RANCANGAN KHOTBAH: KEBERANIAN DALAM PENYERTAAN ALLAH (Ester 5:1-8)

Gagasan Utama

Allah bekerja melalui keberanian dan hikmat orang pilihanNya untuk memberi keselamatan bagi umatNya.

 

Tujuan yang Akan Dicapai

Jemaat memahami bahwa keberanian Kristen berakar pada iman kepada Allah yang menyertai sehingga jemaat tetap percaya bahwa penyertaan Allah memampukan orang percaya menghadapi tantangan hidup, pelayanan, keluarga, pekerjaan, maupun pergumulan pribadi.

 

Konteks Saat Itu

Kitab Ester berlatar belakang kehidupan bangsa Yahudi yang hidup dalam pembuangan di Persia. Raja Ahasyweros memerintah wilayah yang sangat luas, dari India sampai Etiopia.

Pada pasal sebelumnya, Haman berhasil mempengaruhi raja untuk mengeluarkan keputusan yang mengancam pemusnahan seluruh orang Yahudi. Mordekhai, yang mengetahui rencana tersebut, meminta Ester menggunakan posisinya sebagai ratu untuk memohon belas kasihan raja. Namun masalahnya tidak sederhana. Menurut hukum Persia, siapa pun yang masuk menghadap raja tanpa dipanggil dapat dihukum mati kecuali raja mengulurkan tongkat emasnya. Ester sudah tiga puluh hari tidak dipanggil menghadap raja (Ester 4:11). Dengan kata lain, tindakan Ester merupakan tindakan yang sangat berbahaya. Karena itu Ester mengajak seluruh orang Yahudi di Susan untuk berpuasa selama tiga hari. Setelah masa puasa itu berakhir, Ester berkata: "Kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati." Ucapan ini bukan ungkapan putus asa, melainkan pernyataan iman dan keberanian. Pasal 5 menjadi titik balik dalam cerita. Setelah puasa dan doa, Ester melangkah maju. Kita melihat bagaimana Allah bekerja melalui keberanian seorang perempuan yang bersedia dipakaiNya.

 

Kaitan dengan Perjanjian Baru

Kisah Ester mengingatkan kita kepada Yesus Kristus. Ester mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan bangsanya. Yesus bukan hanya mempertaruhkan nyawa-Nya, tetapi menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib untuk menyelamatkan dunia. Ibrani 4:16 berkata: "Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia." Keberanian para rasul dalam Kisah Para Rasul juga menunjukkan prinsip yang sama. Setelah dipenuhi Roh Kudus, mereka berani bersaksi meskipun menghadapi ancaman dan penganiayaan. Keberanian selalu lahir dari kesadaran bahwa Allah hadir dan menyertai.

 

Penjelasan Teks

Ayat 1: Keberanian Dimulai Dengan Langkah Iman

"Pada hari yang ketiga Ester mengenakan pakaian kerajaan lalu berdiri di pelataran dalam istana raja..." Hari ketiga menunjuk pada berakhirnya masa puasa yang dilakukan Ester dan bangsa Yahudi. Perhatikan bahwa Ester tidak langsung bertindak ketika masalah muncul. Ia terlebih dahulu mencari Tuhan melalui puasa dan doa. Dalam Alkitab, hari ketiga sering menggambarkan waktu tindakan Allah. Abraham melihat gunung pengorbanan pada hari ketiga. Yunus keluar dari perut ikan pada hari ketiga.  Yesus bangkit pada hari ketiga. Hari ketiga melambangkan saat Allah mulai menyatakan pekerjaan-Nya. Ester tidak bersembunyi. Ia tidak mengirim utusan. Ester berdiri. Berdiri adalah tindakan iman. Ester mengajarkan bahwa setelah berdoa, kita harus melangkah dalam iman.

Ayat 2 – 5: Keberanian dalam Anugerah Allah

Ketika raja melihat Ester berdiri di pelataran, Ester "mendapat kasih sayang" di hadapan raja. Kata Ibrani ēn (חֵן) yang diterjemahkan "kasih sayang" atau "perkenanan" menunjuk pada kemurahan yang diberikan kepada seseorang bukan karena haknya, melainkan karena anugerah. Dalam seluruh Kitab Ester, nama Allah memang tidak disebutkan, tetapi melalui kata ini pembaca melihat tangan Allah yang sedang bekerja menggerakkan hati raja. Perkenanan yang diterima Ester bukanlah hasil kecantikannya semata, melainkan buah dari penyertaan Allah atas umat-Nya. Tanda nyata dari perkenanan itu adalah raja mengulurkan "tongkat emas" kepada Ester. Dalam budaya Persia, tongkat kerajaan melambangkan otoritas, penerimaan, dan kehidupan. Mengulurkan tongkat emas berarti membatalkan ancaman hukuman mati dan memberikan akses kepada Ester untuk berbicara di hadapan raja. Tongkat emas menjadi lambang anugerah yang membuka jalan bagi keselamatan. Apa yang sebelumnya tertutup kini terbuka karena kemurahan yang diberikan. Ayat 3 melanjutkan gambaran tersebut ketika raja bertanya, "Apa kehendakmu?" dan "Apa permintaanmu?". Pengulangan dua pertanyaan ini menunjukkan perhatian dan keterbukaan raja terhadap Ester. Kata kunci "permintaan" (baqqāšāh) mengandung makna sebuah permohonan yang sungguh-sungguh dan mendesak. Raja bahkan berkata bahwa permintaan itu akan dikabulkan sampai setengah kerajaan. Ungkapan ini bukan untuk dipahami secara harfiah, melainkan sebagai idiom kerajaan yang menunjukkan kemurahan dan kesediaan raja untuk memenuhi kebutuhan Ester. Di sini terlihat bahwa Allah tidak hanya membuka pintu, tetapi juga menyediakan kesempatan bagi rencana penyelamatan-Nya untuk dinyatakan. Namun yang menarik, ketika kesempatan besar itu terbuka, Ester tidak langsung menyampaikan maksudnya. Dalam ayat 4 ia berkata, "Jika baik pada pandangan raja". Frasa ini menjadi kata kunci penting yang menunjukkan sikap hormat, kerendahan hati, dan kebijaksanaan Ester. Keberanian Ester tidak berubah menjadi sikap tergesa-gesa atau agresif. Ia memahami bahwa keberanian sejati harus berjalan bersama hikmat. Ia memilih mengundang raja dan Haman ke sebuah "perjamuan" yang telah disiapkannya. Kata "perjamuan" (mišteh) dalam Kitab Ester bukan sekadar acara makan bersama. Perjamuan sering menjadi tempat terjadinya keputusan-keputusan penting dan perubahan besar dalam alur cerita kitab ini. Dengan mengundang raja dan Haman, Ester sedang membangun suasana yang tepat untuk menyampaikan persoalan yang sangat sensitif. Ia tidak bertindak berdasarkan emosi, tetapi mengikuti waktu yang sedang dipersiapkan Allah. Ayat 5 menunjukkan respons cepat raja terhadap undangan Ester. Raja berkata agar Haman segera dipanggil supaya mereka dapat memenuhi keinginan Ester. Respons ini kembali menegaskan bahwa Allah sedang mengatur setiap detail peristiwa. Haman, yang saat itu merasa dirinya berada di puncak kehormatan dan kekuasaan, tanpa sadar sedang dibawa masuk ke dalam proses yang akan menghancurkan rencananya sendiri.

Ayat 6- 8: Keberanian Menunggu Waktu Tuhan

Saat perjamuan berlangsung, raja kembali bertanya tentang permintaan Ester. Ini kesempatan emas. Namun Ester kembali menunda dan mengundang raja ke perjamuan berikutnya. Mengapa Ester tidak langsung berbicara? Karena Allah sedang mengatur sesuatu yang lebih besar. Pada malam antara perjamuan pertama dan kedua, raja tidak dapat tidur (Ester 6). Peristiwa itu menyebabkan Mordekhai dihormati dan Haman dipermalukan. Allah sedang menyiapkan panggung kemenangan.  Nama Allah tidak muncul dalam Kitab Ester. Namun jejak tangan-Nya terlihat di setiap halaman. Ester menjadi ratu. Mordekhai mengetahui rencana pembunuhan. Raja mengulurkan tongkat emas. Raja tidak dapat tidur. Haman datang pada waktu yang tepat. Semua tampak kebetulan. Tetapi bagi iman, itu bukan kebetulan. Itu adalah penyertaan Allah.

 

Referensi Ayat Alkitab lain

Yosua 1:9 – Keberanian karena penyertaan Allah.

Amsal 21:1 – Allah mengendalikan hati raja.

Ibrani 4:16 – Keberanian menghampiri takhta karena anugerah Allah.

 

Ilustrasi

Seorang anak kecil harus menyeberangi jembatan gantung yang tinggi bersama ayahnya. Angin bertiup kencang dan jembatan bergoyang. Anak itu berkata, "Ayah, aku takut." Ayahnya menjawab, "Pegang tangan Ayah." Anak itu mencoba memegang tangan ayahnya, tetapi tangannya gemetar. Lalu ayahnya berkata: "Lebih baik Ayah yang memegang tanganmu."

Ayah itu menggenggam erat tangan anaknya dan mereka berhasil menyeberang. Sesudah sampai di seberang, sang ayah berkata: "Jika engkau yang memegang tangan Ayah, mungkin engkau akan melepaskannya ketika takut. Tetapi ketika Ayah yang memegang tanganmu, Ayah tidak akan melepaskanmu." Demikian pula kehidupan orang percaya. Keberanian kita bukan berasal dari kuatnya pegangan kita kepada Allah. Keberanian kita berasal dari kuatnya tangan Allah yang memegang kita.

 

Aplikasi

ü Beranilah Melangkah Setelah Berdoa. Banyak orang berhenti pada doa tanpa tindakan. Ester mengajarkan bahwa doa harus diikuti langkah iman. Iman bukan hanya menunggu Allah bekerja. Iman juga bersedia melangkah ketika Allah membuka jalan. Keberanian tidak menghilangkan rasa takut, tetapi membuat seseorang tetap maju meskipun takut. Mungkin Tuhan sedang memanggil kita: memperbaiki hubungan keluarga, melayani lebih sungguh, memulai pekerjaan baru, mengambil keputusan yang benar. Jangan hanya berdoa.
Melangkahlah bersama Tuhan.

ü Percayalah Bahwa Allah Sedang Bekerja Meski Tidak Terlihat. Ada masa-masa ketika Allah tampak diam. Namun diam bukan berarti meninggalkan. Dalam Kitab Ester, Allah tidak berbicara secara langsung, tetapi bekerja terus-menerus. Demikian pula dalam hidup kita. Ketika doa belum terjawab, ketika masalah belum selesai, ketika jalan belum terbuka, percayalah bahwa Allah tetap bekerja.

ü Padukan Keberanian Dengan Hikmat. Keberanian tanpa hikmat dapat menjadi kecerobohan. Mintalah hikmat Tuhan dalam: berbicara, mengambil keputusan, mendidik anak, memimpin keluarga, melayani jemaat. Keberanian yang dipimpin hikmat akan menghasilkan berkat.

ü Tetap Setia Menunggu Waktu Tuhan. Tidak semua jawaban datang segera. Ada saatnya Tuhan berkata: "Tunggu." Menunggu bukan berarti Tuhan menolak. Menunggu berarti Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik.

 

Penutup

Ester berdiri di hadapan raja dengan risiko kehilangan nyawa. Namun keberaniannya tidak sia-sia. Allah yang tidak terlihat ternyata sedang bekerja. Allah menggerakkan hati raja. Allah membuka pintu pertolongan. Allah menyiapkan kemenangan bagi umat-Nya. Hari ini kita juga menghadapi berbagai "istana Persia" dalam kehidupan: masalah keluarga, tekanan ekonomi, pergumulan pelayanan, sakit penyakit, masa depan yang tidak pasti. Semuanya dapat membuat kita takut. Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa keberanian bukanlah tidak adanya rasa takut. Keberanian adalah tetap melangkah karena yakin Allah menyertai. Seperti Ester, marilah kita berkata: "Aku akan melangkah karena Tuhan bersamaku. Aku akan tetap percaya karena Tuhan bekerja. Aku akan tetap berani karena penyertaan Allah lebih besar daripada segala ketakutanku." Ketika kita berjalan dalam penyertaan-Nya, kita akan melihat bahwa tangan Allah yang dahulu menolong Ester masih bekerja sampai hari ini. Amin.



 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "RANCANGAN KHOTBAH: KEBERANIAN DALAM PENYERTAAN ALLAH (Ester 5:1-8)"

Posting Komentar

Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.

ABOUT ME

Foto saya
Sorong, Papua Barat Daya, Indonesia
Menemukan PELANGI dalam hidup sendiri dan menjadi PELANGI di langit hidup sesama. Like and Subscribe my youtube channel: DEAR PELANGI CHANNEL

Iklan

Display

Inarticle

Infeed