TETAP SETIA SAAT IMAN DIUJI (Markus 14:26-31)
Satu bangunan yang berdiri kokoh saat terjadi goncangan gempa, kita melihat atau kita rasakan bangunan yang kuatpun itupun bisa goyah, terasa bergoyang bahkan dapat hancur tergantung kekuatan goncangannya. Yesus sampaikan bahwa Petrus dan para murid lain, mereka semua akan tergoncang imannya. Bahkan Yesus menunjuk pada nubuat Zakharia 3:17 saat gembala dipukul domba – dombapun tercerai-berai. Ketika Yesus ditangkap, para murid memang melarikan diri dan tercerai-berai. Setiap kita juga menjadi seperti Petrus dan para murid, siap mati untuk Yesus tapi goyah juga saat berhadapan dengan ujian. Tema kita: Tetap Setia Saat Iman di Uji. Setia berarti tetap teguh, tidak berubah, dan tetap berpegang pada komitmen walaupun menghadapi kesulitan, godaan, atau ujian. Kesetiaan bukan hanya soal kata-kata, tetapi terlihat dalam sikap hati, keputusan, dan tindakan.
Apa yang kita pelajari dari bacaan ini? Ujian iman bisa datang kepada siapa saja. Tidak ada seorang pun yang kebal terhadap ujian iman. Para murid adalah orang-orang yang sangat dekat dengan Yesus. Mereka berjalan bersama-Nya, melihat mukjizat-Nya, mendengar pengajaran-Nya, bahkan menyaksikan kuasa Tuhan secara langsung. Namun mereka semua goyah juga. Petrus menjawab Yesus: "Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak." Petrus merasa dirinya lebih kuat daripada murid-murid yang lain. Ia yakin bahwa kesetiaannya tidak akan pernah goyah. Yesus mengingatkan Petrus "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada hari ini, malam ini juga, sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Dan Petrus tetap sanggah Yesus. "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau." Semua yang lainpun berkata demikian juga. Petrus dan murid – murid nih percaya diri sekali. Tapi Yesus sangat kenal Petrus dan murid-murid. Yesus tahu kelemahan Petrus. Yesus tahu apa yang akan terjadi pada Petrus. Bahwa Petrus akan menyangkal Yesus. Bahwa Para murid semuanya akan tercerai berai meninggalkan Yesus. Tapi Petrus sangat percaya diri, percaya diri itu bagus, tapi percaya diri lebih dari Tuhan itu berbahaya. Kesombongan bisa membuat seseorang jatuh. Ini mengingatkan kita betapa rapuh dan lemahnya. Pada diri kita sebagai manusia, manusia yang fana, butiran debu ini. Jadi kita tidak dapat mengandalkan kekuatan, kehebatan, kepintaran kita untuk bisa setia dalam ujian. Kesetiaan kepada Tuhan tidak bergantung pada kekuatan kita, melainkan pada anugerah Tuhan. Kerendahan hati adalah kunci untuk tetap setia kepada Tuhan.
Kita bersyukur kita punya Allah di dalam Yesus yang sangat mengenal kita, tahu kelemahan kita dan mau memulihkan kita. Kepada para murid Yesus menegaskan bahwa sesudah goncangan iman itu Yesus akan bangkit, Aku akan mendahului para murid ke Galilea. Ada kemenangan dan ada pemulihan dari Yesus bagi barang siapa yang setia. Yesus sudah mengetahui bahwa Petrus akan menyangkal Dia. Namun Yesus tidak berkata: "Petrus, engkau tidak layak lagi menjadi murid-Ku." Tidak. Yesus tetap menerima Petrus. Tuhan mengenal kita lebih dalam daripada kita mengenal diri sendiri. Ia tahu, kelemahan kita, ketakutan kita, keraguan kita, bahkan kegagalan kita. Apapun keadaan kita, Tuhan tetap mengasihi kita. Tuhan tidak menyerah kepada kita, bahkan ketika kita jatuh. Petrus memang menyangkal Yesus. Tetapi kemudian Petrus dipulihkan. Jika kita kembali kepada Tuhan, Tuhan dapat memulihkan kita. Di minggu sengsara yang ke 5 ini kita juga berhadapan dengan banyak ujian. Tapi percayalah Tuhan berkuasa dan pimpin kehidupan kita. Hari ini akan dilantik 9 orang Panitia Pemilihan Majelis Jemaat yang juga dibantu 10 orang tim sekretariat, humas dan perlengkapan. Di tahun ini, tahun terakhir pelayanan 2022-2027, Panitia yang akan dilantik ini akan bersama kita semua dalam proses Pemilihan Majelis Jemaat Baru periode 20277-2031. Kita percaya kuasa Tuhan yang menolong semua proses itu. Tuhan kenal kita. Tuhan akan siapkan orang - orang yang dipilihnya untuk pekerjaan kudus Tuhan dan jika dalam pelayanan ada ujian iman. Ingatlah, ujian kehidupan adalah cara Tuhan memurnikan iman kita. Seperti emas yang dimurnikan dalam api, iman juga dimurnikan melalui pergumulan.
Kesetiaan kepada Tuhan tidak selalu membuat hidup lebih mudah. Namun kesetiaan membuat hidup lebih bermakna. Karena ketika kita setia kepada Tuhan, kita tidak pernah berjalan sendirian. Iman bisa diuji. Manusia bisa jatuh. Tetapi kasih Tuhan tidak pernah berubah. Minggu Laetare mengingatkan kita bahwa ketika iman kita diuji, marilah kita mengingat: Yesus setia kepada kita. Dan karena Dia setia, kita pun dipanggil untuk tetap setia kepada-Nya. Saat ada di antara kita yang sedang mengalami ujian iman; pergumulan keluarga, kesulitan ekonomi, sakit penyakit, kekecewaan hidup. Ingatlah satu hal Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ketika kita jatuh, Tuhan mengangkat kita. Ketika kita lemah, Tuhan menguatkan kita. Ketika kita hampir menyerah, Tuhan memberi pengharapan baru. Karena itu jangan mengandalkan kekuatan sendiri, tetap percaya. Tetap berharap. Tetap setia. Tetaplah bergantung kepada Tuhan dalam iman yang setia ditengah ujian. Sebab kesetiaan yang sejati bukanlah tentang tidak pernah jatuh, tetapi tentang tetap kembali kepada Tuhan dan tetap berjalan bersama-Nya. Amin. Selamat Hari Minggu. Tuhan memberkati.


Belum ada Komentar untuk "TETAP SETIA SAAT IMAN DIUJI (Markus 14:26-31)"
Posting Komentar
Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.