KHOTBAH PEMAKAMAN SEORANG PEMUDA: BUKAN KEHENDAKKU, MELAINKAN KEHENDAKMU (Matius 26:39)
Hari ini adalah hari yang sangat berat bagi kita semua. Kita berkumpul di tempat ini dengan hati yang penuh duka untuk melepas orang terkasih kita. Kepergian seseorang selalu menyakitkan, tetapi ketika kematian datang di usia yang masih muda, luka itu terasa lebih dalam. Banyak rencana yang belum terwujud, banyak mimpi yang belum sempat dijalani, dan banyak harapan yang terasa terhenti begitu saja. Di dalam hati kita mungkin muncul begitu banyak pertanyaan. Mengapa harus terjadi sekarang? Mengapa Tuhan mengizinkan seseorang yang masih muda dipanggil begitu cepat? Mengapa kehidupan yang terlihat masih panjang tiba-tiba berakhir? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sangat manusiawi. Kesedihan yang kita rasakan hari ini adalah bukti bahwa kita sungguh mengasihi almarhum. Air mata yang kita keluarkan adalah bahasa hati yang tidak selalu bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Hari ini firman Tuhan mengajak kita melihat sebuah momen yang sangat dalam dalam kehidupan Tuhan Yesus, yaitu doa-Nya di taman Getsemani seperti yang tertulis dalam Matius 26:39: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Malam itu adalah malam yang sangat berat bagi Yesus. Ia tahu bahwa beberapa jam lagi Ia akan ditangkap, diadili secara tidak adil, disiksa, dan akhirnya disalibkan. Yesus tahu betapa besar penderitaan yang menanti-Nya. Alkitab menggambarkan bahwa di taman Getsemani, hati Yesus begitu tertekan. Ia berdoa dengan pergumulan yang sangat dalam. Ia berkata kepada Bapa-Nya, “Jika mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku.” Yesus merasakan beratnya penderitaan dan pergumulan yang mendalam.
Firman Tuhan ini mengingatkan kita bahwa Tuhan mengerti perasaan kita. Tuhan tidak jauh dari kesedihan kita. Tuhan tidak asing dengan air mata manusia. Hari ini mungkin ada orang tua yang hatinya hancur karena kehilangan anak. Ada saudara yang kehilangan adik atau kakak. Ada sahabat yang kehilangan teman seperjalanan. Ada kenangan-kenangan indah yang sekarang hanya tinggal di dalam ingatan. Tetapi Tuhan melihat semuanya itu. Ia melihat setiap air mata yang jatuh. Ia mengetahui setiap luka yang ada di dalam hati kita. Mazmur berkata bahwa Tuhan menyimpan air mata umat-Nya. Artinya, tidak ada satu pun kesedihan kita yang luput dari perhatian Tuhan. Perhatikan, doa Yesus tidak berhenti pada kalimat pertama. Setelah berkata, “Biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku,” Yesus melanjutkan dengan kalimat yang sangat kuat: “Tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Kalimat ini adalah kalimat penyerahan yang luar biasa. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa iman bukan berarti kita selalu mengerti jalan Tuhan. Iman sering kali berarti kita tetap percaya kepada Tuhan bahkan ketika kita tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Sering kali kita memiliki rencana dalam hidup. Kita memiliki mimpi. Kita membayangkan masa depan yang indah. Terlebih ketika kita melihat seorang pemuda, kita membayangkan masa depan yang panjang: pekerjaan, keluarga, pelayanan, dan begitu banyak hal baik yang bisa terjadi. Tetapi hidup manusia berada di dalam tangan Tuhan. Alkitab berkata bahwa hidup manusia seperti rumput. Pagi hari ia tumbuh dan segar, tetapi pada petang hari ia menjadi layu. Kehidupan kita rapuh dan terbatas. znamun di tengah kenyataan itu, kita percaya satu hal: Tuhan tidak pernah salah dalam rencana-Nya. Hari ini kita memang tidak mengerti mengapa Tuhan mengizinkan hal ini terjadi. Kita mungkin tidak akan pernah mendapatkan jawaban yang lengkap dan memuaskan. Tetapi iman mengajarkan kita untuk mempercayai Tuhan, bahkan ketika kita tidak mengerti maksud Tuhan.
Ketika kematian datang, sering kali kita merasa dunia menjadi kosong. Kehadiran yang biasanya kita lihat sudah tidak ada lagi. Suara yang biasa kita dengar sudah tidak terdengar lagi. Senyum yang biasa kita nikmati sekarang hanya tersimpan di dalam kenangan. Rumah terasa lebih sunyi. Hari-hari terasa berbeda. Ada kursi yang kosong. Ada tempat yang terasa tidak sama lagi. Itulah sebabnya proses berduka adalah sesuatu yang sangat nyata. Tidak ada orang yang bisa memaksa hati untuk segera kuat. Tidak ada orang yang bisa berkata bahwa luka ini akan hilang dalam satu atau dua hari. Berduka adalah bagian dari kasih. Jika kita tidak mengasihi, kita tidak akan merasa kehilangan.
Yesus sendiri pernah menangis ketika sahabat-Nya Lazarus meninggal. Alkitab bahkan mencatat ayat yang sangat singkat tetapi sangat dalam: “Yesus menangis.” Artinya, Tuhan tidak melarang air mata. Tuhan tidak melarang kesedihan. Tuhan memahami perasaan kita sebagai manusia. Karena itu kepada keluarga yang ditinggalkan, hari ini kami ingin mengatakan: tidak apa-apa untuk menangis. Tidak apa-apa untuk merasa kehilangan. Tuhan mengerti luka hati ini. Namun di tengah kesedihan ini, iman Kristen memberikan kita sesuatu yang sangat berharga, yaitu pengharapan. Yesus yang berdoa di taman Getsemani adalah Yesus yang kemudian mati di kayu salib. Tetapi kisah itu tidak berhenti di sana. Tiga hari kemudian Yesus bangkit dari kematian. Kebangkitan Yesus adalah dasar pengharapan bagi setiap orang percaya. Salib bukanlah akhir cerita. Kematian bukanlah titik terakhir. Alkitab mengajarkan bahwa bagi orang yang percaya kepada Tuhan, kematian bukanlah kehancuran, melainkan pintu menuju kehidupan yang kekal. Tubuh manusia memang kembali menjadi debu. Tetapi jiwa berada di dalam tangan Tuhan. Itulah sebabnya di tengah air mata hari ini, kita tidak hanya membawa kesedihan, tetapi juga membawa pengharapan. Kita percaya bahwa kehidupan manusia tidak berhenti di liang kubur. Tuhan memegang kehidupan setiap anak-Nya, baik di dunia ini maupun di dalam kekekalan.
Kepergian seorang pemuda juga menjadi pengingat bagi kita semua tentang betapa berharganya waktu yang Tuhan berikan kepada kita. Sering kali manusia hidup seolah-olah waktu masih sangat panjang. Kita menunda banyak hal. Kita menunda untuk mengasihi. Kita menunda untuk berdamai. Kita menunda untuk melakukan kebaikan. Padahal hidup manusia tidak pernah kita pegang sepenuhnya. Karena itu peristiwa hari ini juga mengajak kita untuk merenungkan hidup kita sendiri. Selama Tuhan masih memberikan kita waktu, marilah kita belajar hidup dengan lebih bermakna. Mari kita belajar lebih mengasihi keluarga kita. Lebih menghargai orang-orang yang ada di sekitar kita. Lebih setia dalam iman kepada Tuhan. Dan lebih sungguh-sungguh menjalani kehidupan yang Tuhan percayakan kepada kita. Kadang-kadang Tuhan berbicara kepada kita melalui peristiwa-peristiwa kehidupan yang paling menyentuh hati. Bahkan melalui duka, Tuhan bisa mengingatkan kita tentang apa yang paling penting dalam hidup ini.
Hari ini kita juga belajar dari doa Yesus di Getsemani tentang arti penyerahan. Yesus berkata, “Bukan kehendakku, tetapi kehendak-Mu yang jadi.” Penyerahan seperti ini tidak mudah. Ia tidak lahir dari kata-kata yang ringan. Ia lahir dari pergumulan, dari air mata, dari doa yang dalam. Tetapi di situlah iman menemukan kekuatannya. Ketika kita tidak mampu memahami semuanya, kita tetap berkata kepada Tuhan: “Tuhan, kami mempercayakan hidup kami ke dalam tangan-Mu.” Hari ini kita juga melakukan hal yang sama. Kita menyerahkan kembali kehidupan yang pernah Tuhan percayakan kepada kita. Almarhum adalah pemberian Tuhan bagi keluarga, sahabat, dan semua orang yang mengenalnya. Kehadirannya telah menjadi bagian dari cerita hidup banyak orang. Ada kenangan yang indah. Ada tawa yang pernah dibagikan. Ada kebersamaan yang pernah dijalani. Semua itu tidak akan pernah hilang begitu saja. Kenangan itu akan tetap hidup di dalam hati kita. Dan hari ini kita menyerahkan kembali kehidupannya ke dalam tangan Tuhan yang penuh kasih.
Di tengah duka ini, kita percaya bahwa Tuhan tidak meninggalkan kita. Ia berjalan bersama kita bahkan di lembah yang paling gelap sekalipun. Alkitab berkata dalam Mazmur 23:
“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.” Hari ini mungkin kita sedang berjalan di lembah yang gelap. Tetapi kita tidak berjalan sendirian. Tuhan ada bersama kita. Ia memeluk hati yang terluka. Ia menguatkan yang lemah. Ia memberi damai kepada hati yang hancur. Tuhan memberikan kekuatan khusus kepada keluarga yang ditinggalkan. Tuhan memelihara hati yang sedang berduka. Tuhan memberikan penghiburan yang tidak dapat diberikan oleh manusia. Peristiwa kematian ini mengajak kita semua untuk semakin mendekat kepada Tuhan. Marilah kita mengingat kembali doa Yesus yang menjadi penguatan bagi kita hari ini: “Ya Bapa-Ku… bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.” Tuhan menghibur kita, menguatkan kita, dan memberikan damai sejahtera di tengah duka ini. Amin.


Belum ada Komentar untuk "KHOTBAH PEMAKAMAN SEORANG PEMUDA: BUKAN KEHENDAKKU, MELAINKAN KEHENDAKMU (Matius 26:39)"
Posting Komentar
Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.