RANCANGAN KHOTBAH: KEPEDULIAN TUHAN DAN KETIDAKPATUHAN YUNUS (Yunus 1:1-17)
Allah adalah Allah yang peduli, yang menghendaki umatNya hidup dalam kepedulian, kepatuhan dan bertanggung jawab.
Tujuan yang akan dicapai:
Agar jemaat mensyukuri kasih Tuhan yang selalu peduli dengan cara hidup bertanggungjawab atas panggilan Tuhan serta peduli seperti halnya Tuhan peduli.
Konteks saat itu:
Kitab Yunus berbeda dari kitab nabi-nabi lainnya. Fokus kitab ini bukan pada kumpulan nubuat, melainkan pada kisah hidup sang nabi. Kitab ini memperlihatkan pergumulan seorang nabi yang tidak siap menerima kenyataan bahwa Tuhan mengasihi dan memperhatikan bangsa lain. Nama Yunus berarti merpati. Dalam Alkitab, merpati melambangkan: damai, kelembutan, kesederhanaan, kemurnian, utusan dan pembawa pesan. Namun ironisnya sikap Yunus justru bertolakbelakang: keras hati, marah, dan tidak bertanggung jawab terhadap tugas. Niniwe adalah kota besar dan penting dari Kekaisaran Asyur, Asyur dikenal kejam, bengis, dan menindas bangsa-bangsa lain, termasuk Israel. Secara manusiawi, Yunus memiliki alasan kuat untuk membenci Niniwe. Baginya, penghukuman terasa lebih adil daripada pertobatan bagi musuh (Niniwe). Kitab Yunus dikaitkan dengan nabi Yunus bin Amitai (bdk. 2 Raja-raja 14:25). Ia melayani pada masa pemerintahan Yerobeam II (± 786–746 SM), periode ketika Israel sedang mengalami kemakmuran politik dan ekonomi, tetapi secara rohani merosot.
Kaitan dengan PB dan Yesus:
Yunus sebagai tanda yang menunjuk kepada Yesus. Yesus sendiri menghubungkan Yunus dengan diri-Nya. “Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.” (Matius 12:40). Yunus turun ke laut → Yesus turun ke dalam kematian. Yunus berada “hilang dari pandangan” selama tiga hari → Yesus mati dan dikuburkan. Yunus “dikembalikan” ke darat → Yesus bangkit pada hari ketiga. Yunus menjadi tipologi (bayangan) tentang kematian dan kebangkitan Kristus. Dalam hal taat pada Misi Allah. Yunus menunjukkan ketidaktaatan: dipanggil Alah tapi lari, tidur saat badai, diselamatkan dari maut. Sedangkan Yesus menunjukan ketaatan sempurna: diutus Bapa, taat sampai mati, berdoa dan berjaga menghadapi Salib, masuk ke dalam maut demi manusia. Yunus menunjukkan kegagalan manusia; Yesus menunjukkan ketaatan sempurna Anak Allah.
Ayat 1-3: Panggilan Tuhan dan Respons Yunus
Kitab Yunus diawali dengan Frasa: “Datanglah Firman Tuhan kepada Yunus bin Amitai”. Frasa ini menegaskan bahwa pelayanan dan panggilan selalu dimulai dari Allah. Tuhan yang datang dan berbicara kepada Yunus. Tuhan mengenal Yunus. Yunus bin Amitai – anak Amitai. Ayah Yunus bernama Amitai. Tuhan tahu kapasitas Yunus. Tuhan memilih Yunus sebagai alatNya. Yunus mendapat tanggung jawab untuk misi yang difirmankan Tuhan. Misi Tuhan bagi Yunus adalah pergi ke Niniwe dan menyerukan pertobatan. Tuhan peduli dengan Niniwe. Kepedulian Tuhan melampaui batas suku, bangsa, dan latar belakang. Tuhan mau menyelamatkan, menegur, dan memulihkan Niniwe. Apa respons Yunus terhadap panggilan Tuhan? Yunus tidak mau pergi ke Niniwe, tetapi melarikan diri ke Tarsis, “jauh dari hadapan Tuhan.” Frasa “jauh dari hadapan Tuhan” diulang sebanyak 3 kali pada perikop ini. Yunus tahu apa yang Tuhan kehendaki, namun ia menolak. Yunus tahu Tuhan ada di mana-mana (Mazmur 139:7-10) tetapi ia bertindak seolah-olah bisa melepaskan diri dari relasi dan panggilan Tuhan. Dengan lari “jauh dari hadapan Tuhan”, Yunus tidak ingin berada di hadapan Tuhan sebagai nabi yang diutus. Ketidakpatuhan Yunus bukan karena ia tidak mengerti firman Tuhan, tetapi karena ia tidak mau.
Ayat 4-7: Badai Besar dari Tuhan
Ketika Yunus lari, Tuhan tidak membiarkannya begitu saja. Tuhan mendapatkan Yunus untuk menyadarkannya. Terjadilah badai besar sehingga kapal yang ditumpangi Yunus hampir hancur. Ketidakpatuhan Yunus berdampak juga pada orang lain. Badai begitu dahsyat. Para pelaut ketakutan. Nyawa seisi kapal terancam. Orang yang berpengalaman di laut menyadari bahwa ini bukan badai biasa. Masing-masing berteriak – teriak kepada illahnya. Dalam situasi genting, manusia secara naluriah mencari kuasa yang lebih besar dari dirinya. Awak kapal mengerahkan segala kemampuan mereka: keterampilan, pengorbanan, dan keputusan cepat:membuang muatan. Di tengah kepanikan seisi kapal, Yunus justru tertidur di bagian paling bawah kapal. Nakhoda membangunkan Yunus dan meminta Yunus berseru kepada Allahnya. Tidak ada respons dari Yunus. Awak kapal membuang undi dan undi itu jatuh ada Yunus. Membuang undi adalah praktik kuno untuk menentukan keputusan atau mencari penyebab suatu peristiwa dengan cara yang dianggap netral dan adil. Pada zaman Yunus, membuang undi adalah praktik yang sangat umum. Undi menjadi cara untuk “membuka yang tersembunyi”. Walaupun para pelaut adalah orang kafir, Tuhan tetap berdaulat dan memakai undi itu untuk menunjuk Yunus. Tuhan berdaulat atas alam dengan menurunkan badai dan Tuhan berdaulat atas hasil undi.
Ayat 8-17: Pengakuan Yunus
Setelah undi jatuh kepada Yunus. Para awak kapal tidak langsung menghakimi Yunus, tetapi mengajukan pertanyaan untuk mengetahui identitas Yunus dan kesalahannya yang mendatangkan bencana. Yunus membuat pengakuan yang menjelaskan siapa dirinya, apa yang ia lakukan, dan mengapa badai terjadi. Jawaban Yunus menunjukan Yunus sangat tahu tentang Allah yang mengutusnya. Yunus mengakui bahwa dialah penyebab badai besar itu. Orang – orang itu menjadi semakin takut. Mereka bertanya kepada Yunus apa yang harus dilakukan. Yunus meminta mereka mencampakkannya ke laut. Tetapi mereka tidak langsung melakukannya. Sebaliknya mereka mendayung untuk membawa kapal ke darat. Orang – orang itu masih peduli kepada Yunus. Tapi laut semakin bergelora. Orang – orang itu berdoa memohon ampun. Kemudian mereka membuang Yunus ke laut. Badaipun reda. Seisi kapal menjadi takut akan Tuhan, mempersembahkan korban, dan bernazar kepada-Nya. Ketidakpatuhan Yunus memang membawa badai, tetapi di tengah kekacauan itu, kepedulian Tuhan tetap bekerja untuk menyelamatkan orang lain. Tuhan sanggup mengubah situasi paling buruk sekalipun menjadi alat untuk menyatakan kemuliaanNya. Tuhan menyediakan ikan besar untuk menelan Yunus. Yunus tidak mati di laut, ia diberi kesempatan kedua. Allah masih peduli kepada Yunus.
Referensi lain dalam Alkitab:
Yeremia 1:7 – “Ke mana pun Aku mengutus engkau, haruslah engkau pergi…”
Mazmur 139:7–10 – Tidak ada tempat untuk lari dari hadirat Tuhan.
Matius 28:19 – Amanat Agung, panggilan untuk pergi.
Amsal 28:13 – Mengaku dosa membawa belas kasihan.
Ilustrasi:
ü Seorang pengemudi sudah mengatur GPS ke tujuan yang benar. Namun, setiap kali GPS berkata, “Belok kanan,” ia justru belok kiri. Bukan karena GPS salah, tetapi karena ia merasa jalannya sendiri lebih nyaman. Akibatnya, ia makin jauh tersesat dan semakin jauh dari tujuannya. Yunus tahu arah Tuhan adalah ke Niniwe. Tapi ia memilih arah sendiri yaitu ke Tarsis. Ketidakpatuhan Yunus membuat hidupnya makin jauh dari Tuhan dan makin kacau.
ü Seseorang berlari di bawah terik matahari, mencoba menjauh dari bayangannya. Semakin ia berlari, bayangan itu tetap mengikutinya. Ia lelah, frustrasi, dan akhirnya berhenti. Yunus lari dari panggilan Tuhan, tetapi panggilan itu tidak pernah tertinggal. Kita bisa lari dari Tuhan, tetapi tidak pernah bisa lepas dariNya.
Aplikasi:
ü Allah adalah Allah yang peduli. Allah peduli pada Yunus, Niniwe, orang – orang dalam kapal. Allah juga peduli pada kita. KasihNya besar memelihara dan menyelamatkan kita. Bagaimanapun keadan kita, seberapa jauhpun kita lari dari Tuhan. Tuhan dapat menjangkau kita dengan kasihNya.
ü Allah adalah Allah yang berdaulat atas alam dan atas hidup manusia. Allah memilih Yunus, bukan karena kesiapannya, tetapi karena kehendakNya. Yunus tidak dapat melarikan diri dari kehendak Allah. Tidak ada tempat dimana kita bisa lari jauh dari Tuhan. Mungkin kita merasa kita bisa lari dari Tuhan ketika ada dalam dunia ini tetapi pada akhirnya kitapun akan menghadap Tuhan dan mempertanggungjawabkan apapun hidup kita di dunia ini.
ü Allah Israel adalah Allah atas segala bangsa, dan kasih-Nya melampaui batas ras, suku bahkan agama. Ia memanggil kita untuk menyatakan kasihNya bagi semua orang.
ü Tuhan mengutus kita untuk mengampuni, peduli, melayani, bersaksi, berlaku adil. Namun kita memilih “Tarsis” kita sendiri—tempat aman, nyaman, dan sesuai dengan keinginan pribadi. Jadilah pribadi yang bertanggungjawab atas tugas dan tanggungjawab pelayanan yang diberikan Tuhan sekecil apapun itu.
ü Sering kali badai dalam hidup kita: masalah, kegagalan, krisis adalah cara Tuhan menyadarkan kita dari ketidakpedulian dan ketidaktaatan. Ketika hidup “berguncang”, jangan langsung menyalahkan keadaan—bertanyalah: apa yang Tuhan ingin ajarkan?
ü AnugerahNya tak terbatas oleh apapun juga. Pengakuan yang jujur adalah pintu anugerah Tuhan. Bersyukurlah atas anugerah Tuhan itu.
Penutup:
Yunus 1:1–17 mengajak kita bercermin. Apakah kita sedang taat atau sedang lari dari panggilan Tuhan? Apakah hati kita sejalan dengan kepedulian Tuhan, atau justru penuh dengan penghakiman dan ketidakpatuhan? Kepedulian Tuhan tidak pernah berhenti. Ia peduli pada Niniwe, peduli pada para pelaut, dan peduli pada Yunus yang keras kepala. Tuhan yang sama juga peduli pada kita hari ini. Biarlah kita tidak menunda ketaatan, tidak lari dari panggilan-Nya, tetapi dengan rendah hati berkata, “Tuhan, selaraskan hatiku dengan hati-Mu.” Amin.


Belum ada Komentar untuk "RANCANGAN KHOTBAH: KEPEDULIAN TUHAN DAN KETIDAKPATUHAN YUNUS (Yunus 1:1-17)"
Posting Komentar
Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.