HUKUM TAURAT ATAU JANJI (Galatia 3:15-29)
Seorang anak kecil yang jatuh saat belajar berjalan. Ayahnya tidak berhenti mengasihi anak itu karena ia jatuh. Sang ayah justru mengangkat, memeluk, dan menolongnya berdiri kembali. Anak itu bertumbuh dalam kasih sayang orang tuanya. Demikian juga Allah terhadap kita. Kita adalah orang – orang tebusan yang hidup dan bertumbuh dalam kasih dan janji Tuhan. Tema kita: Hukum Taurat atau Janji. Dalam Galatia 3:15-29, Paulus membandingkan antara Hukum Taurat dan janji Allah. Janji Allah kepada Abraham. Allah memilih Abraham bukan karena Abraham sempurna. Allah memanggil Abraham karena kasih dan rencana-Nya. Ikatan Janji Tuhan dengan Abraham, Isak dan Yakub diberikan jauh sebelum Hukum Taurat di terima pada zaman Musa. Ada jarak ratusan tahun antara zaman Abram dan zaman Musa; ayat 17 menyebutkan 430 tahun. Artinya, dasar hubungan Allah dengan manusia, sejak awal adalah kasih karunia dan iman, bukan hukum Taurat atau peraturan. Allah berjanji bahwa melalui keturunan Abraham, semua bangsa akan diberkati. Paulus menegaskan bahwa “keturunan” itu menunjuk kepada Kristus.
Janji Allah lebih tinggi dari Hukum Taurat. Paulus jelaskan fungsi hukum taurat. Hukum Taurat memang penting, tetapi Hukum Taurat tidak dapat memberi keselamatan. Taurat berfungsi menunjukkan dosa manusia. Taurat ibarat rambu-rambu jalan. Rambu tidak bisa membawa kita sampai tujuan. Tetapi rambu-rambu jalan itu menunjukkan, mana jalan yang benar, mana yang berbahaya, dan mana yang harus dihindari. Begitu juga Taurat. Taurat tidak mampu menyelamatkan manusia. Tapi Taurat menyadarkan manusia bahwa ia membutuhkan Juruselamat. Karena itu Paulus berkata bahwa Taurat menjadi “penuntun” sampai Kristus datang.
Saudaraku, sering kali kita merasa Tuhan hanya menerima orang yang baik dan sempurna. Ada orang berkata: “Saya belum pantas datang kepada Tuhan.” “Nanti kalau hidup saya sudah berubah baru saya aktif di gereja.” Tetapi Injil berkata Kristus datang justru untuk orang berdosa. Tuhan tidak menunggu kita sempurna untuk mengasihi kita. Kasih Allah tidak dibangun di atas prestasi manusia, kesalehan beragama, tetapi di atas karya Kristus di kayu salib. Di dalam Kristus, kita menerima janji kehidupan, pengampunan, dan status sebagai anak-anak Allah. Yesus datang menggenapi Hukum Taurat dan menyelamatkan kita. Di kayu salib, Kristus melakukan apa yang tidak mampu dilakukan manusia. Manusia gagal menaati hukum Tuhan, tetapi Kristus taat sampai mati. Manusia jatuh dalam dosa, tetapi Kristus menanggung dosa itu. Karena itu keselamatan bukan hasil usaha manusia, melainkan anugerah Allah.
Ini bukan berarti orang percaya bebas hidup sembarangan. Iman sejati justru melahirkan kehidupan baru. Percaya Kristus berarti mengenakan Kristus, meninggalkan hidup lama dan beroleh identitas baru sebagai yang menerima warisan janji Allah dan karena itu hidup dengan mencerminkan Kristus. Hari ini banyak orang hidup hanya sebatas “agama aturan.” Kelihatannya rohani, tetapi hatinya kering. Kita bisa terlihat baik di luar, tetapi hati penuh iri, marah, sombong, dan kepahitan. Rajin ibadah dan aktif melayani tetapi mudah membenci. Pandai bicara Firman Tuhan tetapi sulit mengampuni. Tuhan tidak hanya mau ketaatan lahiriah. Tuhan menghendaki hati yang sungguh percaya kepada-Nya.
Karya keselamatan dari Yesus menyatukan semua orang percaya. Tidak ada lagi perbedaan yang membatasi manusia di hadapan Tuhan — Yahudi atau Yunani, budak atau orang merdeka, laki-laki atau perempuan — semuanya satu di dalam Kristus. Injil meruntuhkan tembok kesombongan, status sosial, suku, dan latar belakang manusia. Galatia 3 mengingatkan bahwa dasar persekutuan orang percaya bukan kesempurnaan manusia, tetapi kasih karunia Kristus. Karena itu, mari kita renungkan: apakah kita sedang hidup berdasarkan hukum atau berdasarkan janji? Apakah kita melayani Tuhan karena takut ditolak, atau karena bersyukur telah dikasihi? Apakah kita mengandalkan kekuatan diri, atau percaya kepada kasih karunia Kristus? Maka marilah kita hidup dalam ketaatan bukan sekedar kewajiban tetapi dalam sukacita sebagai penerima janji Allah. Orang yang hidup berdasarkan janji Allah akan memiliki pengharapan. Sebab janji Tuhan tidak berubah. Ketika kita jatuh, janji Tuhan tetap ada. Ketika kita lemah, kasih Tuhan tidak berubah. Kita bertumbuh dalam janji bahwa Tuhan mengasihi kita, janji bahwa Kristus menebus kita, janji bahwa Roh Kudus menyertai kita, dan janji keselamatan di dalam Yesus. Tuhan tidak meninggalkan saudara. Janji Tuhan tidak pernah terlambat digenapi. Amin


Belum ada Komentar untuk "HUKUM TAURAT ATAU JANJI (Galatia 3:15-29)"
Posting Komentar
Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.