KEPEDULIAN TUHAN DALAM PENGUTUSAN MUSA (Keluaran 6:1-12)

Pernahkah kita mengalami keadaan, sudah berdoa, tetapi keadaan belum berubah? Kita sudah taat, tetapi masalah masih ada. Kita sudah percaya, tetapi jalan masih gelap. Musa mengalami hal seperti itu tapi Tuhan tidak pertama-tama memberi Musa strategi tentang kepemimpinan. Tuhan pertama-tama menyatakan diri-Nya: “Akulah TUHAN.” Inilah yang menjadi pusat kekuatan Musa dan dasar pengharapan Israel. Kalimat ini menjadi jaminan kepedulian Tuhan dalam pengutusan Musa seperti tema kita: Kepedulian Tuhan dalam Pengutusan Musa

 

Saat Musa menyampaikan keluh kesah kepada Tuhan. Musa merasa gagal karena penolakan Firaun dan penderitaan bangsa Israel yang semakin berat. Tuhan tidak berkata, “Musa, engkau gagal.” Tapi Tuhan menyatakan diriNya; Akulah Tuhan. “Ani YHWH” karena orang Israel tidak boleh menyebut nama Tuhan dengan sembarangan maka orang Israel menyebut: “Ani Adonai”. Akulah Tuhan adalah sebuah deklarasi bahwa Allah itu hidup, Allah berkuasa atas sejarah, Allah kudus dan kesetiaanNya tidak pernah berubah. Akulah Tuhan menegaskan bahwa Tuhanlah yang berkuasa bukan Firaun. Situasi Israel memburuk, Musa merasa gagal tetapi Allah tetap berdaulat. Allah yang hidup itu telah mendengar erang orang Israel. Erang artinya jeritan kesakitan. Tapi bukan hanya teriakan minta tolong bahkan rintihan dalam diampun Tuhan dengar.  Kata Ibrani untuk “mendengar” adalah: שָׁמַ×¢ (shama) yang berarti mendengar dengan perhatian, mendengar dengan kepedulian. Tuhan tidak tuli terhadap penderitaan umat-Nya. Setiap doa dan jeritan hati Tuhan mendengar.

 

Akulah Tuhan juga meneguhkan janji Allah. Ayat 6–8 ada 7 janji yang semuanya memakai kata kerja aktif. “Aku akan...”

membebaskan kamu, melepaskan kamu, menebus kamu, Aku akan mengangkat kamu menjadi umatku, Aku akan menjadi Allahmu, Aku akan membawa kamu ke negeri perjanjian itu, Aku akan memberikan negeri itu. Tuhan mengerjakan dan melakukan pembebasan bagi Israel. Janji ini sungguh menguatkan. Sebelum tulah – tulah ditimpakan atas Mesir, sebelum mujizat pembebasan terjadi, sebelum orang Israel mengalami Laut yang terbelah. Tuhan menyatakan diri terlebih dahulu. Musa dan orang Israel harus mengenal Tuhan. Pengenalan tentang Tuhan menjadi kunci penting hidup beriman.

 

Selanjutnya Keluaran 6:9 menyebutkan: “Mereka tidak mendengarkan Musa karena patah semangat dan karena perbudakan yang berat.” Hari ini, banyak orang  tidak lagi mendengar suara Tuhan karena: terlalu sibuk dengan pekerjaan, hobby, media sosial, dan urusan dunia lainnya.  Keluaran 6 menegaskan bahwa umat Tuhan memiliki identitas; kita ini milik Allah, kita bukan budak, bukan objek, bukan milik dunia. Nilai diri kita bukan ditentukan oleh: jumlah like, jumlah viewers, popularitas di media sosial. Kita ini milik Allah. Kita mesti hidup dengan martabat sebagai gambar Allah. Hati – hatilah sebab media sosial dapat menjadi seperti “Mesir modern” ketika: menekan orang untuk mengikuti tren, membuat orang kehilangan jati diri, membuat dosa terlihat normal. Allah tidak memanggil umat-Nya untuk tetap menjadi budak, tetapi untuk keluar dan hidup sebagai umat-Nya. Ini berarti kita dipanggil untuk tidak mengikuti semua tren, berani berkata tidak terhadap hal yang merusak dan hidup sesuai identitas sebagai milik Allah. Media sosial harus menjadi alat untuk menyatakan kebaikan, menyebarkan kebenaran, membangun sesama, bukan alat untuk merendahkan diri.

 

Meskipun umat Israel tidak mendengar. Meskipun Firaun tetap keras hati. Allah kembali berfirman kepada Musa dan menyuruhnya pergi lagi kepada Firaun. Situasi yang belum berubah tidak menghentikan misi Allah. Jangan biarkan kelemahan menghentikan panggilan. Tetaplah melayani meski respons tidak sesuai harapan. Umat Israel tidak langsung percaya. Firaun tidak langsung tunduk. Tetapi Allah tetap bekerja melalui proses. Tuhan tidak mencari yang sempurna tapi menyertai yang dipilihNya.

 

Hari ini saat kita berada dalam penghayatan Minggu Sengsara Kedua, Minggu Invocabit. Kata Invocabit berarti: “Ia akan berseru kepada-Ku, dan Aku akan menjawabnya.” (Mazmur 91:15). Ketika kita berseru kepada Tuhan, Tuhan menjawab. Bukan selalu dengan cara yang kita harapkan, tetapi selalu dengan cara yang membawa keselamatan. Dalam perjalanan menuju salib, Yesus juga mengalami penderitaan, penolakan, dan kesepian. Namun Ia tetap taat kepada Bapa. Ia percaya kepada kepedulian Bapa. Yesus adalah Allah yang menyatakan diri menjadi manusia dan mengerjakan keselamatan bagi manusia dalam pengorbananNya di Salib. Jika di Keluaran Allah berkata, “Aku adalah TUHAN,” maka dalam Yesus kita mengalami janji yang digenapi dengan pembebasan atas dosa. Jika di Keluaran Allah mengikat perjanjian dengan satu bangsa, maka dalam Yesus Allah membuka perjanjian keselamatan bagi segala bangsa. Di salib, kita melihat kepedulian Tuhan yang paling besar. Tuhan tidak hanya mendengar penderitaan manusia, Ia masuk ke dalam penderitaan itu. Ia memikulnya. Ia menebusnya. Karena itu, ketika kita memandang salib, kita diingatkan bahwa Tuhan sungguh peduli. Tidak ada air mata yang tidak dilihat Tuhan. Tidak ada pergumulan yang tidak diketahui Tuhan. Tidak ada penderitaan yang sia-sia di tangan Tuhan. Hiduplah sebagai umat kepunyaanNya dan percayalah bahwa Tuhan sedang bekerja dalam hidup kita. Amin.

 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "KEPEDULIAN TUHAN DALAM PENGUTUSAN MUSA (Keluaran 6:1-12)"

Posting Komentar

Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.

ABOUT ME

Foto saya
Sorong, Papua Barat Daya, Indonesia
Menemukan PELANGI dalam hidup sendiri dan menjadi PELANGI di langit hidup sesama. Like and Subscribe my youtube channel: DEAR PELANGI CHANNEL

Iklan

Display

Inarticle

Infeed