Games: "Tujuh Janji Allah"

Fokus: Ayat 6–8 (Tujuh pernyataan “Aku akan…”)

Proses: Tuliskan tujuh janji Allah di kertas – kertas:

Aku akan membawa kamu keluar

Aku akan melepaskan kamu

Aku akan menebus kamu

Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku

Aku akan menjadi Allahmu

Aku akan membawa kamu ke negeri itu

Aku akan memberikannya kepadamu

Setiap kelompok memilih dan mendapatkan satu janji lalu merefleksikan janji itu dalam kehidupan masing – masing dalam bentuk kesaksian, pantun, puisi atau lagu.

Makna: Allah bukan hanya berjanji kepada Israel, tetapi tetap bekerja dahulu, sekarang dan selama – lamanya.

 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "RANCANGAN KHOTBAH: KEPEDULIAN TUHAN DALAM PENGUTUSAN MUSA (Keluaran 6:1-12)"

Posting Komentar

Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.

ABOUT ME

Foto saya
Sorong, Papua Barat Daya, Indonesia
Menemukan PELANGI dalam hidup sendiri dan menjadi PELANGI di langit hidup sesama. Like and Subscribe my youtube channel: DEAR PELANGI CHANNEL

Iklan

Display

Inarticle

Infeed