BERANI MELANGKAH DALAM PANGGILAN TUHAN UNTUK MENGHIDUPKAN (Nehemia 2:1-10)
Salah satu hambatan bagi orang Kristen menjalankan panggilannya karena tidak mampu melepaskan diri dari sesuatu yang menghalangi untuk bebas melakukan tugas-panggilannya. Di antara hambatan itu dapat dijumpai pada mereka yang memiliki posisi atau jabatan tertentu pada suatu instansi tertentu acap kali tidak mudah untuk dengan bebas meninggalkan posisinya dan melakukan tugas-panggilanya dalam pelayanan, karena ada ketakutan akan kehilangan posisinya. Ternyata ketakukan seperti itu sangat tidak beralasan. Kalau menjalani posisi itu tanpa hubungan yang dalam dan intens dengan Tuhan dapat dipastikan tidak memilik keberanian untuk mengambil langkah menjalani tugas panggilan sebagai umat percaya . Nehemia seorang pegawai di lingkungan Istana raja Persia dapat menjadi acuan bagaimana mengatasi ketidakmungkinan membebaskan diri dari posisinya di lingkungan istana. Beberapa hal dapat kita pelajari dari Nehemia.
Pertama, Nehemia memiliki ikatan yang kuat dengan negeri dari mana dia berasal. Ia merasa sedih jika tidak berbuat sesuatu bagi negerinya itu. Perhpatikan pernyataan Nehemia kepada raja, “Jika raja menganggap baik dan berkenan kepada hambamu ini, utuslah aku ke Yehuda, ke kota tempat pemakaman nenek moyangku, supaya membangunnya kembali” (ayat 5). Tetapi keberanian Nehemia untuk mengatakan keingiannya tersebut, tidak semata-mata karena kemampuanya, melainakan karena hubungannya dengan Tuhan. Karena itu, sebelum menyampaikan keinginan kepada raja, Nehemia berdoa dulu kepada Allah. Ia sendiri mengatakan seperti ini, “Lalu aku berdoa kepada Allah semesta langit” (ayat 4). Dan ini hal kedua yang kita patut belajar dari Nehemia, yaitu dia tidak mengandalkan dirinya untuk memenuhi keinginannya, melainkan bersandar pada kehendak Tuhan.
Pelajaran kedua tersebut sangat penting dan relevan untuk kehidupan orang Kirsten hari ini. Kita acapkali ingin melakukan sesuatu untuk menyatakan bahwa kita juga punya kepedulian untuk orang lain. Hanya saja sering kepedulian itu, seringkali bukan untuk kemuliaan Nama Tuhan, melainkan untuk supaya dipuji orang lain. supaya orang melihat bahwa saya bisa. Yang dilakukan Nehemia benar-benar tidak untuk kepentingasn dirinya dan mengandalkan kemampuan dirinya, melainkan bagi Tuhan. Perhatikan sikap Nehemia ini. Ketika raja bertanya kepadanya Nehemia tidak lasngsung menjawab raja, tetapi berdoa dulu kepada Tuhan, baru kemudian menjawab raja (ayat 4). Nehemia kendati mendapat simpati dari raja, namun dia tetap mengandalkan Tuhan, tidak mengandalkan posisi dirinya. Nehemia sendiri mengaku, ia bisa masuk Yehuda dengan semua yang ia butuhkan, karena kebaikan Allah yang disalurkan oleh raja. “Raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan baik Allahku melindungi aku” (ayat 8).
Hal tersebut menjadi pelajaran ke tiga yang dapat kita pelajari dari pengalaman Nehemia, yaitu kalau kita bersandar dan hanya mengadalkan diri pada Allah, maka Allah dapat memakai orang lain untuk menyalurkan kebaikan-Nya kepada kita. Keliru kalau kita menganggap bahwa orang lain hanya akan menjadi penghalang bagi kita menjalankan panggilan Tuhan. Orang lain menjadi penghalang atau tidak itu sangat tergantung pada hubungan kita dengan Tuhan. karena itu marilah kita belajar mengandalkan Tuhan dan bersandar sepenuhnya kepada Tuhan, maka kebaikan dan pertolongan-Nya akan terjadi pada kita sesuai dengan kehendak dan cara-Nya kebaikan itu menjadi nyata pada kita.
Dari pengalaman Nehemia kita juga belajar bahwa melakukan kebaikan demi kesejahteraan sesame saudara tidak sepenuhnya dapat diterima orang lain (lih ayat 10). Orang bisa menjadi marah bahkan memusuhi kita, tetapi jika kebaikan yang kita lakukan benar-benar bagi kepentingan orang lain, maka tindakan tersebut tidak hanya membawa kebaikan bagi orang lain, tetapi terlebih menjadi kemuliaan bagi Allah. Berbeda kalau atas nama orang lain kita melakukan kebaiikasn untuk kepentingan diri sendiri. itu bukan hanya orang lain tidak suka tetapi Allah juga tidak menghendaki-Nya. Marilah kita menjadi orang Kristen seperti yang diperlihatksn Nehemia, yaitu orang Kristen yang sepebuhnya mengandalkan dan bersandar pada kehendak Allah; dan menjadi orang Kristen, yang senantiasa siap untiuk melakukan kebaikan bagi orang lain kendati ada tantangan dan hambatan, tetapi jika itu dilakukan benar-benar untuk kebaikan sesama, maka akan menjadi kemuliaan bagi Allah. Amin! (Penulis: Pdt. Dr. Sostenes Sumihe, M.Th)


Belum ada Komentar untuk "BERANI MELANGKAH DALAM PANGGILAN TUHAN UNTUK MENGHIDUPKAN (Nehemia 2:1-10)"
Posting Komentar
Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.