KASIH TERHADAP SAUDARA - SAUDARA SEBAGAI TANDA HIDUP BARU (I Yohanes 3:11-18)
Mengasihi saudara merupakan prinsip hidup yang berlaku umum dalam masyarakat. Apakah itu masyarakat tradisional maupun modern, mengasihi saudara merupakan prinsip hidup yang selalu diajarkan turun temurun. Dalam agama-agamapun demikian dan diyakini bahwa perintah itu berasal dari yang ilahi. Bangsa Israel juga menyakini bahwa mengasihi orang lain adalah perintah Allah sebagaimana ditulis dalam Imamat 19:18, “…kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Akulah Tuhan”.
Tidak heran kalau Yohanes mengatakan: “Sebab inilah berita yang kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi” (ayat 11). Perintah saling mengasihi tersebut sangat mendasar dan begitu penting dalam kehidupan umat Allah, sehingga diingatkan bahwa perbuatan tidak mengasihi sesama adalah sebuah kejahatan sebagaimana dilakukan oleh Kain yang membunuh adiknya, sehingga disebut sebagai “yang berasal dari si jahat” (ayat 12). Perbuatan mengasihi sesama digarisbawahi sebagai perbuatan yang benar dan tindakan membunuh sebagai perbuatan yang jahat. Yang harus dilakukan oleh umat Allah bukan perbuatan yang jahat, seperti membenci dan sampai membunuh, melainkan yang pantas bagi umat Allah yang percaya kepada-Nya adalah melakukan perbuatan yang benar, yaitu mengasihi sesama manusia.
Ini pelajaran penting bagi orang Kristen, termasuk warga GKI di tanah Papua. Orang Kristen adalah umat Allah, bahkan oleh baptisan diangkat menjadi anak-anak Allah. Karena itu, tidak pantas bagi anak Allah untuk melakukan perbuatan yang jahat. Yang wajib dilakukan oleh anak Allah adalah mengasih sesama manusia bukan memusuhi apa lagi membunuh. Apa yang disampaikan Yohanes tersebut sangat penting bagi orang Kristen hari ini. Karena acapkali orang Kristen gagal hidup sebagai anak Allah yang mengasihi seperti Yesus sampai mengorbankan nyawa-Nya. Bahkan acapkali diluar kendali, orang Kristen melakukan hal-hal yang tidak pantas dilakukan oleh seorang yang menyebut diri anak Allah. Seharusnya seorang anak Allah melakukan perbuatan yang benar, yakni mengasihi sesama manusia, bukan membenci, memusuhi dan berseteru dengan orang lain.
Orang Kristen, termasuk warga GKI di Tanah Papua, patut menampakan diri sebagai orang yang mengasihi orang lain, dan ini menjadi tanda bahwa orang Kristen tidak lagi berada di bawah kuasa dosa dan kematian, karena “sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup” (ayat 14). Perpindahan dari mati ke dalam hidup tersebut terjadi bukan karena usaha manusia, melainkan oleh kasih karunia Allah di dalam Kristus Yesus yang “telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita” (ayat 16). Karena itu, setiap orang yang ada di dalam Kristus tidak lagi berada dalam kematian karena dosa, melainkan berada dalam kehidupan yang bebas dari kebinasaan. Dan, sekali lagi, ini terjadi karena Yesus Kristus menyerahkan nyawa-Nya supaya kita hidup. Kehidupan orang Kristen yang demikian sungguh-sungguh hanya karena oleh anugerah Allah yang diberikan kepada kita di dalam Kristus Yesus. Apa yang patut kita lakukan atas anugerah kehidupan tersebut? Tidak lain, sama seperti Kristus mengasihi bahkan sampai menyerahkan nyawa-Nya, kita pun patut berbuat yang sama bagi orang lain. Perhatikan ayat 16, “…Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita”.
Mengasihi dengan menyerahkan nyawa kita bagi saudara-saudara kita menunjukkan suatu kesungguhan dalam mengasihi orang lain, yaitu mengasihi bukan hanya sekedar basa-basi dengan kata-kata, melainkan kasih yang teruji dalam perbuatan. Perhatikan pernyataan dalam ayat 17 itu, “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? Kasih yang sesungguhnya teruji dalam perbuatan membantu mereka yang menderita, kasih orang Kristen bukan teruji dalam retorika dan slogan yang manis, tetapi terbukti dalam membatu secara material mereka yang kekurangan. Ini pelajaran penting dan berharga bagi orang Kristen dan secara khusus bagi warga GKI. Acapkali orang Kristen dengan gampang merasa iba terhadap penderitaan orang lain, namun enggan untuk melangkah lebih jauh dan mengulurkan tangan untuk memberi bantuan. Tentu bukan tanpa alasan. Sering alasan yang dikemukakan adalah keterbatasan pada diri sendiri, “bagaimana membantu orang yang berkekurangan, saya sendiri berkekurangan, kalau saya berikan kepada orang lain, bagaimana dengan hidup saya sendiri?”. Memberi dari kekurangan sampai mengorbankan diri sendiri, itulah yang dimaksudkan mengasihi dengan “menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita” (ayat 16). Inilah cara mengasihi dari orang benar, cara mengasihi anak-anak Allah, sebagaimana yang sudah dilakukan oleh Anak Allah, yaitu Yesus Kristus, mengasihi dengan mengorbankan nyawa-Nya.
Maka biarlah setiap orang Kristen, termasuk warga GKI ditanah Papua, memperhatikan dengan sungguh-sungguh nasihat ini,” Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (ayat 18). Kasih yang benar bukan dengan perkataan melainkan perbuatan; kasih orang Kristen bukan dengan lidah, melainkan dengan tangan yang terulur untuk membantu. Kalau selama ini kasih warga GKI masih terbatas pada kasih dengan lidah, maka biarlah mulai hari ini, kita mengasihi dengan perbuatan dan dengan tangan yang terulur serta kaki yang melangkah untuk menemukan mereka dalam penderitaan. Itulah kasih dalam kebenaran, kasih yang memperlihat buah iman orang yang hidup di dalam Kristus. Amin! (Penulis: Pdt. Dr. Sostenes Sumihe, M. Th).


Belum ada Komentar untuk "KASIH TERHADAP SAUDARA - SAUDARA SEBAGAI TANDA HIDUP BARU (I Yohanes 3:11-18)"
Posting Komentar
Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.