PENGAKUAN DOSA DAN PERMINTAAN DOA (Nehemia 9:1-37)
Kalau kita mencermati dengan intensif dan mendalam pesan utama Alkitab, maka mengandung dua hal, yaitu dosa dan anugerah. Manusia berdosa dan Allah beranugerah. Sudah mulai dengan bagian awal hikayat penciptaan tema tersebut dimunculkan. Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa dan Allah melawat mereka di taman Eden. Hal seperti ini berlanjut terus dan tercatat dalam Alkitab, seperti antara lain terdapat dalam bacaan Alkitab yang menjadi bahan kotbah dalam GKI di tanah Papua pada hari ini, minggu 27 September 2026 yang diambil dari Nehemia 9: 1 – 37.
Pembacaan Alkitab dan kotbah hari ini menyaksikan kepada seluruh warga GKI di tanah Papua bagaimana bangsa Israel sebagai umat Allah berdosa karena tidak taat dan setia mematuhi ketetapan-ketetapan dan perintah-perintah Allah. Bahkan dengan jujur bangsa Israel mengaku sejak “nenek moyang kami itu, berlaku angkuh, menegarkan tengkuk, dan tidak mematuhi perintah-perintah-Mu”(ayat 16). Pengakuan ini memperlihatkan bahwa sudah tutun-temurun umat Allah itu berdosa terhadap Allah. Sudah beranak-cucu bangsa Israel menunjukkan sikap yang tidak patuh bahkan memberontak terhadap Allah. Untungnya bangsa itu, sekalipun tegar-tengkuk, tetapi selalu sadar dan mengaku dosa di hadapan Tuhan.
Dalam pengakuan dosa kepada Tuhan yang dicatat dalam bacaan kita hari ini, Nehemia 9: 1 – 37, disebutkan beberapa tindakan Tuhan yang menunjukkan kasih setia Tuhan atas bangsa Israel sejak dari nenek moyang mereka. Pertama, pengakuan atas panggilan Tuhan bagi Abraham, yang dipanggil keluar dari Ur-Kasdim (ayat 7). Pengakuan mengenai Abraham ini menunjukkan kesadaran bahwa bangsa itu ada hari ini karena ada Abraham yang dipanggil Allah dan diberkati dengan banyak keturunan, sehingga Abraham menjadi nenek moyang mereka. Kedua, pengakuan tindakan pembebasan bangsa Israel dari Mesir, karena “Engkau melihat sengsara nenek moyang kami di Mesir dan mendengar teriakan mereka di Laut Teberau” (ayat 9). Pengakuan ini memperlihatkan kesadaran bangsa itu atas kepedulian Allah terhadap nenek moyangnya yang mengalami pemderitaan dan sengsara di rumah perbudakan Mesir dengan menyerangkan mereka dari Laut Teberau yang dikeringkan Allah agar nenek moyangnya bisa diselamatkan dari Firaun dan pasukannya yang mengejar mereka. Kalau tidak ada pembebasan ini Israel masih budak di Mesir. Ketiga, Allah menyertai dan menuntun perjalanan Israel dengan tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari (ayat 12). Pengakuan ini memperlihat kesadaran akan penyertaan Tuhan menempuh perjalanan yang penuh risiko siang dan malam. Allah bukan hanya membebaskan dari kesengsaraan, tetapi juga menyertai dalam perjalanan, sehingga nenek moyang mereka tidak dibiarkan sendiri. Inilah kasih setia Tuhan bagi umat Allah itu. Keempat, pengakuan akan pemeliharaan Tuhan selama 40 tahun perjalanan dengan memberi mereka makan di padang gurung dan tidak pernah kekurangan (ayat 21). Ini wujud pemeliharaan Allah agar nenek moyang Israel tetap hidup kendati 40 tahun ada di tempat yang tidak ada kehidupan, yaitu padang gurung. Kelima, pengakuan atas tindakan Allah membawa masuk ke tanah yang dijanjikan kepada nenek moyang (ayat 22). Pengakuan yang memperlihatkan kesadaran bahwa Allah memenuhi dan menggenapi janji-Nya. Allah tidak pernah ingkar janji, karena itu tidak ada yang mustahil bagi Allah. itulah kebaikan-kebaikan Allah bagi bangsa Israel sejak nenek moyang mereka, kebaikan-kebaikan tersebut menjadi dasar dan memotivasi pengakuan dosa atas ketidaktaatan terhadap ketetapan-ketetapan dan perintah-perintah Tuhan. Sekalipun Israel dari keturunan yang satu kepada keturunan yang lain berdosa, tetapi kasih setia Tuhan tidak berkesudahan. Israel sendiri mengaku, “Engkau Allah yang pengampun, pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya” (ayat 16).
Ini pelajaran penting bagi orang Kristen, secara khusus bagi warga GKI di Tanah Papua. apa pelajarannya? Ternyata pengakuan dosa terhadap Allah tidak dimotivasi oleh dosa itu sendiri, melainkan karena kebaikan dan kasih setia Allah yang diberikan-Nya sejak nenek-moyang dan orang tua kita di masa lalu. Kita mengaku dosa bukan karena kita tahu kita berdosa, melainkan karena kita sadar bahwa Allah itu begitu baik dan setia memelihara kehidupan kita sejak nenek moyang dan orang tua kita di masa lalu, sementara perintah dan hukum-Nya kita tidak patuhi. Kita seperti Israek mejadi orang yang tegar-tengkuk, yang tidak patuh kepada perintah-perintah Allah. Orang Israel mengaku dosa bukan hanya dosa generasi sekarang diakui di hadapan Allah, tetapi juga dosa nenek moyangnya, karena kebaikan-kebaikan dan kasih setia Tuhan itu mereka hidup. Kebaikan Allah sudah terjadi sejak nenek moyang. Ini juga harus berlaku dalam pengakuan dosa kita hari ini. Kita jangan hanya mengaku dosa kita yang hidup hari ini, sebab kasih setia Tuhan atas kita sudah berlaku sejak nenek moyang dan orang tua kita dulu. Jangan biarkan dosa masa lalu menjadi akar-pahit yang menghambat kebaikan dan berkat Tuhan bagi kita pada genarasi hari ini. Mengapa doa-doa mohon berkat dalam keluarga sepertinya Tuhan tidak dengar dan tidak jawab. Bukan Tuhan tidak dengar dan bukan Tuhan tidak jawab. Tuhan sudah sediakan apa yang kita doakan, tetapi bisa saja masih ada akar-pahit masa lalu yang belum dicabut, yang membuat Tuhan menunda memberikan apa yang sudah disediakan-Nya bagi keluarga maupun setiap pribadi.
Israel sendiri mengaku dosa nenek moyangnya membuat mereka ada dalam kesulitan hidup. Perhatikan ayat 35, “Pada masa kerajaan pun mereka tidak beribadah kepada-Mu, walaupun Engkasu telah mengaruniakan kepada mereka banyak kebaikan dan telah menyediakan bagi mereka tanah yang luas dan subur. Mereka tidak berbalik dari perbuatan-perbuatan mereka yang jahat”! Banyak kebaikan yang Allah berikan bagi nenek moyang Israel, tetapi mereka tidak beribadah dan tidak berbalik dari perbuatan mereka yang jahat. Apa akibatnya? Generasi sekerang yang menderita di atas tanah yang Tuhan sudah berikan. Perhatikan ayat 36 – 37, “Lihatlah, sekarang kami ini budak. Ya di tanah yang Kauberikan kepada nenek moyang kami untuk mengecap hasilnya dan segala kekayaannya, kami ini budak. Tanah ini menghasilkan banyak bagi raja-raja yang telah Kau tetapkan atas kami karena dosa-dosa kami. Mereka menguasai diri kami dan ternak kami sekehendak hati sehingga kami dalam kesesakan besar”! Luar biasa tinggal di atas tanah yang luas dan subur yang dikaruniakan Tuhan, tetapi tidak memiliki apa-apa karena dikuasai oleh raja-raja. Bukankah pengalaman ini juga menjadi pengalman kita di Tanah Papua? Kita tinggal di atas tanah yang subur dan memiliki kekayaan sumber daya alam yang luas biasa, tetapi wilayah Papua dengan 6 provinsi merupakan wilayah termiskin di Indonesia. Ada apa yang terjadi? Apakah kita tidak bekerja membangun Papua? Tentu tidak, pembangunan Papua berjalan lancer, bahkan ada Otonomi Khusus Papua untuk mempercepat pembangunan demi kesejahteraan masyarakat, tetapi Papua masih menjadi wilayah termiskin di Indonesia. Sekali lagi ada apa? Apakah ada akar-pahit masa lalu yang belum dicabut? Apakah kita perlu mengaku dosa nenek moyang dan orang tua di masa lalu?
Israel mengaku dosa nenek moyang dan mohon pengampunan atas soda masalah lalu itu karena berdampak bagi generasi hari ini. Israel menjadi negara modern seperti hari ini tidak terlepas dari dari pengakuan dosa atas nenek moyangnya untuk mencabut akar-pahit masa lalu agar tidak mengahmbat kebaikan Tuhan hari ini. Orang Kristen sebagai umat Allah karena iman kepada Kristus Yesus, dapat melakukan hal yang sama, yaitu ketika berdoa dan mengaku dosa, bukan hanya dosa kita hari ini yang kita doakan, tetapi juga dosa nenek moyang kita, dan dosa orang tua kita di masa lalu di doakan dan mohon pengampunannya agar tidak menjadi akar-pahit dalam kehidupan kita hari ini.
Ada banyak kebaikan Tuhan bagi nenek moyang dan orang tua kita di masa lalu, tetapi sering tanpa sadar mereka melakukan hal-hal yang tidak dikehendaki Tuhan. Dalam doa-doa kita kiranya kita tidak melupakan nenek moyang dan orang tua kita atas apa yang mereka lakukan di masa lalu. Allah yang kita sembah dalam Kristus Yesus adalah Allah yang pengampun, pengasih, penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya, maka ketika kita mengaku dan mohon pengampunan atas dosa nenek moyang, dosa orang tua, dan dosa kita sendiri, pasti Tuhan mengampuni dan membarui kehidupan kita. Amin! (Penulis: Pdt. Dr. Sostenes Sumihe, M. Th)


Belum ada Komentar untuk "PENGAKUAN DOSA DAN PERMINTAAN DOA (Nehemia 9:1-37)"
Posting Komentar
Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.