ROH KUDUS MEMBANGUN TANAH DAN HATI YANG BARU (Yehezkiel 36:1-38)
Ketika kita hendak berpisah dengan seseorang acapkali kita berkata, “Tuhan menyertaimu”. Ucapan ini kedengarannya biasa-biasa saja, seperti sebuah pernyataan kesantunan terhadap orang yang bersahabat dengan kita. Ucapan ini sesungguhnya merupakan sebuah doa mengenai penyertaan Tuhan. Ucapan ini jauh sebelum kita menggunakannya sudah digunakan oleh Yesus saat hendak berpisah dengan murid-murid-Nya. “Aku menyertai kamu”, kata Yesus kepada murid-murid-Nya, seperti dicatat dalam Matius 28:20. Ucapan Yesus itu bukan ungkapan kesantunan, melainkan sebuah janji, bahwa Tuhan tidak membiarkan murid-murid itu sendirian. Tetapi bagaimana janji ini menjadi nyata, bagaimana Yesus menyertai murid-murid sementara Dia sendiri tidak lagi bersama-sama mereka? Yesus menyertai di dalam dan melalui Roh Kudus, sebagaimana yang Dia janjikan (Yoh 14: 15 – 17) Ketika hari ini kita merayakan Pentakosta, keturunan Roh Kudus, kita sedang merayakan peristiwa yang menyatakan kehadiran dan penyertaan Allah dalam kehidupan kita.
Kehadiran dan penyertaan Allah di dalam Roh-Nya, Roh Kudus, tidak sekedar hadir dan menyertai, melainkan berkarya untuk keselamatan umat-Nya. Yesus sudah menyelamatkan kita dari dosa dan maut, Allah hadir di dalam Roh-Nya untuk menjaga kita agar tetap ada dan hdup dalam keselamatan, agar kita tetap berjalan dalam kebenaran dan kekudusan. Bangsa Israel mengalami kehadiran Allah melalui dan di dalam tindakan yang menyelamatkan. Tindakan keselamatan itu tidak hanya membarui kehidupan orang Israel, tetapi juga tanah di atasnya bangsa itu hidup. Perhatikanlah perintah Allah kepada Yehezkiel untuk bernubuat mengenai pembaruan tanah Israel. “Sebab itu, bernubuatlah mengenai tanah Israel dan katakanlah kepada gunung-gunung dan bukit-bukit, kepada alur-alur sungai dan lembah. Gunung-gunung Israel akan bertunas kembali dan memberi buah untuk umat-Ku Israel, sebab mereka akan segera kembali”(Ayat 6 dan 8). Ketika bangsa Israel terbuang dari hadapan Allah, tanah mereka pun berada di bawah kuasa ilah-ilah asing. Karena itu, penyelamatan dan pembaruan Israel bersifat komprehensif, menyeluruh, meliputi umat Israel dan tanahnya. Bukan hanya orang Israel yang harus ada di bawah kuasa Allah, melainkan segenap negeri itu, manusia dan tanahnya patut diselamatkan dan hidup di bawah kuasa Allah.
Hal yang serupa terjadi juga untuk Papua. Allah tidak hanya menyelamatkan orang Papua, melainkan tanah dan manusia Papua. Perhatikan doa Ottouw dan Geissler saat tiba di Mansinam, 5 Februari 1855, “Dengan nama Tuhan kami menginjak tanah ini”! Allah menyelamatkan dan membarui kehidupan orang Papua dan tanahnya. Oleh dan di dalam Injil tanah Papua dan bangsa Papua tidak lagi berada di bawah kuasa kegelapan melainkan ada di dalam terang Tuhan. Dengan tegas ini dinyatakan dalam moto GKI yang dikutip dari Epesus 5:8, “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan”. Dalam peristiwa Pentakosta atau keturunan Roh Kudus hari ini hendak menyatakan, bahwa Allah yang sudah menyelamatkan tanah dan bangsa Papua selalu hadir dan menyertai negeri ini, agar senantiasa berada dalam keselamatan Allah.
Sudah 170 tahun tanah Papua dan bangsa Papua ada di dalam Injil. Ini sama dengan mengatakan bahwa sudah 170 tahun tanah dan bangsa Papua hidup dalam terang Tuhan. Sebuah pertanyaan kritis, dalam 170 tahun tahun ini bangsa Papua ada di dalam terang Tuhan, apakah sudah tidak ada lagi kuasa kegelapan yang menodai keberadaan sebagai anak-anak terang? Tanpa mengabaikan tekat kita mempertahankan keberadaan sebagai anak-anak terang di dalam Tuhan, namun demikian kita patut dengan rendah hati mengakui bahwa acapkali kuasa kegelapan dan kejahatan menodai kekudusan kita sebagai anak-anak terang. Tanah kita acapkali tidak digunakan untuk kemuliaan Tuhan, melainkan untuk memuaskan keinginan dan nafsu kemanusiaan kita. Acapkali kehidupan dan diri kita tidak berjalan dalam kebenaran dan kekudusan sebagai anak-anak terang, tetapi menjadi hamba kejahatan. Peristiwa Pentakosta yang kita rayakan hari ini tanda bahwa Allah mau hadir untuk menyelamatkan dan membarui tanah dan bangsa Papua agar senantiasa hidup dan berjalan dalam keselamatan, hidup selalu dalam kebenaran dan kekudusan sebagai anak- anak terang .
Tuhan hadir melalui peristiwa Pentakosta dan hendak menyelamatkan serta membarui kehidupan kita bukan karena keberadaan kita sebagai anak-anak terang, tetapi karena kekudusan Tuhan di dalam kehidupan kita telah dicemarkan oleh kehidupan kita yang tidak berjalan dalam kebenaran dan kekudusan. Kejahatan yang ada dalam kehiduan kita sebagai anak-anak terang telah mencemarkan kekudusan Tuhan. Allah hadir dalam kuasa Roh-Nya membarui tanah dan bangsa Israel, karena kekudusan Allah telah dinajiskan bangsa itu. Perhatikan sabda Tuhan ini, “Bukan karena kamu Aku bertindak, hai kaum Israel, tetapi karena nama-Ku yang kudus kamu najiskan di antara bangsa-bangsa ke mana kamu pergi..” (ayat 22). Allah mau membarui kehidupan tanah Israel dan umat-Nya, agar nama Tuhan yang kudus itu di pulihkan, “maka bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN” (ayat 23). Allah hendak membarui bangsa Israel, agar mereka menjadi kesaksian akan keberadaan Allah dalam kehidupan umat-Nya. Peristiwa Pentakosta yang kita rayakan hari ini hendak menyadarkan kita, bahwa Allah hadir dan hendak membarui kehidupan kita, agar orang Kristen menjadi kesaksian di tengah bangsa ini bahwa Allah yang kudus itu adalah Tuhan dan Allah kita (ayat 28). Peristiwa Pentakosta hendaknya meyakinkan kita bahwa kehadiran dan penyertaan Tuhan dalam kehidupan kita adalah sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi. Tetapi kita bisa merasakan dan mengalami kehadiran dan penyertaan-Nya kalau kita benar-benar ada dalam persekutuan dan kesatuan dengan Tuhan. Dalam persekutuan dan kesatuan tersebut, kita akan mengalami bahwa “kamu akan menjadi umat-Ku dan Aku menjadi Allahmu” (ayat 28).
Kiranya dengan merayakan Keturunan Roh Kudus hari ini, kita memberi diri dan hidup ini bagi Tuhan untuk dibarui, agar senantiasa berjalan dalam kebenaran dan kekudusan sebagai anak-anak terang. Dalam ibadah tiap minggu ke-4 kita mengikrarkan pengakuan iman dan menyatakan bahwa GKI dan warganya adalah “persekutuan sorgawi di bumi”. Allah di dalam kuasa Roh Kudus hadir dan hendak membarui, agar GKI dan warganya senantiasa hidup memperlihatkan suasana sorgawi di tanah ini. Sudah tidak boleh ada kejahatan apapun bentuknya dalam gereja dan di atas tanah ini, karena tanah dan bangsa ini sudah 170 tahun hidup dalam terang Tuhan. Pentakosta hari ini patut menjadi titik awal bagi tanah dan bangsa Papua untuk menjalani hidup bergereja dan bermasyarakat dalam kebenaran dan kekudusan, agar menjadi kesaksian bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Kepala gereja ini. Keturunan Roh Kudus tidak kita rayakan sebagai tradisi gereja yang biasa-biasa saja, melainkan memotivasi suatu relasi yang baru dengan Tuhan, yaitu relasi atau hubungan yang sama sekali bebas dari kuasa dosa. Amin! (Penulis: Pdt. Dr. Sostenes Sumihe, M. Th)


Belum ada Komentar untuk "ROH KUDUS MEMBANGUN TANAH DAN HATI YANG BARU (Yehezkiel 36:1-38)"
Posting Komentar
Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.