TETAP BERJAGA DAN BERDOA DI TENGAH PENDERITAAN (Markus 14:32-42)

Seringkali terjadi kita mengatur alarm di HP, misalnya mau bangun jam 5 pagi untuk mengikuti ibadah subuh. Alarm akan berbunyi sesuai pengaturan kita. Tapi saat kita masih mengantuk, kita masih ingin tidur akhirnya bunyi alarm di “snooze”.  Kita abaikan bunyi alarm, tidak sanggup berjaga lalu lanjut tidur akhirnya niat mau pergi ibadah jadinya tidak pergi ibadah. Roh memang penurut tapi daging lemah. Itulah realitas hidup kita manusia. Karena itu kita mesti lakukan seperti tema: “Tetap Berjaga dan Berdoa di tengah Penderitaan”.

 

Sebelum memasuki Jalan Salib, Yesus berdoa di Taman Getsemani. Getsemani artinya: “tempat pemerasan minyak” atau “tempat penggilingan minyak zaitun.” Tempat ini merujuk pada sebuah kebun di kaki Bukit Zaitun, di mana terdapat alat untuk memeras buah zaitun hingga menghasilkan minyak. Proses ini tidak mudah—buah zaitun harus dihancurkan dan ditekan dengan kuat agar minyaknya keluar. Getsemani adalah tempat tekanan yang menghasilkan sesuatu yang berharga. Di Taman Getsemani Yesus berkata: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya." (ayat 34). Yesus menghadapi ketakutan, kesendirian, tekanan yang luar biasa. Ia tahu bahwa salib ada di depan-Nya. Ia tahu penderitaan itu nyata dan tidak bisa dihindari. Ini mengajarkan kepada kita satu hal penting; Menjadi orang beriman bukan berarti tidak mengalami pergumulan. Kadang kita berpikir: Kalau saya dekat dengan Tuhan, hidup saya pasti tenang. Kalau saya rajin berdoa, saya tidak akan mengalami kesulitan. Tetapi Yesus sendiri membuktikan bahwa iman tidak menghapus penderitaan, iman memberi kekuatan untuk menjalaninya. Jika hari ini ada di antara kita yang sedang lelah… yang merasa hancur… yang merasa sendirian… Ingatlah: Yesus pernah ada di posisi itu. Ia mengerti air mata kita. Ia mengerti pergumulan kita.

 

Doa Yesus: "Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi bukan apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki." (ayat 36). Yesus berdoa dengan jujur, tetapi tetap berserah. Perhatikan: Yesus tidak berkata, “Aku kuat, Aku sanggup.” Ia justru berkata, “Ambillah cawan ini.” Artinya: Yesus juga ingin dilepaskan dari penderitaan. Tetapi Ia menutup doa-Nya dengan kalimat yang luar biasa: “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu.” Berdoa bukan hanya meminta, berdoa adalah menyerahkan diri. Di tengah penderitaan, doa menjadi kekuatan. Dalam doa, kita belajar percaya. Minggu sengsara mengingatkan kita bahwa Yesus tidak menghindari penderitaan, tetapi Ia menjalaninya dengan doa.

 

Dalam ayat 37, Yesus berkata: "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?" (ayat 37) Di saat Yesus bergumul… murid-murid justru tertidur. Berapa sering kita lebih sibuk dengan hal-hal duniawi daripada berdoa, lebih memilih kenyamanan daripada berjaga dalam iman, menjadi lemah saat seharusnya kita kuat. Yesus berkata: "Roh memang penurut, tetapi daging lemah." Ini adalah realita kita. Kita ingin setia… tetapi kita lelah. Kita ingin berdoa… tetapi kita tertidur secara rohani. Getsemani mengingatkan kita, iman yang tidak dijaga akan menjadi lemah. Berjaga bukan hanya berarti tidak tidur secara fisik, tetapi hidup dalam kesadaran akan Tuhan. Berjaga berarti tetap setia meski lelah, tetap percaya meski tidak mengerti, tetap berdoa meski tidak melihat jawaban. Yesus berkata: "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan." (ayat 38). Ini adalah perintah sekaligus undangan. Berjaga berarti waspada terhadap dosa, sadar akan kelemahan diri, tidak lengah dalam iman.  Berdoa berarti terhubung dengan Tuhan, bergantung kepada-Nya, menerima kekuatan dari-Nya. Di tengah penderitaan, dua hal ini tidak boleh hilang; berjaga dan berdoa! Berjaga sama dengan sadar sebelum jatuh. Berjaga berarti mengenali titik lemah kita, menghindari situasi berbahaya. Orang yang berjaga bukan lebih kuat, tetapi lebih waspada.

 

Hari ini, Getsemani bisa menjadi pengalaman hidup kita. Getsemani adalah tempat, ketika hati terasa sangat berat, ketika tidak ada jawaban yang jelas, ketika kita harus menghadapi kenyataan yang tidak kita inginkan. Yesus di Getsemani menunjukkan bahwa penderitaan bukan akhir dari cerita. Di balik Getsemani, ada Golgota. Dan di balik Golgota, ada kebangkitan. Mari kita pulang hari ini dengan satu keyakinan: Jika aku harus berjalan dalam gelap, aku tidak berjalan sendirian. Jika aku harus minum cawan pahit, Tuhan memegang tanganku. Dan jika aku tetap berjaga dan berdoa, maka imanku tidak akan sia-sia. Tuhan Yesus yang setia di Getsemani, akan menuntun kita sampai kepada kemenangan. Amin.

 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "TETAP BERJAGA DAN BERDOA DI TENGAH PENDERITAAN (Markus 14:32-42)"

Posting Komentar

Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.

YANG PALING BARU

TETAP BERJAGA DAN BERDOA DI TENGAH PENDERITAAN (Markus 14:32-42)

ABOUT ME

Foto saya
Sorong, Papua Barat Daya, Indonesia
Menemukan PELANGI dalam hidup sendiri dan menjadi PELANGI di langit hidup sesama. Like and Subscribe my youtube channel: DEAR PELANGI CHANNEL

Iklan

Display

Inarticle

Infeed