PERINTAH YANG BARU (1 Yohanes 2:7-17)
Dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat acapkali kita mendengar ada nilai kehidupan bersama yang harus ditaati, misalnya hidup harus saling menghormati dan menghargai. Nilai kehidupan seperti ini sebenarnya bukan hal baru, karena dari generasi yang satu kepada generasi yang berikutnya nilai kehidupan tersebut selalu diajarkan dan diminta untuk dipatuhi. Bagi generasi muda tentu perintah seperti itu kedengaran baru, tetapi untuk generasi tua perintah itu bukan hal baru, karena generasi tersebut sudah diajarkan dan diminta mentaatinya. Hal yang sama juga terjadi dengan apa yang Yohanes hendak ajarkan, yaitu “perintah yang baru”. Perintah yang baru itu sesungguhnya merupakan perintah lama. Yohanes sendiri mengakuinya, ketika ia berkata, “Saudara-saudara yang terkasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang kamu miliki sejak semula” (ayat 7).
Perintah lama, tetapi baru. Perintah apa itu, lama tetapi baru? Itu tidak lain adalah perintah untuk saling mengasihi (ayat 8). Perintah mengasihi ini sudah Allah berikan kepada bangsa Israel (Ul 6:4); bahkan perintah itu diperjelas dengan apa yang harus dilakukan terhadap Allah dan yang mesti diperbuat kepada manusia sebagaimana tertulis dalam 10 perintah (Kel 20: 1-17). Yesus kemudian meringkas 10 hukum tersebut menjadi hukum kasih, yaitu kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia (Mat 22: 37 – 40). Jadi perintah untuk mengasihi bukan perintah baru, itu perintah lama yang sudah dimiliki orang Israel. Dapat dimengerti kalau Yohanes katakan, “perintah lama yang kamu miliki sejak semula”. Tetapi mengapa perintah lama itu Yohanes sampaikan sebagai perintah baru? “Namun kutuliskan kepada kamu perintah baru juga” (ayat 8), kata Yohanes. Perintah kasih yang sudah didengar turun-temurun, tetapi oleh Yohanes menjadi perintah baru. Apa yang baru?
Yang baru adalah nilai dari kasih itu. Kasih adalah perintah yang lama, namun Yohanes memberi nilai yang baru pada perintah yang lama itu, sehingga mereka yang medengarnya memahami kalau hidup dalam kasih itu seperti apa. Perhatikan ayat 9 – 10, “Siapa yang berkata bahwa ia ada di dalam terang, tetapi membenci saudaranya ia ada di dalam kegelapan sampai sekarang. Siapa yang mengasihi saudaranya, ia tetap tinggal di dalam terang dan di dalam dia tidak ada penyesatan”. Siapa yang hidup di dalam kasih tidak ada kegelapan di dalam dirinya; sebaliknya ketika sesorang hidup di dalam terang, maka dia sedang mengjalani hidup itu di dalam kasih, baik kepada Allah maupun terhadap sesama manusia. Apa tanda hidup dalam kegelapan, dan membuat orang itu tidak hidup di dalam kasih? Tandanya adalah membenci orang lain. Kebencian adalah tanda kegelapan, tanda tidak hidup di dalam kasih.
Orang Kristen, termasuk warga GKI adalah orang-orang yang sudah mengalami kasih, yaitu kasih Allah, agape Allah di dalam Yesus Kristus. Siapa yang beriman kepada Kristus ia ada di dalam kasih, dan hidup di dalam terang. Maka warga GKI yang hidup di dalam kasih ia ada di dalam terang dan di dalam dia tidak ada kegelapan, tidak ada kebencian dan permusuhan. Kalau warga GKI masih membenci dan memusuhi orang lain itu tanda bahwa dia tidak memiliki kasih dan hidup di dalam kegelapan. Adakah warga GKI yang membenci dan memusuhi orang lain? Kalau ada warga GKI yang masih hidup dalam kebencian dan permusuhan harus bertobat, tinggalkan hati yang penuh kebencian dan permusuhan, dan hiduplah dengan damai satu terhadap yang lain. Karena Yesus yang mati dan bangkit itu, sudah mengasihi kita dan membebaskan kita dari kegelapan dan menjadikan kita anak-anak Allah yang hidup dalam terang.
Yohanes secara khusus menulis perintah baru itu untuk ditujukan kepada anak-anak, pemuda dan bapak-bapak. Perhatikan ayat 12 – 14. Aku menulis kepada kamu anak-anak….. aku menulis kepada kamu bapak-bapak…. aku menulis kepada kamu orang-orang muda…” Apa alasan Yohanes menulis demikian? Ini alasan-alasannya:
1. Dosa telah diampuni (untuk anak-anak)
2. Mengenal Dia (untuk bapak-bapak)
3. Mengalahkan yang jahat (untuk pemuda)
Lalu, untuk perempuan dan ibu-ibu? Kalau perempuan sudah termasuk dalam anak-anak dan pemuda. Ibu-ibu tidak disebut secara khusus, tetapi mari kita perhatikan alasan-alasan tersebut.
Pertama, alasan dosa sudah diampuni. Kita semua tahu bahwa oleh kematian dan kebangkitan-Nya dosa manusia termasuk dosa anak-anak, dosa pemuda, dosa bapak-bapak dan dosa perempuan sudah diampuni. Ibu-ibu masuk perempuan atau bukan? Kalau masuk perempuan, maka dosa ibu-ibu juga sudah di ampuni dalam Kristus. Karena itu, setiap orang apakah dia anak-anak, pemuda, bapak-bapak, perempuan dan ibu-ibu dosanya sudah diampuni, dan sudah hidup dalam kasih Kristus. Hidup di dalam kasih Kristus berarti tidak ada kebencian dan permusuhan. Ini tanda bahwa kita sedang menjalani kehidupan dalam terang dan tidak ada kegelapan pada kita. Sebelum mengenal Kristus kita memang ada dalam kegelapan, tetapi sekarang di dalam iman kepada Kristus kita hidup di dalam terang. Perhatikan moto GKI yang menyatakan bahwa dahulu sebelum kenal Kristus, kita ada dalam kegelapan, tetapi sesudah percaya dan beriman kepada Kristus kita adalah anak-anak terang (Ep 5:8).
Kedua, alasan mengenal Kristus. Alasan ini sangat serius dan tidak bisa dianggap sepele, sebab orang yang sudah diampuni dosanya dan hidup di dalam terang, wajib hukumnya mengenal Kristus. Tentu semua orang Kristen, termasuk warga GKI, tahu siapa itu Yesus Kristus. Dari pelajaran katekisasi, kotbah-kotbah dalam ibadah minggu dan bacaan-bacaan rohani Kristen semua orang mengetahui bahwa Yesus itu Anak Allah hahir dari perawan Maria, perempuan dan menjadi ibu Yesus, juga kita semua tahu bahwa Yesus mati dan bangkit untuk menebus dosa dunia dan manusia. Namun demikian, belum tentu semua orang yang tahu tentang Yesus mengenal Yesus. Setan-setan juga mengetahui Yesus, tetapi tidak mengenal Dia. Jadi kalau orang hanya mengetahui tentang Yesus, tetapi tidak mengenal Yesus, tidak ada bedanya dengan setan, atau jangan-jangan dia adalah setan itu sendiri. Apa itu mengenal? Mengenal secara alkitabiah tidak sekedar tahu tentang Yesus Kristus, melainkan mengenal dalam artian hidup menyatu dengan Yesus, tetapi begitu rupa sehingga seperti Rasul Pauluas, orang yang mengenal Yesus akan berkata, “aku hidup, tetapi bukan lagi aku sediri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam Aku” (Gal 2:20). Orang yang mengenal Yesus Kristus, tidak hidup bersama Yesus, tetapi hidup di dalam Dia. Kalau warga GKI hidup di dalam Kristus, maka tidak ada kebencian dan permusuhan. Orang Kristen yang masih suka benci orang, itu tanda dia baru hidup bersama Kristus, belum ada di dalam Kristu. Kalau warga GKI yang sudah hidup di dalam Kristus dan hidup di dalam terang, tidak mungkin dan tidak boleh ada kebencian pada dirinya, melainkan kasih dan kebenaran. Kalau saat ini kita hanya mengetahui tentang Kristus, marilah kita berkomitmen untuk hidup di dalam Kristus. Orang yang hidup di dalam Kristus akan mampu melawan kejahatan. Dan itulah alasan ketiga, mengapa Yohanes berikan perintah baru tersebut.
Alasan ketiga, telah mengalahkan yang jahat. Ini alasan mengapa perintah baru itu diberikan kepada anak-anak muda. Karena anak-anak muda telah mengalahkan yang jahat. Benarkah begitu anak-anak muda? Harus benar, karena Kristus sudah mengalahkan kejahatan. Jadi anak-anak muda harus mampu mengalahkan kejahatan. Tetapi anak muda yang mampu mengalahkan kejahatan kalau dia ada di dalam Kristus. tetapi kalau masih bersama Kristus, pasti kejahatan akan kalahkan anak muda. Maka supaya anak muda, peremuan ataupun laki-laki, bapak-bapak atau ibu-ibu, harus mengenal Kristus, supaya tidak dikalahkan oleh kejahatan, tetapi sebaliknya mengalahkan kejahatan.
Hari ini kita hidup di dunia yang banyak kejahatannya. Kita dikelilingi dan berhadapan dengan berbagai macam kejahatan di dunia ini. Karena itu, Yonahes mengingatkan: “janganlah mengasihi dunia… (ayat 15). Kedengarannya perintah ini tidak masuk akal. Bagaimana mungkin kita harus menjauhkan diri dari dunia padahal kita tinggal dan menjalani hidup ini di dalam dunia. Namun sadar atau tidak sering kita terlanjur mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya dan menjauhan kita dari hadirat Allah. Mengapa Yohanes mengingatkan secara demikian, karena “jikalau orang mengasihi dunia, kasih kepada Bapa tidak ada di dalam orang itu” (ayat 15). Tentu tidak salah mengasihi dunia ini, karena Allah juga mengasihi dunia ini (Yoh 13:16). Namun demikian, jika seseorang mengasihi dan memberi diri kepada dunia sampai mengandalkan dan menggantungkan hidup kepada dunia dan lupa bahwa dunia ini diciptakan Allah untuk manusia menjalani hidupnya, dan tetap mengandalkan dan memberi diri bagi kemuliaan Allah. Tetapi jika karena keindahan dunia kita kehilangan kasih kepada Allah, maka kita menjalani hidup ini menurut keinginan daging dan mengikuti apa yang menarik dalam pandangan mata serta hidup dalam keangkuhan (ayat 16).
Apa yang diingatkan Yohanes hari ini adalah suatu realitas hidup yang kita alami. Acapkali sadar atau tidak ketertarikan kepada dunia dengan segala yang ada di dalamnya membuat kita kehilangan atau kalau tidak kadar kasih kepada Kristus Yesus berkurang jauh di bawah kewajaran. Bagaimana supaya orang Kristen, secara khusus warga GKI, tidak kehilangan kasih kepada Yesus Kristus? Mari kita hayati secara mendalam tiga alasan tadi yang membuat Yohanes menyampaikan perintah baru itu.
Pertama, kita harus mengasihi Allah sang Bapa, karena dosa kita telah diampuni di dalam Kristus. Pengampunan dosa ini bermakna bahwa kita sekarang bukan lagi orang-orang yang hidup di dalam dosa, dan karena itu, kita tidak lagi berada dalam kegelapan, melainkan ada dalam terang. Dan sebagai anak-anak terang kita patut hidup dalam kasih baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia.
Kedua, kita sudah mengenal Allah. Pengenalan ini berarti kita sudah hidup dalam persekutuan dan kesatuan dengan Allah, karena iman kita kepada Yesus Kristus. Hidup dalam persekutuan dan kesatuan dengan Allah berarti pula kita hidup dalam persekutuan dan kesatuan dengan orang lain, maka tidak ada kebencian dan permsuhan terhadap dan dengan orang lain. Bukan kebencian yang ada pada kita melainkan kasih kepada Allah dan kasih kepada sesame manusia. Ingat hukum kasih yang Yesus ajarkan kepada murid-murid-Nya dan kepada semua yang beriman kepada-Nya.
Ketiga, alasan Yohanes menuliskan perintah baru itu karena kita mengalahkan yang jahat. Kita dapat mengalahkan yang jahat karena kita kuat seperti anak-anak muda, yang masih segar dan kuat secara fisik. Tetapi kekuatan kita tidak terletak pada fisik dan tubuh yang kuat, melainkan pada firman Allah yang ada pada kita. siapa yang hidup sesuai dengan firman Allah memiliki kekuatan untuk melawan kejahatan. Jika kita hidup sesuai firman Allah, maka Allah di dalam Roh Kudus memberi kekuatan iman untuk menghadapi dan mengatasi segala kejahatan di dunia ini. Maka biarlah setiap orang Kristen dan warga GKI pada khususnya, hidup bebas dari dosa, bebas dari kebencian dan permusuhan dengan orang lain; Kalau hari ini kita baru mengetahui adanya Allah, maka marilah kita lebih mengenal Allah dengan hidup sungguh-sungguh dalam persekutuan dan kesatuan dengan Allah; Hidup sungguh-sungguh mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia. Dalam Pengakuan iman GKI, yang kita ikrarkan dalam setiap ibadah pada minggu keempat, kita mengaku, “mengasihi Allah dan sesama manusia dengan segenap hati, jiwa dan akal budi”. Biarlah pengakuan ini kita lakukan dalam kehiduan sehari-hari agar apa yang kita akui dengan bibir menjadi nyata dan dapat dilihat dalam perbuatan tiap-tiap hari.
Kalau kta benar-benar melakuakn tiga hal tersebut di atas yaitu bebas dari dosa; mengenal Allah dan melawan kejahatan, maka kita benar-benar orang yang sudah dimerdekakan dari segala kejahatan. Besok kita akan merayakan hari kerdekaan RI. Ini adalah kemerdekaan politik, merdeka dari pejajahan bangsa lain. Tetapi kemerdekaan politik itu harus disertai dengan kemerdekaan dari penjajahan dosa dalam hidup kita. Sudah merdeka secara politik, tetapi belum merdeka dan bebas dari dosa, maka tetap saja kita dikuasai dosa, sehingga dalam Indonesia yang merdeka ini tetap saja ada kejahatan, ada korupsi, ada pencurian, ada permusuhan, ada pembunuhan. Semua ini sedang terjadi di Indonesia yang merdeka, tetapi belum merdeka dari dosa. Sebagai orang-orang yang sudah dimerdekakan Kristus, marilah kita perlihatkan kemerdekaan yang sesungguhnya, yaitu merdeka dari dosa, dan hidup dengan saling mengasi satu terhadap yang lain, bukan saling membensi dan bermusuhan, buka saling dendam, melainkan saling mengampuni. Itulah yang Allah kehendaki dari warga GKI yang sudah mendapat pengampunan dosa, yang mengenal Allah dan yang selalu berhadapan dan melawan kejahatan. Siapa yang melakukan kehendak Allah ini, ia akan “hidup selama-lamanya” (ayat 17). Tentu kita akan mati karena berbagai alasan, tetapi siapa yang mati di dalam Kristus dan melakukan kehendak Allah, ia akan memperoleh kehidupan kekal seperti yang Allah, sang Bapa sorgawi janjikan bagi anak-anak-Nya. Amin! (Penulis: Pdt. Dr. Sostenes Sumihe, M. Th)


Belum ada Komentar untuk "PERINTAH YANG BARU (1 Yohanes 2:7-17)"
Posting Komentar
Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.