SYUKURAN KEMATIAN: SUKACITA DALAM DUKA (FILIPI 4:4-7)

Nyanyian Rohani 16 yang berjudul “Sekarang B’ri Syukur” adalah salah satu Nyanyian Gerejawi yang sangat terkenal dan telah dinyanyikan sejak tahun 1600-an. Lagu ini berisi ajakan untuk bersyukur dan  membesarkan nama Tuhan. Juga pengakuan tentang betapa luar biasanya anugerah dan mujizat berkat Tuhan. Ternyata lagu ungkapan syukur ini diciptakan dalam situasi penuh pergumulan dan derita. Lagu ini syairnya di tulis oleh Pdt. Martin Rinckart kemudian melodinya digubah oleh Johann Crugger seorang komponis terkenal dari Jerman. Martin Rinckart lahir di Kota Eilenberg Jerman. Ia seorang anak tukang perunggu yang kehidupan keluarganya pas – pasan. Martin remaja aktif di gereja dan menjadi anggota paduan suara Gereja St. Thomas di Lepzig Jerman. Martin bercita – cita menjadi Pendeta. Ia harus bekerja dan belajar sangat keras hingga Lulus dari Universitas Leipzig. Perjuangannya tidak sia – sia, Martin Rinckart menjadi Pendeta dan ditempatkan di Eilenberg, kota kelahirannya.

 

Namun masa – masa itu adalah masa perang sedang bergolak di Jerman di tahun 1618-1648. Perang bergolak, Wabah penyakit sampar melanda, dan kelaparan terjadi di Eilenberg. Pdt. Martin bergumul dalam derita keluarganya yang semakin terhimpit secara ekonomi tapi juga derita umat Tuhan yang menjadi korban perang, sakit dan mati kelaparan. Betapa beratnya pergumulannya karena adakalanya Pdt. Martin harus memimpin kebaktian pemakaman sebanyak 40 – 50 kali dalam satu hari. Namun melewati masa pergumulan dan derita itu, Pdt. Martin mengakui bahwa jemaat tidak dapat melewati  gumul dan derita itu, dengan belas kasihan manusia. Gumul dan derita itu dapat dilewati hanya karena anugerah Tuhan, hanya mujizat Tuhan. Karena itu ayat 2 lagu ini berbunyi “Roh Tuhan memberi kekuatan dan t’rang di atas bah’ya maut, kuasaNya menang”.  Pengalaman iman Pdt. Martin dan jemaat di Leipzig memberi pelajaran iman bahwa meskipun mengalami pergumulan dan derita tapi pengharapan di dalam Tuhan dan ungkapan syukur kepada Allah dapat menguatkan iman mereka

 

Apa yang dialami oleh Pdt. Martin, juga sudah dialami oleh Rasul Paulus. Dalam bacaan kita Paulus mengajak jemaat di Filipi untuk bersukacita. “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan”. Waktu itu Paulus sedang mengalami derita, dipenjarakan karena pekerjaan pemberitaan Injil. Jemaat di Filipi juga sedang mengalami derita. Jemaat mengalami penganiayaan karena iman kepada Kristus. Tapi Paulus tidak marah. Paulus juga tidak menyesali nasibnya.  Paulus justru mengajak jemaat untuk bersukacita. Paulus mengingatkan jemaat dan Filipi juga keluarga dan kita semua bahwa sukacita orang percaya tidak tergantung pada kondisi yang dialami. Sumber sukacita kita adalah kehadiran Kristus yang menyertai kita dalam segala situasi. Jika Kristus hadir maka apapun yang dialami termasuk dukacita yang terjadi tanpa di duga karena kehilangan buah cinta dalam keluarga besar. Dukacita itu hanya dapat dihadapi Keluarga dengan kekuatan yang diberikan Kristus. Di dalam Tuhan kita mengalami sukacita yang sejati. Sukacita sejati yang tidak bergantung kepada situasi atau peristiwa-peristiwa tertentu tapi sukacita yang keluar dari hati dan jiwa yang dipenuhi oleh damai sejahtera Allah.

 

Sukacita dari Kristus juga berkaitan erat dengan kebaikan hati. Paulus menasihati jemaat untuk tetap bersukacita dan bersyukur. Menggumuli semua hal dalam doa, menyatakan kebaikan hati kepada semua orang karena setiap orang percaya mengalami kehadiran Kristus dan kasih Kristus. Dengan demikian kita dapat mengalami damai sejahtera Allah. Seperti yang dialami oleh Pdt. Martin Rinckart sehingga ia dapat mengarang lagu “Sekarang Bri Syukur” walau di tengah derita juga yang dialami oleh Paulus dan yang dialami oleh Keluarga bahwa hanya oleh anugerah Allah dalam Tuhan Yesus sajalah yang mendatangkan sukacita dan ucapan syukur dalam kehidupan kita.

 

Saat kesedihan, derita dan kecemasan terjadi maka bergumullah dan bawalah semuanya dalam doa. Doa dan ucapan syukur membuat kita mengalami damai sejahtera Allah sehingga kita tetap bersyukur dan bersukacita di dalam Tuhan. Kita dapat membubungkan pujian kepada Allah dan mengaku dengan iman: “Engkaulah yang besar selama- lamanya”. Tuhanlah yang besar diatas segala gumul dan derita. Dalam kasih dan kuasa Tuhan yang besar Tuhan merangkul keluarga dan kita semua dalam dukacita ini. Tuhan memampukan kita bersyukur dalam derita. Dan dalam duka serta derita, iman kita bertumbuh. Amin.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "SYUKURAN KEMATIAN: SUKACITA DALAM DUKA (FILIPI 4:4-7)"

Posting Komentar

Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.

YANG PALING BARU

SYUKURAN KEMATIAN: SUKACITA DALAM DUKA (FILIPI 4:4-7)

ABOUT ME

Foto saya
Waropen, Papua, Indonesia
Menemukan PELANGI dalam hidup sendiri dan menjadi PELANGI di langit hidup sesama. Like and Subscribe my youtube channel: DEAR PELANGI CHANNEL

Iklan

Display

Inarticle

Infeed