KHOTBAH 2: PEMBENARAN DAN HIDUP BARU DALAM KRISTUS (Galatia 2:15-21)
Seorang anak nelayan belajar tentang kehidupan nelayan dari ayahnya. Ia bagaimana caranya memancing, menjala ikan, membaca arah angin, kenal arus. Anak itu benar – benar tumbuh besar dalam warisan leluhurnya, menjadi nelayan yang pantang menyerah dan pelaut yang tangguh. Suatu ketika saat sedang melaut sendirian, badai besar datang. Ia nyaris tenggelam dan mati. Ternyata semua pengetahuannya tentang laut, semua warisan leluhur sebagai nelayan hebat, itu tidak cukup menyelamatkan dirinya. Syukurlah ada orang yang datang menolongnya sehingga ia selamat. Si nelayan itu sadar satu hal: Pengetahuan dan tradisi itu penting, tetapi keselamatan datang bukan dari itu, melainkan dari pertolongan yang ia terima.
Apa yang kita banggakan dalam kekristenan kita? Kristen sejak lahir, jasa – jasa dalam gereja, pengetahuan tentang Alkitab, aktif dalam setiap kegiatan, tradisi turun- temurun, pelayanan yang sukses? Apakah semua itu cukup untuk membuat kita masuk surga? Apakah semua bisa membuat kita selamat? Sama sekali tidak. Keselamatan kita adalah anugerah dari Tuhan dalam karya pengorbanan Yesus. Yang terutama bukan apa yang kita kerjakan melainkan apa yang Yesus kerjakan bagi kita: kasih karuniaNya yang menyelamatkan kita semua. Dalam Galatia 2:15-21, Paulus berbicara tentang Hukum Taurat dan Kasih Karunia Allah. Paulus jelaskan tentang orang Yahudi dengan Hukum Taurat. Mereka merasa memiliki kelebihan, mereka punya hukum Taurat, mereka punya tradisi rohani, mereka merasa lebih “dekat” dengan Allah. Umat pilihan Allah. Tapi Hukum Taurat itu ibarat cermin. Cermin menunjukkan kotoran, tetapi tidak bisa membersihkan kotoran itu. Orang percaya di masa Galatia dipengaruhi dengan pemahaman bahwa kalau mentaati hukum Taurat, maka akan dibenarkan dan diselamatkan. Kalau dapat melakukan semua tuntutan hukum Taurat sebanyak 613 butir ajaran, maka dijamin akan selamat. Tapi Paulus menegaskan: “bahwa tidak seorang pun yang dibenarkan karena melakukan hukum Taurat, tetapi melalui iman kepada Yesus Kristus” (ayat 16).
Kita semua tahu Rasul Paulus itu sebelum bertobat adalah seorang penganut ajaran Yahudi yang sangat fanatik dan membenci pengikut Kristus. Kalau ia menyatakan tidak seorang pun yang dibenarkan karena mentaati hulum Taurat, kecuali oleh iman kepada Kristus, ini menunjukkan titik balik dalam kehidupannya. Titik balik ini terjadi karena perjumpaannya dengan Kristus di Damsyik dan diselamat Kristus (Kis 9:1 – 19). Damsyik adalah momen yang menentukan pembaruan dalam kehidupan Rasul Paulus, dari seorang yang meyakini kebenaran karena hukum Taurat, menjadi seorang yang sangat percaya dan teguh menyakini, bahwa kebenaran hanya melalui iman kepada Yesus Kristus.
Hidup orang percaya bukan berpusat kepada Hukum Taurat tetapi kepada Kristus. Ayat 20 adalah pusat dari hidup baru dalam Kristus. “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Dari hidup untuk diri sendiri, menjadi hidup untuk Kristus. Dulu aku mengikuti keinginanku, sekarang aku mengikuti kehendak Tuhan. Inilah yang utama. Bukan sekadar “orang Kristen”, tetapi Kristus hidup dalam kita.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,
Firman ini sangat relevan untuk kita hari ini.
ü Jangan Bersandar Pada Status, Tetapi Pada Iman
Sama seperti orang Yahudi ditegur Paulus, kita pun diingatkan bahwa menjadi "Kristen keturunan" tidak otomatis membuat kita benar di hadapan Allah. Jangan sampai kita bangga dengan nama Kristen kita, tapi hidup kita tidak memuliakan Kristus.
ü Tinggalkan Hidup Lama, Hidup Dalam Kristus
Kalau Kristus hidup dalam kita, maka cara bicara kita berubah, cara kita memperlakukan orang berubah, cara kita menghadapi masalah berubah. Dalam kehidupan sehari-hari: Saat ekonomi sulit, tetap percaya Tuhan
Saat sakit, tetap berharap kepada Tuhan
Saat konflik keluarga, tetap mengampuni. Itulah tanda Kristus hidup dalam kita.
ü Kita sering gagal tapi kasih karunia Tuhan tidak menolak kita.
Jika Kristus hidup di dalam kita, maka: saat kita kekurangan, kita tidak putus asa karena ada Sumber Hidup di dalam kita. Saat kita disakiti, kita bisa mengampuni karena Kristus yang penuh kasih itu ada di dalam kita. Saat kita bekerja di kebun atau melaut, kita melakukannya dengan jujur karena kita tahu Tuhan melihat hati kita.
Jangan lagi mendayung sendirian melawan arus dunia yang keras ini. Peganglah "tali" kasih karunia Kristus. Biarlah Dia yang memimpin perahu hidupmu sampai ke pelabuhan damai sejahtera. Badai selalu ada, perahu bisa karam, tenaga bisa lelah. Tetapi jika Kristus yang pimpin perjalananmu maka engkau tetap aman. Saat kita berhenti mengandalkan hebatnya dirimu, di situlah engkau akan menemukan dahsyatnya Kasih Karunia-Nya. Amin


Belum ada Komentar untuk "KHOTBAH 2: PEMBENARAN DAN HIDUP BARU DALAM KRISTUS (Galatia 2:15-21)"
Posting Komentar
Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.