KRISTUS, PENGANTARA KITA (1 Yohanes 2:1-6)
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering meminta orang lain untuk mengurus dan menyelesaikan kepentingan kita dengan pihak lain. Orang yang mengurus kepentingan kita itu adalah seorang pengantara. Demikian halnya untuk mengurus kepentingan kita dengan dan di hadapan Allah kita memiliki seorang pengantara, yaitu Yesus Kristus. “Jika seseorang berbuat dosa”, kata Yohanes, “kita mempunyai seorang pengantara kepada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil” (ayat 1).
Yesus Kristus adalah pengantara kita dengan dan di hadapan Allah. Apa kepentingan kita sampai Allah menetapkan Yesus menjadi pengantara kita? Perhatikan peryataan Yohanes pada ayat 1 tadi, “jika seseorang berbuat dosa…”! Yesus Kristus menjadi pengantara kita untuk mengurus dan menyelesaikan kepentingan kita di hadapan Allah. Apa kepentingan kita dengan dan di hadapan Allah yang harus Kristus urus dan selesaikan? Tidak lain, kepentingan kita adalah pengampunan dosa. Kristus menjadi pengantara kita dan sebaliknya pengantara Allah dengan kita karena ada dosa pada kita, yaitu hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, hidup yang berlawanan dengan kehendak-Nya, sehingga sadar atau tidak kita menjadikan Allah musuh kita dalam menjalani hidup ini. Luar biasa, Allah yang menciptakan kita dari debu tanah tanpa kehidupan tetapi diberi nafas hidup, lalu kita jadikan musuh. Kondisi ini membutuhkan pengantara untuk pemulihan hubungan antara Allah dan kita manusia, makhluk ciptaan-Nya.
Karena itu, Yesus Kristus bukan hanya pengantara kita di hadapan Allah, tetapi sekaligus pendamai antara kita dengan Allah, dan Alah dengan kita. Perhatikan pernyataan Yohanes pada ayat 2, “Dialah pendamaian untuk segala dosa kita…”! Jadi Yesus Kristus menjadi pengantara kita di hadapan Allah untuk mendamaikan kita dengan Allah, agar relasi yang rusak dengan Allah karena dosa dipulihkan kembali, sehingga kita tidak lagi ada dalam kondisi permusuhan dengan Allah. Apakah peran Yesus sebagai pengantara dan pendamai sudah terjadi dan pengampusan dosa kita sudah diselesaikan? Kalau kita menyimak dengan baik tulisan-tulisan dalam PB, baik kitab Injil-iniil maupun surat-surat Rasul Paulus, maka kita diyakinkan, bahwa Yesus Kristus telah menyelesakan peran-Nya sebagai pengantara dan pendamai kita di hadapan Allah. Rasul Paulus misalnya kepada orang Kristen di Korintus menyatakan dengan gamblang, bahwa “di dalam Kristus, Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya, tanpa memperhitungkan pelanggaran mereka…” (1 Kor 5:19).
Di dalam Kristus Allah mendamaikan. Kita semua tahu apa yang Kristus lakukan untuk mendamaikan kita dengan Allah. Yesus melakukan hal yang radikal sekali, yang mustahil bisa dilakukan oleh manusia, yaitu menyerahkan diri-Nya begitu rupa sampai rela menderita bahkan sampai mati di kayu salib. Karena itu, di dalam Kristus kita adalah orang-orang yang sudah didamaikan dengan Allah, orang-orang yang tidak lagi hidup dalam dosa. Di dalam Kristus kita bukan lagi orang-orang yang tidak mengenal Allah, bukan orang-orang yang hidup di luar Allah, melainkan orang-orang yang hidup di dalam persekutuan dan kesatuan dengan Allah. Apa yang menjadi tanda, bahwa kita mengenal Allah dan hidup dalam persekutuan dan kesatuan dengan Allah? Perhatikan pernyataan Yohanes pada ayat 3, “inilah tandanya kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menurut perintah-perintah-Nya”. Orang yang mengenal Allah dan hidup dalam persekutuan dan kesatuan dengan Allah adalah orang yang menuruti dan hidup sesuai dengan perintah-perintah Allah.
Orang Kristen, dan secara khusus warga GKI adalah orang-orang yang mengenal Allah dan hidup dalam persekuruan dan kesatuan dengan Allah. Sebab, di dalam Yesus yang disalib itu, kita telah didamaikan dengan Allah, dan oleh iman kita kepada Kristus, kita telah hidup dalam koinonia atau persekutuan dan kesatuan dengan Allah. Karena itu, mau tidak mau, warga GKI patut hidup sesui dengan perintah-perintan Allah. Apa perintah Allah bagi kita? Ada banyak perintah Allah bagi umat-Nya. Israel sebagai umat Allah, mengenal 10 perintah Allah, yang sering kita ucapkan sebagai hukum Tuhan pada ibadah minggu. Yesus meringkas 10 perintah itu dalam hukum kasih, yang kita selalu dengar dalam ibadah GKI pada minggu ke IV. “Dengarlah hukum Tuhan. ‘Kasihilah Tuhan Allah-Mu dengan segenap hati dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua yang sama dengan itu ialah: Kasihlah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh Hukum Taurat dan Kitab Para Nabi (Mat 22:37 – 40).
Kalau warga GKI menuruti perintah Allah itu, yaitu mengasihi Allah dan mengasihi sesama, itu menjadi kesaksian dan tanda bahwa kita mengenal Allah dan kita berada dalam persekutuan dan kesatuan dengan Allah. Kalau tidak, kita adalah “pendusta” (ayat4), kita adalah pembohong di hadapan Allah. Adakah warga GKI pendusta atau pembohong? Kalau ada yang membenci orang lain, dia adalah pembohong; kalau ada yang tidak suka dengan orang dia, itu pendusta. Adakah warga GKI yang tidak hidup dalam kasih kepada Allah dan sesama, yang hidup tidak sesuai firman Tuhan, melainkan menurut egonya sendiri? Kalua ada, dia adalah pendusta atau pembohong. Dan harus bertobat, bukan saja karena kita sudah didamaikan Kristus, melainkan karena Kristus itu adalah Tuhan dan Kepala GKI, dan dalam tata gereja, GKI disebut sebagai tubuh Kristus yang kudus. Tidak pantas menjadi anggota gereja yang kepalanya Kristus, lalu anggotanya pendusta. Tidak pantas hidup sebagai anggota GKI, tetapi tidak menuruti perintah Allah. Setiap warga GKI patut hidup bebas dari dosa, karena kita sudah hidup dalam pengapunan Allah.
Hidup dalam pengampunan Allah dengan mentaati perintah-Nya dapat menjadi kesaksian orang Kristen bagi dunia mengenai pengampunan Allah itu. sebab pengampunan dosa dalam Kristus berlaku untuk seluruh dunia. Baik Yohanes maupun Rasul Paulus menghayati pengampunan dosa itu mencapup seluruh dunia. Yesus bukan hanya menjadi pendamain dosa kita saja, “tetapi juga untuk dosa seluruh dunia” (ayat 2). Karena itu, pendamaian dalam Kristus adalah pendamai dunia. Mengulangi pernyataan Rasul Paulus kepada orang Kristen di Korintus, disebutkan bahwa, “di dalam Kristus Allah mendamaikan dunia…” Bagaimana dunia percaya, kalau orang Kristen yang beriman kepada Kristus menjadi pendusta, tidak hidup dalam pengampunan dan mentaati perintah Allah. Kita patut menyadari bahwa hidup dalam pengampunan dosa dan mentaati perintah Allah adalah bentuk kesaksian Kristen mengenai kasih Allah akan dunia ini. Dunia dan orang-orang yang hidup tanpa mengenal Allah dan masih menjalani hidupnya di luar persekutuan dengan Kristus sulit untuk memahami dan menerima pengampuan dosa di dalam Kristus kalau orang Kristen sendiri tidak hidup memperlihat pengampunan itu satu terhadap yang lain, karena masih saling membenci dan memusuhi, masih lebih cenderung mengasihi kepentingan dan kemauan diri sendiri.
Marilah kita datang kepasa Kristus, mohon pengampunan kepada Allah, sebab Kristus itu pengantara dan pendamaian dosa kita. Marilah kita berkomitmen di hadapan Allah dan memperbarui relasi dengan Dia, dan hidup dalam kebenaran, bebas dari dosa, yang ditandai dengan mentaati perintah Allah. Hidup bebas dari dosa adalah sebuah kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar. Perhatikan pernyataan pada ayat terakhir pembacaan kita: “Siapa yang mengatakan bahwa ia tinggal di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (ayat 6). Kristus hidup bebas dari dosa, hidup kudus, maka kita pun harus hidup kudus bebas dari dosa. Kita bukan pendusta, kita bukan pembohong, kita adalah anak-anak Allah di dalam Kristus, karena itu marilah mulai hari ini kita berjanji dan berkomitmen untuk wajib hidup kudus di hadapan Allah dan di antara sesama manusia. Amin! (Penulis: Pdt. Dr. Sostenes Sumihe, M. Th)


Belum ada Komentar untuk "KRISTUS, PENGANTARA KITA (1 Yohanes 2:1-6)"
Posting Komentar
Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.