KHOTBAH 2: BERANI MELANGKAH DALAM PANGGILAN TUHAN UNTUK MENGHIDUPKAN (Nehemia 2:1-10)
Hidup kita sebagai manusia bukan hanya sekedar menjalani rutinitas tiap – tiap hari, bangun, kerja, makan, minum, besok lagi begitu. Hidup kita adalah sebuah panggilan Tuhan. Ada panggilan Tuhan bagi kita dalam keluarga, melalui pekerjaan juga dalam pelayanan. Tapi esensi panggilan Tuhan dimanapun kita ada, itu adalah panggilan untuk menghidupkan, panggilan untuk berdampak bagi orang lain, bukan panggilan untuk cari keuntungan, bukan panggilan untuk sekedar mencapai puncak tertinggi karir atau kehebatan kita, tapi panggilan untuk peduli. Peduli bukan hanya perasaan tapi juga keberanian untuk bertindak dalam kasih dan komitmen melangkah dalam kehendak Tuhan. Tema kita: Berani Melangkah Dalam Panggilan Tuhan Untuk Menghidupkan.
Kehidupan penduduk Yehuda setelah masa pembuangan di Babel sangatlah memprihatinkan. Sebagian dari mereka bisa kembali ke Yerusalem. Tapi Yerusalem belum pulih sepenuhnya. Bait Allah yang menjadi simbol kehadiran Allah dalam kehidupan umat, telah dibakar. Tembok Yerusalem yang menjadi kebanggaan itu kini tinggal puing – puing saja. Waktu itu, Nehemia sebagai juru minuman Raja, hidupnya sudah mapan. Nehemia punya pekerjaan, punya jabatan dan menjadi orang kepercayaan Raja, punya akses langsung kepada Raja Artahsasta. Tetapi Nehemia peduli dengan kehidupan orang – orang sebangsanya. Hati nurani Nehemia tergugah karena tembok Yerusalem yang roboh. Itulah sebabnya Nehemia tidak tenang walaupun hidupnya mapan. Nehemia bersedih meskipun tidak sakit. Pada pasal 1:4 disebutkan bahwa Nehemia menangis, duduk berkabung, berpuasa dan berdoa. Setelah itu Nehemia berani bertindak, menghadap Raja untuk mendapatkan ijin Raja (2:4). Sebab adalah suatu larangan keras bagi seorang pegawai istana bila menghadap raja dengan muka muram atau bersedih. Nehemia takut, gentar hatinya bila Raja akan murka. Bila raja murka, bukannya mendapat ijin, Nehemia justru terancam mati. Namun karena Tuhan melalui kekuatan doa, Nehemia bukan saja memperoleh ijin Raja tapi juga mendapatkan fasilitas – fasilitas untuk memudahkan pekerjaan pembangunan. Kunci keberhasilan Nehemia adalah bergantung pada Allah. Nehemia mengakui Tangan Allah yang Maha Kuasa melindungiku (2:8).
Nehemia peduli, berdoa dan bertindak. Nehemia tidak menjadi penonton. Nehemia tidak menunggu orang lain yang bergerak lebih dahulu. Nehemia berani melangkah meninggalkan kemapanan di Istana Persia. Nehemia bersedia repot bukan untuk dirinya tapi untuk kepentingan Tuhan. Keberanian Nehemia bukan karena kemampuanya, tetapi karena hubungannya dengan Tuhan. Nehemia bersandar pada Tuhan. Ketika raja bertanya kepadanya Nehemia tidak langsung menjawab raja, tetapi berdoa dulu kepada Tuhan, baru kemudian menjawab raja (ayat 4). Nehemia kendati mendapat simpati dari raja, namun dia tetap mengandalkan Tuhan. Nehemia mengakui ada Raja di atas segala Raja yang pegang kendali atas hidup manusia. Bahkan ketika berhadapan dengan orang – orang yang menentang rencana pembangunan: Sanbalat, Tobia. Nehemia tetap disertai Tuhan.
Jika ada di antara kita yang sedang berada di persimpangan dalam pengambilan keputusan. Keputusan untuk emnjadi Majelis Jemaat misalnya. Tetapi kita takut gagal, Takut karena kekurangan – kekurangan pribadi, takut kehilangan kenyamanan dan tidak mau repot. Takut dikritik. Pertanyaannya adalah: “Apakah saya akan membiarkan ketakutan mengalahkan iman saya?” Di tengah kehidupan kita, di manakah Allah kita tempatkan? Apakah di tempat utama ataukah tempat cadangan? Apakah Allah hanya kita cari ketika butuh dan kita ingat ketika ada kesulitan? Tetaplah percaya bahwa Allah sedang bekerja. Setiap kesempatan adalah bagian dari cara Allah bekerja. Tiada yang mustahil untuk Allah kerjakan dalam kehidupan orang percaya. Andalkan Tuhan dan selalu bergantung kepada Tuhan dalam doa.
Allah yang berdaulat memanggil orang – orang yang peduli untuk mengerjakan karya pemulihanNya. Mari menjadi pribadi – pribadi yang peduli pada apa yang dipedulikan Tuhan. Keberanian melangkah dimulai dari hati yang peduli, hati yang bersedia berkorban, hati yang tidak ingat kenyamanan diri sendiri, hati yang peka terhadap situasi disekitar kita.
Bila doa adalah nafas kehidupan kita maka hendaknya doa menjadi denyut setiap gerak langkah kita dan aktivitas kehidupan kita. Kita sedang ada dalam BBK, mari Setiap keluarga setia untuk membangun mezbah bagi Tuhan di tengah keluarga. Libatkanlah Tuhan dalam doa disetiap situasi hidup kita dan kita akan menyaksikan kuasa Allah yang nyata dalam situasi yang tak dapat kita kendalikan. Nehemia berdoa, kemudian ia meminta izin kepada raja. Dan lihat bagaimana Tuhan bekerja. Raja bukan hanya mengizinkan Nehemia pergi. Raja juga memberikan surat-surat yang diperlukan dan bahan untuk pembangunan. Artinya, ketika kita melangkah dalam panggilan Allah, Tuhan dapat membuka pintu melalui cara-cara yang tidak pernah kita bayangkan.
Keberhasilan pelayanan bukan terutama hasil kemampuan manusia, melainkan anugerah Allah. Maka gunakanlah segala potensi yang ada untuk kemuliaan Tuhan. Ucapkanlah syukur atas pertolongan Tuhan. Jagalah kerendahan hati dalam pelayanan.
Pelayanan bukan berarti tanpa tantangan. Tapi tantangan bukan tanda bahwa Tuhan tidak menyertai, tetapi sering kali menjadi bagian dari proses panggilan. selalu ada tantangan seperti yang dihadapi Nehemia. Ada Sanbalat – sanbalat dalam persekutuan kita. Bisa jadi juga ada pengeluhan dan persungutan yang membuat semangat mlayani menjadi lesu. Tapi jangan pernah berhenti menyerah. Marilah kita bekerja sama, sehati, sepikir dan satu tujuan. Jangan menyerah saat menghadapi perlawanan. Tetap fokus pada tujuan yang Tuhan berikan. Hadapilah tantangan dengan iman dan doa. Tuhan berkati dengan FirmanNya. Amin


Belum ada Komentar untuk "KHOTBAH 2: BERANI MELANGKAH DALAM PANGGILAN TUHAN UNTUK MENGHIDUPKAN (Nehemia 2:1-10)"
Posting Komentar
Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.