KASIH KRISTUS MEMULIHKAN KEGAGALAN IMAN (Markus 14:66-72)
Kadang-kadang seseorang keluar rumah dengan baju terbalik tanpa menyadarinya. Ia berjalan dengan percaya diri, berbicara dengan orang lain, bahkan mungkin menghadiri sebuah acara. Lalu tiba-tiba seseorang berkata: “Maaf… bajumu terbalik.” Saat itu juga ia merasa malu dan segera memperbaikinya. Petrus juga mengalami momen seperti itu dalam hidup rohaninya. Sebelumnya ia sangat percaya diri berkata kepada Yesus: “Sekalipun semua orang meninggalkan Engkau, aku tidak.” Tetapi kenyataannya justru sebaliknya. Ketika ayam berkokok, Petrus seperti orang yang baru sadar bahwa “baju rohaninya terbalik.” Ia sadar bahwa kesombongan dan ketakutan telah membuatnya jatuh. Kesadaran itu membuatnya menangis dan bertobat. Tapi kasih Yesus lebih besar dari kegagalan Petrus. Yesus tidak menolak Petrus. Dalam kasihNya Yesus memulihkan Petrus. Tema kita: Kasih Kristus memulihkan Kegagalan Iman.
Hari ini pada minggu sengsara ke - 7, akan diteguhkan 15 anak sebagai calon anggota sidi Gereja yang telah mengikuti Pendidikan Katekisasi. Tiga diantaranya akan menerima juga Pembaptisan Kudus. Anak – anak kita ini akan mengaku dan berjanji untuk menyangkal diri, memikul Salib, mengiring Yesus sampai mati. Di hadapan Tuhan dan jemaat kita akan mendengar pengakuan dan janji mereka untuk setia dalam percaya kepada Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus yang memimpin kehidupan mereka. Mereka mengaku dan berjanji untuk setia disekitar pelayanan Firman dan Sakramen serta bertekun dalam doa dan pembacaan Alkitab. Juga mengaku untuk setia terlibat secara aktif menopang pelayanan dalam GKI di Tanah Papua sebagai orang Kristen yang dewasa. Berjanji itu mudah, mengaku percaya dengan mulut itu gampang. Tapi menepati janji dan berpegang teguh pada pengakuan kepada Tuhan tidaklah mudah. Pengakuan dan janji mesti dibuktikan seumur hidup. Godaan yang mengguncang iman dapat menyerang kapan saja seperti yang terjadi pada Petrus.
Petrus sebelumnya berjanji akan setia sampai mati demi Yesus (Mat. 26:35), ternyata ia gagal memenuhi janjinya itu. Petrus justru menyangkal Yesus. Baru berhadapan dengan hamba perempuan, bukan dengan prajurit atau pemimpin agama, Petrus pu nyali su pecek. Hamba perempuan itu dan orang – orang di situ menyampaikan fakta hubungan Petrus dengan Yesus. Tapi semua pernyataan itu disangkal oleh Petrus. Petrus bukan saja menyangkal tapi juga mengutuk dan bersumpah. “Aku tidak kenal orang itu”. Penyangkalan secara keras dan tegas. Ketika Yesus sedang diadili oleh imam besar Kayafas, Petruspun seolah - olah diadili oleh orang banyak di halaman imam besar itu. Jika Yesus taat dan setia sebaliknya Petrus berdusta dan bersilat lidah. Lalu ayampun berkokok. Petrus teringat apa yang dikatakan Yesus “Sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali”. Petrus teringat janji yang diucapkannya dengan menggebu – gebu tapi sudah disangkalnya. Petrus sudah menyangkal janjinya. Bukan hanya sekali saja tetapi 3 kali bahkan dengan cara mengutuk dan bersumpah.
Lalu Petrus menangis dengan sedih. Hati Petrus hancur. Sandiwaranya di depan banyak orang berhasil tetapi tidak dihadapan Tuhan. Ayam yang berkokok membuat Petrus tersadar dan menyesal. Tapi tangisan dan air mata Petrus saja tidak cukup. Dalam Yohanes 21:15-19, setelah kebangkitan-Nya, Petrus beroleh kesempatan dan anugerah mengalami pengampunan dan pemulihan dari Yesus. Pengampunan Yesus tidak setengah-setengah. Ia tidak hanya menghapus dosa, tetapi juga memberikan kesempatan baru bagi Petrus untuk melayani Tuhan. Dalam tradisi Gereja, Petrus dikisahkan mati dengan cara disalibkan terbalik di Roma pada sekitar tahun 64-67 M. Petrus menolak disalibkan dengan kepala di atas karena merasa tidak layak untuk mati dalam posisi yang sama seperti Yesus. Kasih Allah yang besar memulihkan Petrus yang pernah gagal. Saudaraku, kita tidak ada bedanya dengan Petrus. Kita tidak lebih baik dari Petrus. Marilah kita menyadari kelemahan kita dan mengakuinya di hadapan Tuhan. Anugerah Tuhanlah yang melayakkan kita mengalami pengampunan dan pemulihan. Pengakuan dan Janji yang diucapkan calon Sidi Jemaat adalah pengakuan dan janji kepada Tuhan. Janganlah menjadi pengakuan dan janji yang manis di bibir saja. Di hadapan manusia kita bisa bersandiwara tapi tidak dihadapan Tuhan. Mari belajar bukan sekedar berani mengucapkan janji itu, tetapi juga setia pada pengakuan dan janji itu. Jangan mengandalkan kekuatan sendiri tapi serahkanlah diri secara penuh untuk dipimpin oleh Tuhan. Sebagaimana Kristus setia menggenapi janjiNya meskipun salib adalah resikonya maka marilah kitapun setia pada pengakuan dan janji kita masing – masing ketika diteguhkan sebagai Anggota Sidi Jemaat, menyangkal diri pikul salib dan iring Yesus. Tuhan menolong kita semua dan berkati kita melalui FirmanNya. Amin. Selamat Hari Minggu. Tuhan berkati.


Belum ada Komentar untuk "KASIH KRISTUS MEMULIHKAN KEGAGALAN IMAN (Markus 14:66-72)"
Posting Komentar
Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.