PRIBADI YANG MEMILIKI HIKMAT KRISTUS ( I Korintus 2:6-16)

Hal – hal duniawi sangat berbeda bahkan bertolak belakang dengan hal – hal sorgawi. Yang duniawi berasal dari dunia. Yang sorgawi berasal dari Allah. Yang duniawi sifatnya sementara, fana, dapat hilang, dapat rusak karena yang duniawi taka da yang abadi. Sedangkan yang sorgawi adalah kekal seperti Allah yang kekal. Begitu pula dengan hikmat duniawi dan hikmat sorgawi. Hikmat duniawi mengandalkan kepintaran manusia dan berpusat pada akal atau kepintaran otak semata. Hikmat sorgawi terwujud dalam iman kepada Allah karena dipimpin oleh Roh Allah. Manakah yang kita pilih: yang duniawi atau yang sorgawi? Pada bulan Oktober 2021, tanggal 26 Oktober nanti kita Merayakan HUT ke – 65 GKI Di Tanah Papua. Dalam pergumulan menjadi Gereja yang Dewasa, Mandiri dan Misioner maka sepanjang Bulan Oktober 2021 ini, warga GKI belajar dari Firman Tuhan yang mengarahkan kita pada apa yang harus kita pilih dan bagaimana hidup sebagai warga gereja yang berkenan kepada Allah dan menjadi berkat. Pada 3 Oktober, tema khutbah kita adalah “Menjadi Pribadi yang melakukan kehendak Allah”, Dalam Perjamuan Kudus, temanya adalah “Menjadi Pribadi yang mengenakan Kasih Kristus”. Pada 10 Oktober kita mendengar Firman Tuhan dengan tema: ”Pribadi yang dipimpin Roh Allah”. Hari ini tema khotbah kita berdasarkan Bacaan Alkitab dalam I Korintus 2:6-16 adalah: “Pribadi yang memiliki hikmat Kristus”.

 

Kota Korintus adalah sebuah kota pelabuhan yang telah menjadi pusat perdagangan dan industri pada abad – abad pertama. Banyak Filsuf atau orang pintar yang menguasai Filsafat dunia masa itu. Jemaat Kristen di Korintus adalah sebuah jemaat yang majemuk dari berbagai latar belakang. Dari laporan Keluarga Kloe (I Korintus 1:11) ternyata sedang terjadi perpecahan di tengah jemaat. Jemaat hidup dalam kelompok – kelompok yang tidak sehati. Ada golongan Paulus, golongan Apolos, golongan Kefas bahkan golongan Kristus. Paulus menegor cara hidup jemaat di Korintus. Seharusnya sebagai orang-orang yang telah dikuduskan dan dipanggil menjadi orang-orang kudus, jemaat mesti hidup sehati dalam kasih Tuhan dan bukan menyombongkan kehebatan dan kepintaran masing – masing. Jemaat Kristen di Korintus tidak boleh hidup mengandalkan hikmat dunia dan mengabaikan Kasih Kristus. Jemaat harus menjadi teladan sebagai pribadi – pribadi yang memiliki hikmat Tuhan. Sebab Tuhan menyatakan hikmat keselamatanNya bagi mereka. Apa yang tersembunyi bagi dunia dan para penguasa justru dinyatakan Allah bagi orang – orang yang dikasihiNya. Sebab umatNya telah menerima Roh Allah. Hidup mereka dipimpin oleh Roh Allah.  

 

Orang yang memiliki hikmat Allah pasti berkata-kata berdasarkan hikmat dan Roh Allah, memahami hal-hal rohani, dan menilai segala sesuatu berdasarkan hikmat Allah. Orang yang memiliki hikmat Kristus pasti menanggalkan cara hidup duniawi  karena hidupnya dipimpin oleh Roh Allah. Paulus mengakui bahwa dunia memandang salib dan cara hidup Kristus sebagai sebuah kebodohan tetapi orang – orang yang menyadari kasih dan penebusan Tuhan, pasti tahu bahwa apa yang dipandang kebodohan bagi dunia justru dipilih Allah untuk menyatakan kemuliaanNya. Orang yang memiliki hikmat Allah menyadari sepenuhnya kuasa Allah dalam hidupnya. Paulus menegaskan kepada jemaat bahwa yang diberitakan para Rasul adalah hikmat Allah, maka itulah yang harus diikuti sebagai pedoman dan pegangan hidup jemaat.

 

Kita adalah orang Kristen. Tapi sudahkah kita memiliki hikmat Allah? Sebagai orang yang diselamatkan melalui hikmat salib apakah cara hidup kita adalah cara hidup yang berdasarkan Salib Kristus atau justru hikmat duniawi? Ini menjadi sebuah perenungan yang mengoreksi kehidupan kita secara khusus ketika GKI akan berusia 65 tahun. Apakah sebagai warga GKI kita hidup menurut keinginan kita sendiri? Ataukah hidup kita dipimpin oleh hikmat Allah?

 

Hikmat Allah bukan soal pengetahuan teoritas tentang isi Alkitab. Hikmat Allah adalah soal sikap hidup yang meneladani Kristus dan penderitaanNya. Mengasihi meskipun dibenci. Setia walaupun menderita. Melayani dengan sungguh – sungguh walaupun dikritik. Melakukan kebenaran meskipun ada godaan untuk berbuat jahat. Kita bersyukur bahkan saat hidup penuh kesulitan. Hikmat Allah hanya dapat bekerja dalam diri seorang yang menerima Kristus Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat. Dan kita memandang semua hal dengan “pikiran Kristus”.

 

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali kesulitan memahami rencana Allah. Kita membutuhkan pimpinan Roh Kudus. Ketika mengandalkan hikmat manusia hidup kita tidak mengalami sukacita saat berbagai pergumulan kita alami. Akibatnya, kita tidak dapat melihat rencana indah Allah. Sebaliknya, jika bersandar pada hikmatNya, kita akan mengalami mujizat Allah.

 

Firman Tuhan ini mengajarkan kita agar memiliki hikmat dari Allah. Bukan hikmat manusia yang berasal dari dunia ini, yang fana dan sementara tapi hikmat Allah yang kekal, yang membuat kita bersukacita senantiasa dan mengarahkan hidup pada hidup yang berkenan pada Allah. Karena itu marilah kita menerima Roh Allah agar kita hidup dengan hikmat Allah. Hikmat Allah akan menuntun kita memiliki pikiran Kristus dan melakukan kehendak Allah. Jalani kehidupan kita, hadapi pergumulan dengan mengandalkan hikmat Kristus. Amin. Tuhan memberkati. Selamat Hari Minggu.

 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "PRIBADI YANG MEMILIKI HIKMAT KRISTUS ( I Korintus 2:6-16)"

Posting Komentar

Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.

YANG PALING BARU

KESELAMATAN HANYA DARI KRISTUS (Kisah Para Rasul 4:1-22)

ABOUT ME

Foto saya
Waropen, Papua, Indonesia
Menemukan PELANGI dalam hidup sendiri dan menjadi PELANGI di langit hidup sesama. Like and Subscribe my youtube channel: DEAR PELANGI CHANNEL

Iklan

Display

Inarticle

Infeed