RANCANGAN KHOTBAH: TETAP SETIA SAAT IMAN DIUJI (Markus 14:26-31)

Gagasan Utama:

Yesus mengetahui kegagalan manusia, namun kasih-Nya tetap memulihkan

 

Tujuan yang akan dicapai:

Jemaat menyadari kelemahan manusia, memahami bahwa Yesus mengetahui kegagalan manusia dan terdorong untuk datang kepada Kristus dengan iman karena kasih-Nya sanggup memulihkan orang yang jatuh.

 

Konteks saat itu:

Tujuan utama dari Injil Markus adalah menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah anak Allah dan Mesias yang datang untuk menyelamatkan manusia melalui penderitaan, kematian dan kebangkitannya. Sebagian besar ahli berpendapat Injil Markus ditulis sekitar tahun 60–70 M, kemungkinan di tulis diRoma, dan ditujukan bagi orang Kristen non-Yahudi. Peristiwa dalam perikop ini terjadi setelah perjamuan terakhir. Setelah menyanyikan pujian, Yesus dan murid-murid keluar menuju Bukit Zaitun. Dalam perjalanan malam itu, Yesus mulai menyiapkan murid-murid untuk menghadapi peristiwa penangkapan dan penyaliban-Nya.

 

Kaitan dengan PL:

Nubuat tentang gembala yang dipukul (Zakharia 13:7) dalam konteks PL: gembala adalah pemimpin umat dan domba melambangkan umat Tuhan. Dalam Injil Markus, Yesus adalah gembala dan para murid adalah domba yang tercerai-berai itu. Gambaran gembala dan domba dalam Perjanjian Lama sangat kuat dalam tradisi Israel (Yehezkiel 34). Dalam pasal ini Tuhan menegur para gembala Israel yang tidak setia dan berjanji Dia sendiri akan menggembalakan umat-Nya. Markus menampilkan Yesus sebagai gembala sejati.

Pola Harapan pemulihan setelah penderitaan dalam Markus juga merupakan pola yang sering muncul dalam perjanjian Lama Yesaya 53. Di mana hamba Tuhan menderita kemudian membawa keselamatan bagi banyak orang. Semua ini menunjukkan bahwa penderitaan Yesus sudah berada dalam rencana keselamatan Allah sejak dahulu pada masa Perjanjian Lama.

 

Penjelasan Teks:

Ayat 26-28: Yesus Mengetahui Kelemahan Manusia dan Memulihkannya

Setelah menyanyikan pujian, Tuhan Yesus dan murid-muridNya keluar menuju Bukit Zaitun. Yesus menyampaikan kepada para murid bahwa iman mereka akan terguncang malam itu. Yesus mengutip Zakaria 13:7, gembala akan dibunuh dan domba-domba akan tercerai-berai. Malam itu adalah malam dimulainya segala nubuat yang sudah diberitakan tentang Yesus bahwa Yesus akan ditangkap (Mrk 14:43-52) dan para murid akan tercerai berai. Setelah Yesus menyampaikan bahwa iman murid-murid akan terguncang karena-Nya, Ia menyampaikan bahwa Ia akan mendahului mereka ke Galilea setelah Ia bangkit (28). Janji ini kemudian digenapi ketika Ia bangkit dalam (Mrk 16:7). Malaikat mengatakan kepada para wanita dan Maria untuk menyampaikannya kepada murid-murid-Nya: ‘Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia. Dalam Mat 28:10 Yesus sendiri menyampaikan hal serupa kepada para perempuan itu. Yesus menampakkan diri di hadapan murid-murid-Nya di tepi Danau Galilea/Tiberias (Yoh 21:1-14) - menjala ikan, sarapan ikan dan roti bersama.

 

Ayat 29-31: Pengandalan Diri Membawa Kejatuhan

Simon Petrus menyanggah penyampaian Yesus bahwa ia tak akan terguncang imannya meskipun yang lain begitu. Yesus menyampaikan bahwa malam itu Petrus akan menyangkal-Nya 3 kali sebelum ayam berkokok 2 kali. Yesus mengetahui apa yang akan terjadi. Ia tahu bahwa Petrus, murid-Nya yang paling berani, itu pun akan jatuh. Simon Petrus menyanggah lagi bahwa ia tak akan pernah melakukannya bahkan jika dia harus mati bersama Yesus. Teman-temannya juga mengangguk setuju. Perkataan Yesus ini tentu mengejutkan para murid yang telah berjalan dengan Yesus selama bertahun-tahun. Yesus tetap berjalan bersama mereka. Ia tidak menolak Petrus, juga tidak mengusir murid lainnya, meskipun ia tahu nantinya mereka akan gagal.

 

Referensi lain dalam Alkitab:

Mazmur 103:14 “Sebab Ia sendiri tahu apa kita, Dia ingat bahwa kita ini debu”

Yesaya 53:5 Nubuat tentang Mesias yang menderita: “Oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh.”

 

lustrasi:

ü Seorang tentara bisa terlihat sangat berani saat latihan. Ia menembak dengan percaya diri, berlari tanpa ragu, dan berkata bahwa ia siap menghadapi musuh. Namun para pelatih militer tahu satu hal: Latihan tidak selalu sama dengan medan perang. Di medan perang ada suara ledakan, ketakutan akan kematian, dan tekanan yang sangat besar. Banyak orang yang tampak kuat saat latihan ternyata gemetar ketika menghadapi pertempuran sungguhan. Para murid seperti tentara di medan latihan. Mereka berkata kepada Yesus bahwa mereka siap mati bersama-Nya. Tetapi ketika penangkapan terjadi, ketakutan membuat mereka lari.

ü Seseorang mungkin berkata ponselnya sangat bagus. Layarnya jernih, aplikasinya banyak, dan tampilannya menarik. Tetapi ketika baterainya hampir habis, semua kehebatan itu tidak berarti. Banyak orang tampak memiliki iman yang kuat—rajin beribadah, aktif di gereja, bahkan berani berbicara tentang iman. Tetapi ketika energi rohani mereka tidak dijaga melalui doa dan kedekatan dengan Tuhan, iman itu cepat melemah saat tekanan datang. Para murid percaya diri, tetapi mereka belum siap secara rohani untuk menghadapi malam penderitaan itu.

 

Aplikasi:

ü Yesus menunjukkan bahwa bahkan murid yang paling dekat dengan-Nya pun dapat jatuh. Ortu bisa gagal menjadi teladan, suami istri bisa saling melukai, anak-anak bisa berbuat salah dan memberontak. Dalam persekutuan, jangan merasa diri paling benar dan paling rohani, belajar mengakui kesalahan dan saling mengampuni.

ü Jadikan Yesus pusat kekuatan keluarga dan persekutuan. Petrus merasa dirinya kuat, tetapi akhirnya dia gagal. Kita tidak bisa mengandalkan kekuatan sendiri. Kita membutuhkan Tuhan. Mari bangun kebiasaan doa, beribadah dan bersekutu bersama untuk memohon pertolongan Tuhan dalam keluarga dan persekutuan.

ü Jadikan persekutuan kita tempat pemulihan. Yesus sudah tahu murid-murid-Nya akan meninggalkan-Nya, tetapi Ia menjanjikan pertemuan kembali di Galilea setelah kebangkitan-Nya. Ini menunjukkan hati Yesus yang memulihkan. Seringkali ketika kita gagal, kita merasa tidak layak lagi datang kepada Tuhan. Kita merasa Tuhan pasti kecewa kepada kita. Namun Yesus menunjukkan bahwa kasih-Nya lebih besar daripada kegagalan kita.Tuhan tidak meninggalkan kita ketika kita jatuh. Tuhan justru menunggu kita untuk kembali.

ü Tetap setia mengikut Kristus meskipun pernah gagal berulang-ulang kali. Banyak orang berhenti melayani dan menjauh dari persekutuan karena gagal. Namun, kisah murid-murid yang gagal menunjukkan kegagalan bukan akhir dari perjalanan iman. Mari datang kembali kepada-Nya karena kasih-Nya selalu membuka jalan pemulihan. Iman yang setia bukanlah iman yang tidak pernah diuji. Iman yang setia adalah iman yang tetap kembali kepada Tuhan walaupun pernah jatuh.

 

Penutup:

Minggu Sengsara mengingatkan kita bahwa perjalanan iman tidak selalu mudah. Bahkan murid-murid Yesus pernah mengalami kegoncangan. Namun kisah ini juga memberikan pengharapan besar: Tuhan tahu kelemahan kita, tetapi Ia tetap mengasihi kita. Tuhan tahu kita bisa jatuh, tetapi Ia menyediakan pemulihan. Oleh karena itu, jangan mengandalkan kekuatan sendiri, tetaplah bergantung kepada Tuhan, tetaplah setia mengikuti Kristus. Sebab kesetiaan yang sejati bukanlah tentang tidak pernah jatuh, tetapi tentang tetap kembali kepada Tuhan dan tetap berjalan bersama-Nya. Amin.

 

 

 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "RANCANGAN KHOTBAH: TETAP SETIA SAAT IMAN DIUJI (Markus 14:26-31)"

Posting Komentar

Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.

YANG PALING BARU

RANCANGAN KHOTBAH: TETAP SETIA SAAT IMAN DIUJI (Markus 14:26-31)

ABOUT ME

Foto saya
Sorong, Papua Barat Daya, Indonesia
Menemukan PELANGI dalam hidup sendiri dan menjadi PELANGI di langit hidup sesama. Like and Subscribe my youtube channel: DEAR PELANGI CHANNEL

Iklan

Display

Inarticle

Infeed