RANCANGAN KHOTBAH: KESETIAAN KEPADA KRISTUS DI TENGAH GODAAN PENGKHIANATAN (Markus 14:10-21)

Gagasan Utama:

Allah di dalam Yesus rela menderita sengsara dan mati demi keselamatan manusia. Allah adalah Tuhan yang berdaulat atas rencana jahat manusia dan kasihNya tetap dinyatakan di tengah pengkhianatan.

 

Tujuan yang akan dicapai:

Jemaat menghayati dan mengikuti teladan penderitaan Kristus dengan cara setia kepada Yesus meski di tengah godaan pengkhianatan.

 

Konteks saat itu

Injil Markus ditulis untuk menegaskan bahwa Yesus adalah Mesias yang menderita, Anak Allah yang menyelamatkan manusia berdosa. Penekanan Markus ada pada tindakan Yesus yang berpuncak pada penderitaan dan kematian-Nya. Pasal 14 berada pada bagian klimaks Injil Markus (Mrk. 11–16), yaitu kisah sengsara. Markus 14 adalah bagian awal dari kisah penderitaan Yesus. Pasal ini bergerak dari: rencana pembunuhan Yesus, pengurapan di Betania, pengkhianatan Yudas, Perjamuan Paskah,  Penangkapan Yesus. Markus 14:10–21 berada di titik balik emosional dan teologis: dari kasih (pengurapan oleh perempuan) kepada pengkhianatan (oleh murid sendiri). Konteks sosial politik:  masa itu Yerusalem sedang ramai karena Hari Raya Paskah. Paskah untuk merayakan pembebasan Israel dari Mesir. Tapi Israel secara politik sedang berada di bawah penjajahan Romawi. Situasi sangat sensitif secara politik. Para imam kepala mulai mencari cara menangkap Yesus dan Yudas datang dengan memberi solusi itu.

 

Kaitan dengan PL:

Peristiwa ini terjadi dalam konteks: Perjamuan Paskah. Dalam Keluaran 12 Paskah mengingatkan: Anak domba disembelih, darah menyelamatkan dari kematian, pembebasan dari perbudakan Mesir. Dalam Markus 14: Yesus sedang makan Paskah dengan murid – muridNya, menunjuk pada kematian Yesus sendiri. Yesus adalah Anak Domba Paskah yang baru seperti darah anak domba yang menyelamatkan Israel, demikianlah kematian Yesus menyelamatkan umat manusia.

 

Penjelasan Teks:

Ayat 10-11: Pengkhianatan Yudas

Ayat ini menceritakan langkah Yudas menuju pengkhianatan. Yudan adalah salah satu dari dua belas murid yang dekat dengan Yesus. Yudas bukan orang luar atau musuh. Yudas adalah orang kepercayaan (memegang kas/keuangan). Yudas pergi kepada Imam – imam kepala. Kata pergilah dari bahasa Yunani πορεύθητι (poreuthēti) menunjuk pada tindakan bergerak sendiri untuk tujuan tertentu (mengkhianati Yesus). Yudas mengambil inisiatif sendiri. Ia tidak dipaksa, tetapi secara sadar memilih untuk menyerahkan Yesus. Markus tidak menjelaskan motif Yudas secara rinci di ayat ini, tapi konteks lain (misal Yohanes 12:6) menyebutkan ia mencuri dari kas yang dipegangnya, yang bisa menunjukkan sifat serakah atau hati yang mudah tergoda. Meskipun Yudas dekat dengan Yesus tapi hatinya tidak setia kepada Yesus. Para imam kepala senang sebab Yesus dianggap ancaman bagi kekuasaan mereka. Imam Kepala (Yun: ρχιερες - archiereis) menunjuk pada pemimpin para imam. Imam kepala adalah pemimpin tertinggi dalam sistem keimaman Yahudi pada masa Bait Suci di Yerusalem yang memegang otoritas religius dan sosial dan bertugas mengawasi ibadah di Bait Suci, memimpin upacara korban, dan menjaga hukum Taurat. Pada masa Yesus, para imam kepala biasanya terdiri dari: imam besar utama dan beberapa anggota Sanhedrin (dewan agama Yahudi). Beberapa imam kepala pada masa Yesus: Kayafas, Annas, dll. Imam – imam kepala berjanji memberikan uang kepada Yudas, menandai persekongkolan untuk menyingkirkan Yesus dengan cara yang licik dan rahasia. Dan Yudas secara sadar, aktif, dan terencana memulai langkah pengkhianatan pada Yesus, menunggu momen yang tepat untuk menyerahkan-Nya kepada imam-imam kepala.

 

Ayat 12-16: Persiapan Perjamuan Paskah

Bagian ini menceritakan bagaimana Yesus menyiapkan Perjamuan Paskah Terakhir bersama murid-murid-Nya. Saat hari pertama Roti Tidak Beragi tiba, murid-murid bertanya kepada Yesus di mana mereka harus mempersiapkan makan Paskah, menunjukkan kepedulian dan kesetiaan mereka untuk melayani Guru mereka. Lalu Yesus mengutus dua orang murid dengan perintah yang detil untuk maksud itu. Bahwa ketika mereka tiba di kota, mereka akan berjumpa dengan orang yang akan membawa mereka berjumpa dengan pemilik rumah yang sudah menyiapkan segala sesuatu untuk perjamuan itu: ruangan atas yang bersar, sudah lengkap dan disiapkan. Kedua murid itu mendapati semuanya sesuai dengan yang dikatakan Yesus dan merekapun mempersiapkan Paskah.

 

Ayat 17-21: Yesus Makan Paskah dengan Murid - muridNya

Yesus makan Paskah bersama kedua belas murid-Nya. Suasana awal tampak biasa—mereka makan bersama—namun segera menjadi momen pengungkapan dan ujian hati. Yesus secara sadar memberi tahu bahwa salah satu dari mereka akan mengkhianati-Nya. Pernyataan ini mengejutkan murid-murid; mereka mulai saling menatap dan bertanya-tanya siapa yang dimaksud, lalu merasa sedih dan cemas, masing-masing bertanya, “Bukankah aku, ya Tuhan?” Kata sedih menggunakan kata Yunani λυπέω (lupéō) berarti kesedihan yang mendalam dan hati yang terguncang. Kata “sedih” di sini bukan hanya perasaan emosional biasa, tetapi menunjukkan kegetiran hati dan rasa bersalah yang muncul secara spontan. Murid-murid merasa terkejut, takut, dan bersalah ketika Yesus mengungkapkan pengkhianatan. Yesus menjelaskan bahwa salah seorang itu adalah dia yang mencelupkan roti ke dalam satu mangkok dengan Aku. Tradisi Yahudi pada makan Paskah: makanan dibagikan dalam mangkuk bersama, dan mencelupkan roti ke dalam saus atau hidangan yang sama merupakan simbol persahabatan, kedekatan, dan keakraban. Tapi dalam faktanya justru sedang terjadi pengkhianatan kepada Yesus. Pengkhianatan bukan soal jarak fisik, tetapi kondisi hati. Yesus tahu rencana Yudas. Yesus tidak menyebutkan nama Yudas secara langsung, tapi Yesus sedang menegur Yudas dengan menekankan tentang Anak Manusia memang akan menderita dan mati sebagaimana rencana Allah. Yesus “pergi” untuk menggenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yaitu penderitaan, penyaliban, dan kematian-Nya demi keselamatan manusia. Kata pergi memakai kata Yunani πορεύεται (poreuetai) yang berarti pergi sebagai tindakan sukarela, ketaatan dan kesetiaan Yesus terhadap kehendak Bapa dan pergi sebagai perjalanan penebusan bagi manusia. Yesus memberi peringatan keras kepada Yudas: “Celakalah orang yang menyerahkan Anak Manusia! Alangkah baiknya orang itu tidak dilahirkan.” Di sini terlihat kontras antara kesetiaan yang diharapkan dan pengkhianatan yang terjadi, serta bagaimana rencana keselamatan Allah tetap berjalan meskipun ada pengkhianatan manusia.

 

Referensi lain dalam Alkitab:

Mazmur 41:9 “Orang yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku.”

Yesaya 53:3-7 Hamba yang menderita ditolak & diserahkan.

 

lustrasi:

ü Sebuah pohon tidak tumbang dalam satu hari. Ia mulai mati dari dalam. Tidak terlihat. Tidak terdengar. Daunnya masih hijau, batangnya masih tegak, sampai suatu hari—tumbang. Begitu pula pengkhianatan. Yesus tahu hati Yudas, namun murid-murid lain tidak. Karena pengkhianatan sering tumbuh diam-diam di dalam hati.

ü Di era media sosial, seseorang bisa memiliki banyak followers, like, comment tapi tidak benar-benar peduli. Dekat secara posisi. Jauh secara relasi. Yudas berjalan bersama Yesus. Melayani bersama Yesus. Makan bersama Yesus. Namun hatinya tidak lagi bersama Yesus. Kedekatan fisik tidak menjamin kesetiaan spiritual.

 

Aplikasi:

ü Allah berdaulat ditengah rencana jahat manusia. Yudas memang merencanakan. Para imam menyetujui. Tetapi penderitaan dan kematian Yesus adalah penggenapan rencana Allah yang berdaulat. Yesus tetap berdaulat atas penderitaan-Nya. Pengkhianatan adalah bagian dari misteri penebusan. Allah bekerja bahkan melalui kebebasan manusia yang jatuh/tidak setia. Kedaulatan Allah juga nyata dalam pribadi Yesus yang mengetahui pengkhianatan itu sebelum terjadi. Dan Yesus secara sadar (pilihan karena kasih Allah bagi manusia) berjalan menuju salib.

ü Tidak semua yang terlihat dekat dengan Tuhan atau komunitas iman selalu setia. Penting bagi kita untuk memeriksa hati sendiri dan menjaga integritas dalam persekutuan.

ü Setiap kita memiliki potensi Yudas di dalam diri: saat kita memilih kenyamanan daripada ketaatan, saat kita menjual nilai demi keuntungan, saat kita diam ketika seharusnya setia. Tapi kesetiaan bukan tentang tidak pernah gagal melainkan tentang terus kembali memilih Kristus.

 

Penutup:

Di meja perjamuan itu ada dua jalan: jalan pengkhianatan dan jalan kesetiaan. Yudas memilih menjual. Yesus memilih menyerahkan diri. Minggu Sengsara mengajak kita bertanya: Apakah kita sedang memegang Kristus atau diam-diam menukar-Nya dengan sesuatu yang lain? Biarlah kita diberi keberanian untuk tetap setia — bukan hanya di hadapan dunia, tetapi di dalam hati yang paling tersembunyi. Amin.

 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "RANCANGAN KHOTBAH: KESETIAAN KEPADA KRISTUS DI TENGAH GODAAN PENGKHIANATAN (Markus 14:10-21)"

Posting Komentar

Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.

ABOUT ME

Foto saya
Sorong, Papua Barat Daya, Indonesia
Menemukan PELANGI dalam hidup sendiri dan menjadi PELANGI di langit hidup sesama. Like and Subscribe my youtube channel: DEAR PELANGI CHANNEL

Iklan

Display

Inarticle

Infeed