KESETIAAN KEPADA KRISTUS DI TENGAH GODAAN PENGKHIANATAN (Markus 14:10-21)

Tema kita hari ini dari Markus 14:10-21 adalah Kesetiaan kepada Kristus di tengah Godaan Pengkhianatan. Di tangan saya ada sebuah kertas dengan robekan kecil ditengah kertasnya. Karena sobekannya hanya kecil jadi terlihat tidak memberi dampak untuk kertas ini secara keseluruhan. Tapi kalau sobekan kecil ini dibiarkan dan ditambahkan lagi sobekan – sobekan yang kecil yang baru. Meskipun hanya sobekan kecil tapi jika dibiarkan terus menerus ternyata dapat merusak dan menghancurkan seluruh kertas ini. Begitu juga pengkhianatan, dimulai dari godaan – godaan kecil yang dibiarkan, yang dianggap sepele tapi ternyata menodai kesetiaan. Yudas tidak tiba-tiba menjadi pengkhianat dalam satu malam. Pengkhianatan Yudas terjadi dalam proses yang dimulai dari bacaan kita ini. Ayat 10 berkata: “Lalu Yudas Iskariot, salah seorang dari kedua belas murid itu, pergi kepada imam-imam kepala dengan maksud untuk menyerahkan Dia kepada mereka.” Yudas bukan orang luar. Yudas adalah salah satu dari dua belas murid. Ia pernah berjalan bersama Yesus. Ia pernah melihat mujizat. Ia pernah mendengarkan pengajaran Yesus. Yudas bahkan mendapat kepercayaan menjadi pemegang kas dikalangan para murid itu. Tapi dengan kesadaran sendiri Yudas memilih jalan pengkhianatan. Setianya Yudas sudah berubah. Kasih Yudas pada Yesus menjadi dingin. Godaan mendapatkan uang memperkuat jalan pengkhianatan. Saat para murid yang lain menghormati tradisi Yahudi untuk Perayaan Paskah: pembebasan Israel dari Mesir. Saat para murid melakukan apa yang Yesus perintahkan untuk mempersiapkan perjamuan Paskah itu. Yudas sibuk negosiasi dengan Imam – imam kepala. Tapi pada perjamuan makan Paskah itu Yudas juga ikut hadir. Ia duduk makan bersama Yesus dan para murid lain. Yudas ini memang munafik betul. Di meja perjamuan Paskah itu ada kesetiaan tapi juga pengkhianatan. Ada roti dan anggur simbol pengorbanan Yesus, tapi juga ada rencana murid menjual gurunya.

 

Kita marah pada Yudas, kita menghakimi Yudas. Tapi seringkali hidup kita tak ada bedanya dengan Yudas. Kita setia selama doa kita dijawab. Kita bersemangat selama pelayanan kita dihargai. Kita rajin beribadah selama hidup terasa lancar. Tetapi ketika doa terasa tidak dijawab, ketika usaha tidak dihargai, ketika penderitaan datang, kita menjauh. Kita masih Kristen tapi kasih sudah dingin, kita kadang memelihara kepahitan itu sampai membusuk. Kita tetap duduk dibangku gereja, aktif pelayanan, tapi kita terus menyalibkan Yesus dengan banyak kemunafikan. Pengkhianatan tidak selalu berarti beralih kepercayaan. Kadang kita tetap hadir secara fisik, tetapi hati sudah jauh. Kita masih menyanyi, tetapi tidak lagi mengasihi. Kita masih melayani, tetapi motivasi sudah berubah. Di tempat kerja, kita rajin tapi tergoda untuk berlaku tidak jujur. Kita tahu itu salah, tetapi kita berkata dalam hati: “Semua orang juga begitu.” Pengkhianatan dimulai dari membiarkan godaan – godaan kecil menjauhkan hati dari Kristus.

 

Di tengah rencana pengkhianatan, Yesus tetap mengadakan Perjamuan. Yesus sudah tahu apa yang ada di dalam hati dan pikiran Yudas. Tapi Yesus tidak mengusir Yudas dari meja itu. Ini luar biasa. Yesus bahkan membasuh kaki para muridnya termasuk Yudas. Yesus tetap memecahkan roti. Kesetiaan Kristus tidak bergantung pada kesetiaan manusia. Setia bukan soal tuntutan atau kewajiban tapi itu anugerah dari Allah. Yesus tetap setia, menjalani via Dolorosa, menuju ke Salib. Ia tidak membalas pengkhianatan dengan kebencian. Ia tidak membalas caci maki dengan caci maki. Ia tidak membalas luka dengan dendam. Ia memilih taat kepada kehendak Bapa. Kesetiaan Kristus menjadi dasar bagi kesetiaan kita.

 

Kita hidup di zaman yang penuh godaan yang kecil sampai yang besar. Tapi Yesus panggil kita untuk setia. Setia dalam keluarga; mengasihi pasangan bukan hanya ketika mudah, tetapi juga ketika sulit.  Setia dalam pelayanan; melayani bukan untuk dilihat, tetapi untuk memuliakan Tuhan. Setia dalam pekerjaan; jujur walau tidak diawasi. Setia dalam pergumulan pribadi; tetap berdoa walau air mata jatuh. Kesetiaan bukanlah perasaan. Ia adalah keputusan iman. Murid – murid Yesus pernah gagal. Petrus menyangkal Yesus. Yudas menjual Yesus. Para murid yang lain lari meninggalkan Yesus. Perbedaannya bukan pada siapa yang gagal, tetapi pada siapa yang kembali. Yudas kalah dengan godaan pengkhianatan dan akhirnya itu membinasakan hidupnya.  Petrus memilih bertobat. Kesetiaan sejati bukan berarti tidak pernah jatuh, tetapi selalu kembali kepada Kristus. Setialah kepada Yesus meskipun godaan menggiurkan. Setialah pada Yesus sampai akhir hayat. Amin. Selamat Hari Minggu. Tuhan memberkati.

 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "KESETIAAN KEPADA KRISTUS DI TENGAH GODAAN PENGKHIANATAN (Markus 14:10-21)"

Posting Komentar

Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.

ABOUT ME

Foto saya
Sorong, Papua Barat Daya, Indonesia
Menemukan PELANGI dalam hidup sendiri dan menjadi PELANGI di langit hidup sesama. Like and Subscribe my youtube channel: DEAR PELANGI CHANNEL

Iklan

Display

Inarticle

Infeed