KENIKMATAN CINTA (Kidung Agung 7:6-8:4)

Manusia adalah makhluk relasional, makhluk yang ada dan senantiasa ada dalam relasi-relasi. Relasi atau hubungan dengan sesamanya maupun dengan dunia sekitarnya. Tanpa relasi manusia kehilangan hakikatnya sebagai manusia. Sejak awal pembentukannya dari debu tanah yang kemudian menjadi makhluk hidup (Kej 2:7), manusia sudah dihadirkan dalam keberadaan sebagai makhluk yang terinteraksi dengan sekitarnya, terutama dengan sesamanya manusia. Allah sendiri berfirman, “tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan baginya penolong yang sepadan dengan dia” (Kej 2:18). Penolong manusia itu, yang dikenal dengan panggilan Hawa, dibentuk dari salah satu bagian tubuh manusia itu, yakni rusuknya (Kej 2:21), dan ini mempertegas keberadaan manusia yang tidak bisa terlepas dari manusia yang lain. Ada rasa yang sangat kuat mengikat relasi manusia itu. Rasa yang kuat itu kini dikenal dengan sebutan cinta. Rasa inilah yang diungkap oleh Adam ketika menyambut Hawa, “inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku” (Kej 2: 23). Bisa dikatakan inilah ungkapan cinta yang tertua dalam kehidupan manusia.

 

Salomo secara atraktif menggambarkan keindahan cinta itu dalam kitab Kidung Agung antara lain pada bagian yang menjadi bahan bacaan dan kotbah pada hari ini, yaitu Kidung Agung 7: 6 – 13 dan 8: 1- 4. Dengan sangat menarik dan dalam ugkapan-ungkapan yang romantis cinta itu dilukiskan sebagai sebuah relasi yang di dalamnya terdapat sapaan yang mengandung pujian dan penghargaan atas kepribadian orang yang dicintai. Simak saja kata-kata ini, “betapa cantik, betapa menyenangkan engkau, hai tercinta di antara yang disenangi” (7:6). Tak segan-segan pujian itu  menyasar pada kondisi tubuh pasangan yang penuh pesona. “Tinggi badanmu seperti pohon kurma, dan buah dadamu gugusan buahnya” (7:7). Pesona yang membuat pasangan ini ingin menikmati keindahannya. “Aku ingin memanjat pohon kurma itu, dan memegang gugusan-gugusan buahnya” (7:8). Wao…ungkapan yang dapat membawa kepada khayalan kenikmatan sentuhan cinta. Apapun kesan yang ada pada benak setiap orang mengenai ungkapan-ungkapan cinta tersebut, tetapi ini pelajaran penting bagi setiap pasangan suami-istri, bahwa relasi dalam kehidupan bersama akan tetap terjaga dan langgeng jika ada ungkapan-ungkapan dan tindakan-tindakan yang mengandung pujian dan penghargaan terhadap satu dengan yang lain.

 

Relasi cinta yang indah dan penuh daya tarik itu bukanlah tujuan akhir dari cinta. Cinta itu untuk mengikat kesatuan agar ada kebersamaan dalam menjalankan tanggung jawab bersama.  Cerna baik-baik ajakan ini. “Mari, kita pergi pagi-pagi  ke kebun anggur, dan melihat apakah pokok anggur sudah bersemi, apakah sudah mekar bunganya, apakah pohon-pohon delima sudah berbunga”(7:12). Justru dalam kesatuan dan kebersamaan bekerja relasi cinta akan semakin kuat, di situ cinta akan terus tumbuh, sebab “di sanalah akan kuberikan cintaku kepadamu” (7:12). Cinta akan terus tumbuh dan semakin kuat seperti maut (8:6) dalam kesatuan dan kebersamaan melakukan pekerjaan-pekerjaan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Ini metafora yang menarik untuk menggabarkan relasi gereja dengan Kristus. Juga menarik untuk menjadi pelajaran bagi orang Kisten, termasuk bagi warga GKI, dalam upaya membangun hubungan iman dengan Yesus Kristus. Relasi cinta tersebut dapat menjadi pelajaran penting bagaimana sejatinya relasi dengan Kristus itu berlangsung, karena Dia juga menggambarkan diriNya sebagai mempelai laki-laki bagi jemaat sebagai pengantin perempuan (Why 19: 7 – 9).  Relasi jemaat dengan Yesus patut berlansung dalam suatu hubungan sekuat relasi cinta antara kekasih dan pasangannya, kuat seperti maut yang tidak bisa dicegah. Bagi GKI di tanah Papua relasi dengan Kristus seperti itu patut mendapat perhatian serius oleh setiap warga GKI, sebab GKI mengaku bahwa Yesus Kristus itu adalah Tuhan dan Kepala gereja. Bagaimana mungkin persekutuan dan kesatuan dengan Kepala Gereja berlangsung dengan benar kalau warga gereja tidak memiliki hubungan yang kokoh dengan Kristus sang Kepala Gereja. Bagaimana hubungan yang kokoh itu bisa terbangun di antara warga GKI dan Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja? Relasi itu bisa terbangun dan menjadi semakin kokoh hanya ketika kita ada dalam kesatuan dengan Yesus menjalankan misi gereja ini, yakni misi mendirikan tanda-tanda Kerajaan Alah melalui dan di dalam persekutuan, kesaksian, pelayanan kasih dan keadilan. Dengan menjalankan misi tersebut kita semakin mengalami cinta-kasih Kristus, sebab kata sang mempelai laki-laki, “di sanalah akan kuberikan cintaku kepadamu” (7:17).

 

Oleh karena itu, mengutip ajakan dalam 7:12, “mari, kita pergi pagi-pagi ke kebun anggur, dan melihat apakah pokok anggur sudah bersemi, apakah sudah mekar bunganya, apakah pohon-pohon delima sudah berbunga”. Ajakan untuk “pergi pagi-pagi” menunjukkan pentingnya kesungguhan kita memberi segenap waktu dan tenaga bagi pekerjaan Tuhan dalam gereja-Nya dan melihat apakah pekerjaan-pekerjaan itu telah membawa umat mengalami tanda-tanda Kerajaan Allah dalam kehidupan yang adil, damai dan sejahtera. Sudah 70 tahun kita bekerja bersama Tuhan di kebun anggur-Nya, yakni Tanah Papua. “Apakah pokok anggur sudah bersemi, apakah sudah mekar bunganya, apakah pohon-pohon delima sudah berbunga”. Apakah sudah berhasil dan berbuah pekerjaan kita selama ini? Tentu kita dengan bangga dapat mengatakan bahwa pekerjaan kita tidak sia-sia. Namun, kita tidak bisa menutup mata terhadap realitas paradoks Papua, Papua yang kaya tetapi miskin, Papua yang maju tetapi terbelakang, Papua yang berpendidikan tetapi masih buta huruf, Papua banyak uang tetapi minus bagi kesejahteraan, Papua Otsus tetapi tidak mandiri. Mari kita pergi pagi-pagi dan terus bekerja di dalam Kristus Kepala Gereja sampai kebun anggur milik Tuhan ini bebas dari kemiskian, ketertinggalan, buta huruf, ketergantungan, dan tragedi kemanusiaan. Kita sadar pergi pagi-pagi untuk bekerja sampai kebun anggur itu berbunga dan berbuah tidak semudah membalik telapak tangan. Karena ada multi tantangan dan hambatan yang akan menjadi penghalang dan harus dihadapi. Namun demikian, ketika kita benar-benar bekerja dalam kesatuan dengan Kristus di situlah kita akan semakin kokoh, karena “di sanalah”, kata sang Kepala Gereja, “aku akan memberikan cintaku kepadamu”! Marilah kita jalin relasi iman ini semakin dalam dan kokoh, sebab di situlah karya-karya pelayanan kita akan berbuah. Hal senada pernah disampaikan Rasul Paulus kepada orang Kristen di Korintus, ketika dia berkata, “Karena itu, saudara-saudaraku yang terkasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab, kamu tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Kor 15:58). Mari kita tetap dan terus giat dalam pekerjaan Tuhan, jangan goyah, apapun tantangan dan hambatan yang mesti dihadapi dan patut diatasi, percayalah dalam kesatuan dengan Kristus pelayanan kita akan berbuah, sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil (Luk 1:37). Amin! (Penulis: Pdt. Dr. Sostenes Sumihe, M. Th)        

 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "KENIKMATAN CINTA (Kidung Agung 7:6-8:4)"

Posting Komentar

Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.

YANG PALING BARU

KENIKMATAN CINTA (Kidung Agung 7:6-8:4)

ABOUT ME

Foto saya
Sorong, Papua Barat Daya, Indonesia
Menemukan PELANGI dalam hidup sendiri dan menjadi PELANGI di langit hidup sesama. Like and Subscribe my youtube channel: DEAR PELANGI CHANNEL

Iklan

Display

Inarticle

Infeed