BEKERJA MENYATU MEMPERLIHATKAN KEPEDULIAN TUHAN (Keluaran 5:1-24)
Sebuah syair lagu yang populer: Allah mengerti, Allah peduli segala persoalan yang kita hadapi. Tak akan pernah dibiarkannya, kubergumul sendiri s'bab Allah mengerti. Hari ini, ketika kita memasuki Minggu Sengsara pertama, kita diingatkan bahwa penderitaan adalah hakekat hidup Yesus. Penderitaan adalah realitas kehidupan beriman. Kita selamat karena Yesus rela menderita dan mati. Keluaran 5:1–24 memberi pesan untuk kita bahwa dalam derita Tuhan tetap peduli, karena itu dalam derita, umat Tuhan juga mesti saling peduli.
Musa dan Harun menghadap Firaun menyampaikan Firman dari Tuhan. Musa dan Harun membawa Otoritas Ilahi, bahwa Tuhan hendak membebaskan umatNya Israel. Bahasa Ibrani, kata “biarkanlah” berasal dari kata shalach, yang berarti melepaskan, membebaskan, mengirim keluar menuju tujuan ilahi. Firaun menolak otoritas Tuhan. Firaun menjawab: "Siapakah TUHAN itu yang harus kudengarkan firman-Nya?" (ayat 2). Malahan Firaun perintahkan agar beban kerja Israel di tambah. Jerami tidak lagi disediakan. Tetapi jumlah batu bata tetap sama.
Tidak ada seorangpun dari kita yang dengan sengaja mau menderita. Tidak ada penderitaan yang enak. Israel menjadi orang asing di Mesir 430 tahun lamanya. Masa kejayaan dan jasa – jasa Yusuf dilupakan. Dan Israel juga mengalami penindasan. Mereka harus kerja rodi untuk membangun kota Phitom dan Ramses milik Mesir. Israel merindukan pembebasan. Musa dipanggil Tuhan untuk maksud itu. Saat Musa mau taat, kenyataannya umat Israel makin menderita. Mandor – mandor Israel dipukul. Dalam tekanan dan penderitaan itu umat Israel saling menyalahkan.
Ketaatan tidak selalu langsung membuat hidup menjadi mudah. Semakin taat ternyata salib semakin berat. Berkomitmen menjadi orang jujur ternyata masalah muncul. Mau setia melayani tantangan malah silih berganti. Jangan menyerah. Jangan putus asa. Tuhan membentuk kita dalam derita agar menjadi lebih tangguh. Seperti emas yang dimurnikan dengan cara dipanaskan. Emas tidak akan pernah hangus di dapur api.
Justru dapur api akan membuat emas semakin mulia.
Penderitaan dalam persekutuan sering menimbulkan perpecahan. Seperti Israel saling menyalahkan. Ketika keluarga menghadapi kesulitan, kita mulai saling menyalahkan. Ketika gereja menghadapi tantangan, kita mulai saling menjauh. Ketika pelayanan menjadi berat, kita mulai saling mencurigai. Pesan Firman Tuhan untuk kita adalah, dalam derita mari saling peduli, Jemaat Zoar akan merayakan Hari Ulang Tahun ke - 19 pada 18 Februari nanti. Mari berkomitmen jadi persekutuan yang tetap sehati dan selalu peduli. Tema kita hari ini sangat penting: ”Bekerja menyatu memperlihatkan kepedulian Tuhan”. Bekerja menyatu berarti saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.
Di tengah derita Musa mengadu kepada Tuhan. Musa jujur dalam doa: "Tuhan, mengapakah Engkau mendatangkan malapetaka kepada bangsa ini? Mengapakah Engkau menyuruh aku?" Musa tidak pura-pura kuat. Ia jujur. Dia pemimpin tapi juga manusia yang rapuh. Tapi Firman Tuhan menguatkan. Bahwa Musa akan melihat apa yang Tuhan lakukan atas Firaun dan Mesir. Janji Tuhan menunjukan bahwa Tuhan peduli dan Musa serta Israel harus tetap percaya dan mengandalkan Tuhan.
Minggu Sengsara yang pertama, yang dalam tradisi gereja dikenal sebagai Minggu “Esthomihi: “Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan.” Minggu Estomihi membawa kita memasuki jalan sengsara Kristus. Yesus juga mengalami hal yang sama seperti Musa. Ia datang untuk membebaskan. Tetapi Ia ditolak. Ia datang untuk menyelamatkan. Tetapi Ia disalibkan. Ia datang dalam kasih. Tetapi mengalami pengkhianatan, penyangkalan. Namun justru melalui penderitaan itu, keselamatan terjadi. Penderitaan bukan tanda Tuhan tidak peduli. Salib bukan kegagalan. Salib adalah jalan kemenangan Apa artinya ini bagi kita hari ini? Dalam keluarga: ketika ekonomi sulit, jangan saling menyalahkan. Bekerjalah menyatu. Berdoalah bersama. Karena Tuhan peduli melalui persatuan keluarga. Dalam gereja: ketika pelayanan berat, ada hal yang mengecewakan, jangan saling menjauh. Tetaplah bersama. Tetaplah saling menopang. Karena gereja bukan tempat orang – orang sempurna. Gereja adalah tempat setiap orang yang sedang dibentuk Tuhan. Ketika kita saling menopang, saling mendoakan, dan tetap setia dalam tanggung jawab, kita sedang memperlihatkan kepedulian Tuhan secara nyata.
Mungkin saat ini ada di antara kita yang merasa seperti Israel di Mesir: bekerja keras, tetapi hasil terasa berat. Mungkin ada yang merasa seperti Musa: sudah taat, tetapi keadaan makin sulit. Firman hari ini mengingatkan: Tetaplah percaya. Tuhan sedang bekerja. Mari di Minggu Sengsara pertama ini, serta menyongsong HUT Zoar, kita belajar berjalan bersama—menyatu dalam pekerjaan, menyatu dalam pelayanan, menyatu dalam pengharapan. Amin.


Belum ada Komentar untuk "BEKERJA MENYATU MEMPERLIHATKAN KEPEDULIAN TUHAN (Keluaran 5:1-24)"
Posting Komentar
Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.