PUISI REFLEKTIF: ROTI YANG TERPECAH DAN DARAH YANG TERCURAH (Markus 14:22-25)

Di malam yang sunyi,

ketika lampu-lampu kecil berpendar

dan langkah waktu berjalan pelan,

Engkau duduk di antara mereka—

bukan sebagai raja yang dielu-elukan,

tetapi sebagai sahabat yang penuh kasih,

 

Roti itu ada di tanganMu.

Roti sederhana.

Seperti hidup kami yang biasa,

rapuh, mudah hancur.

 

Namun ketika Engkau memecahkannya,

ada sesuatu yang lebih dalam

daripada sekadar makan malam.

“Ambillah,” kata-Mu lembut.

“Inilah tubuh-Ku.”

Dan duniapun tersentak.

 

Bagaimana mungkin

tubuhMu menjadi roti bagi kami?

Bagaimana mungkin

tubuhMu begitu rela

untuk dipecah

demi jiwa-jiwa yang berdosa?

 

TubuhMu …

Dikoyakan.

Dilukai.

Diserahkan.

 

Bukan karena Engkau lemah.

Bukan karena Engkau tidak mampu melawan.

Tetapi karena kasih-Mu

lebih besar daripada penderitaan.

 

Dan Engkau mengangkat cawan itu.

“Inilah darah-Ku,

darah perjanjian,

yang ditumpahkan bagi banyak orang.”

 

Perjanjian yang dimeteraikan

bukan dengan darah hewan,

tetapi dengan darah Anak Allah sendiri.

 

Betapa besar kasihMu.

DarahMu tercurah

bagi banyak orang—

bagi mereka yang percaya,

bagi mereka yang tersesat,

bagi mereka yang bahkan belum mengenal namaMu.

 

Di meja itu

tidak ada kemewahan.

Tidak ada mahkota.

Tidak ada sorak sorai.

Hanya roti yang dipecah.

Hanya cawan yang dibagikan.

 

Tetapi justru di situlah

cinta terbesar di dunia dinyatakan.

 

Dan sebelum malam berakhir

Engkau berkata pelan,

“Aku tidak akan minum lagi

hasil pokok anggur ini

sampai pada hari

Aku meminumnya yang baru

dalam Kerajaan Allah.”

 

Di tengah bayangan salib,

Engkau masih berbicara tentang masa depan.

Tentang hari

ketika kerajaan Allah dinyatakan sepenuhnya.

Seolah Engkau berkata kepada dunia:

Salib bukan akhir cerita.

Air mata bukan halaman terakhir.

 

Akan ada hari baru.

Akan ada perjamuan baru.

Akan ada sukacita yang tidak pernah berakhir.

 

Dan sejak malam itu

setiap kali kami memecah roti

dan mengangkat cawan,

kami memberitakan kematianMu

kami mengingat kasihMu.

 

Kasih yang tidak menyerah

meskipun manusia sering gagal mencintai-Mu kembali.

Dan kami berkata

dengan hati penuh syukur:

“Terima kasih atas kasihMu ya Tuhan”

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "PUISI REFLEKTIF: ROTI YANG TERPECAH DAN DARAH YANG TERCURAH (Markus 14:22-25)"

Posting Komentar

Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.

ABOUT ME

Foto saya
Sorong, Papua Barat Daya, Indonesia
Menemukan PELANGI dalam hidup sendiri dan menjadi PELANGI di langit hidup sesama. Like and Subscribe my youtube channel: DEAR PELANGI CHANNEL

Iklan

Display

Inarticle

Infeed