ALLAH DILIPUTI KEAGUNGAN YANG DAHSYAT (Ayub 37:1-24)

Jika hari ini kita dapat menikmati hari baru, hari minggu pertama di bulan September, itu bukan karena matahari terbit di sebelah timur. Itu karena kuasa Tuhan. Pergantian hari, bulan dan tahun bukan sekedar fenomena Alam. Segala pergerakan di alam semesta ini: siang dan malam, pasang surut air laut, hujan, panas, salju, musim semi, kabut semuanya dikendalikan oleh Tuhan. Jika hari ini kita masih bernafas itu bukan sekedar karena jantung kita masih kuat atau paru – paru kita bagus. Itu karena kasih setia Tuhan. Tuhan pencipta kita, Tuhan yang mengatur sistem sel di tubuh kita, bahkan Tuhan sendirilah yang berkuasa memberi dan mengambil nafas kehidupan kita. Jika hari ini kita masih bisa menikmati kebersamaan dalam keluarga, kita masih bisa makan dan minum dengan baik, kita menikmati situasi yang nyaman, itu tidak tergantung pada jumlah tabungan kita di bank. Itu semata – mata karena anugerah Tuhan bagi kita. Hidup yang sedang kita jalani, alam semesta dan bumi tempat kita berpijak, Tanah Papua: surga kecil yang jatuh ke bumi dan Waropen negeri berjuta Bakau yang kaya dengan: ikan, kepiting, udang, serta segala jenis sipu, itu adalah berkat Tuhan bagi kita. Itulah karya ciptaan Tuhan yang bukan sekedar ciptaan sebab seluruh bagian alam semesta ini mencerminkan keagungan dan kuasa Allah. Di dalam semuanya itu kemuliaan Allah dinyatakan untuk Tanah Papua juga negeri Bakau Waropen. Jadi apa pun yang kita alami, Allah sedang berkarya, sekalipun kita tak dapat melihat dan memahaminya. Allah melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dan yang tak terduga, serta keajaiban-keajaiban yang tak terbilang banyaknya.

 

Pembacaan Firman Tuhan bagi kita dalam Ayub 37:1-24 dengan tema khotbah: Allah diliputi keagungan yang dahsyat. Salah satu sahabat Ayub, Elihu menyampaikan pendapat saat Ayub bergumul dengan kemalangan dan kehilangan yang dialaminya. Elihu menantang Ayub: “Berilah telinga kepada semuanya itu, hai Ayub, diamlah, dan perhatikanlah keajaiban-keajaiban Allah”. Ayub diingatkan bahwa guntur dan kilat bukan sekadar fenomena alam, tetapi merupakan alat Allah untuk memperingatkan manusia. Salju dan hujan deras juga dipakai untuk menunjukan kuasa Allah. Allah memegang kendali atas cuaca. Alam semesta bergerak mengikuti perintah Allah. Allah mengatur hukum alam untuk menyatakan “tentang keajaiban dan kekuasaanNya. Semua gejala alam yang dahsyat, yang menakutkan, dan yang tidak mampu dikendalikan manusia merupakan manifestasi kebesaran dan kemuliaan Allah. Allah memakai alam yang dikendalikan-Nya untuk mengajarkan manusia akan kedaulatan-Nya, baik untuk menghukum dosa maupun untuk menyatakan anugerahNya. Ayub harus mengakui bahwa hal-hal itu jauh di luar jangkauan pengertiannya. Ayub harus menyadari bahwa ia tidak memiliki hak untuk menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi di hidupnya. Pemikiran Ayub yang terbatas tidak sanggup memahami Allah yang tak terbatas. Jangankan memahami Allah, diri sendiri saja tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh manusia. Tapi dalam kedahsyatanNYa, Allah kita adalah Allah yang mengasihi dan peduli akan ciptaan-Nya. Dalam Kristus, Ia menebus manusia.

 

Pengalaman iman Ayub menyadarkan kita bahwa kita sangat kecil dan lemah. Firman Tuhan mengingatkan kita agar mengandalkan Tuhan dan berserah dalam kuasaNya serta mempercayakan hidup sepenuhnya dipimpin oleh Tuhan. Allah kita adalah El Shaddai: Allah yang Mahakuasa, Allah yang pegang seisi alam semesta. Ketika kita melihat bintang di malam hari, senja yang indah di sore hari, ingatlah Tuhan sang pencipta. Ketika hidup kita aman dna tentram, ingatlah pada Tuhan sang pemelihara. Ada saudara - sudara kita di tempat lain yang sedang mengalami berbagai bencana: Banjir, Gempa Bumi, Angin Taufan, Tornado yang dahsyat sedangkan kita hidup aman dan tentram tetapi jangan santai, jangan lupa diri apalagi lupa Tuhan. Saat kita sedang menghadapi tantangan atau saudara – saudara kita sedang dilanda berbagai bencana bukan berarti Tuhan melupakan mereka tetapi sama seperti Ayub, Tuhan sedang mengingatkan untuk mengandalkanNya. Tuhan pasti memberi bahu yang kuat ketika salib semakin berat.

 

Firman Tuhan mengajak kita untuk bersyukur dan bertobat lalu merawat dan memelihara alam ciptaan Tuhan. Jangan sampai surga kecil yang jatuh ke bumi ini menjadi rusak karena keserakahan manusia. Berserahlah kepada Tuhan agar hikmat Tuhan memimpin kita menjalani kehidupan dengan berbagai misteriNya. Ajakan untuk Ayub juga diperdengarkan kepada kita: berdiam dirilah di hadapan Tuhan, renungkan dan resapilah perbuatan – perbuatan ajaib Allah. Berdiam diri memang bukan perkara mudah. Tapi berdiam diri akan memampukan manusia lebih cermat memahami alam, juga Allah yang menciptakan semuanya itu. Berdiam diri akan membuat manusia lebih mampu mengenal Allah. Pengenalan akan Allah yang benar memampukan kita semakin mengasihi Tuhan. Semakin taat dan setia kepadaNya. Berdiam diri akan membuat manusia mendengar Allah. FirmanNya bukan hanya sekedar untuk menambah pengetahuan, melainkan harus membuat kita berakar, bertumbuh, dan berbuah ke arah Dia. Mari resapi kehangatan kasih Allah disetiap Langkah kehidupan kita. Amin. Selamat Hari Minggu. Tuhan memberkati.

 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "ALLAH DILIPUTI KEAGUNGAN YANG DAHSYAT (Ayub 37:1-24)"

Posting Komentar

Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.

ABOUT ME

Foto saya
Waropen, Papua, Indonesia
Menemukan PELANGI dalam hidup sendiri dan menjadi PELANGI di langit hidup sesama. Like and Subscribe my youtube channel: DEAR PELANGI CHANNEL

Iklan

Display

Inarticle

Infeed