KHOTBAH NATAL II: CINTA KASIH KRISTUS DALAM KELUARGA (Lukas 2:21-40)

Ada satu kejadian dalam sebuah keluarga. Suatu malam sang suami meminta tolong istrinya untuk memotong celana kerja yang kepanjangan. Bapa: “Ma, celana ini terlalu Panjang, potong akan kah, 10 cm saja, besok bapa mau pake ke kantor”. Istrinya sedang sibuk dengan banyak pekerjaan dan hanya menjawab: “Bapa, bilang anak perempuan yang bikin sudah, mama pu kerja banyak nih”. Si suami meminta tolong anak perempuannya: “Yakomina, ko potong bapa pu celana ini 10 cm”. Anaknya menjawab: “Bapa, saya pu PR banyak nih, bilang nene yang bikin sudah”. Kemudian sip ria itu meminta tolong mamanya: “Nene, tolong potong celana ini kah, terlalu Panjang jadi potong 10 cm”. Tapi mamanya menjawab: “Adooh nene nih su capek skali, bagaimana kalo besok saja baru Nene potong”. Dan si pria langsung merespons: “Bah tra bisa, besok pagi celana nih  mau dipakai ke kantor”. Pria itu sedih, jengkel, kecewa karena orang – orang yang dia cintai tidak memenuhi permintaannya. Ia meletakkan celananya di kursi dan memilih tidur. Dalam hatinya berkata: “biar sudah tra apa-apa, besok pagi kaki celana nih saya gulung saja”.

 

Jam 11 malam saat istrinya akan tidur, dia teringat celana kerja suaminya, jadi si istri langsung mengambil celana itu dan memotong bagian kakinya 10 cm. Ia tidur dengan tersenyum. Tengah malam anak perempuannya terbangun untuk pergi ke toilet. Saat ia melihat celana kerja ayahnya, iapun memotong celana itu 10 cm lalu tidur dengan tersenyum. Saat subuh sang nenek terbangun paling awal dan ia mengingat celana kerja anak lelakinya. “Kasian saya pu anak laki – laki pu celana lebih baik saya potong supaya sebentar dia bisa pake pergi kantor”. Si Nenek juga memotong celana itu 10 cm. Saudaraku, dapat kita bayangkan, saat si pria terbangun dan hendak memakai celana itu. Kaget, marah, terharu, lucu dan pada akhirnya suara tawa pagi hari memenuhi rumah keluarga itu.  

 

Begitulah cinta dalam keluarga,  tidak selalu romantis, kadangkala ada salah paham. Seringkala muncul kekesalan, kejengkelan malah terkadang ditambah bumbu – bumbu cemburu. Cinta tidak selalu manis karena seringkali ada pahitnya bahkan acapkali hati terluka karena salah pengertian. Tapi cinta selalu peduli. Cinta akan tetap setia. Dalam cinta sebagai orang tua, Yusuf dan Maria melakukan beberapa hal bagi bayi Yesus sesuai perintah Allah. Mereka menamai bayi itu: Yesus. Mereka menyunatkan Yesus pada hari kedelapan. Mereka membawa Yesus ke Yerusalem untuk pentahiran. Mereka menyerahkan Yesus kepada Tuhan karena Yesus anak yang sulung. Dalam hal ini mereka mematuhi perintah Tuhan dalam kitab Keluaran dan Bilangan bahwa anak sulung harus diserahkan kepada Tuhan. Yusuf dan Maria juga mempersembahkan sepasang burung tekukur atau dua ekor burung merpati. Yusuf dan Maria menunjukkan ketaatan kepada Allah dan hukum-Nya dan menunjukkan tanggung jawab selaku orang tua.

 

Dalam cinta, Simeon menantikan kedatangan Mesias yang akan membawa kelepasan bagi bangsanya. Ia percaya pada penyataan Roh Kudus bahwa ia akan melihat Mesias sebelum kematiannya. Terbukti bahwa penantian dan imannya tidak sia-sia. Simoen dapat berjumpa dengan bayi Yesus. Simeon memuji – muji Tuhan. Dalam cinta kepada Tuhan, Hana setia bertekun di Bait Allah. Hana dipenuhi sukacita saat berjumpa dengan Yesus. Hana memberi kesaksian tentang Yesus kepada banyak orang. Simeon dan Hana adalah orang-orang yang setia. Mereka memahami bahwa Allah sedang bekerja untuk mendatangkan kebaikan dan berkat bagi manusia.

 

Dalam cinta Tuhan beberapa pemuda hari ini akan mengaku iman sebagai Anggota Sidi Jemaat. Mengaku dan berjanji untuk setia menyangkal diri, memikul salib dan mengiring Yesus sampai akhir kehidupan. Katakanlah: “Ku mau cinta Yesus selamanya, meskipun badai silih berganti dalam hidup. Ku tetap cinta Yesus selamanya”. Katakan dengan cinta sepenuh hati, bukan lain di bibir lain di hati. Dalam cinta, dua pasangan mempelai akan diberkati dalam pernikahan Kudus. Cinta kasih Kristus akan mengikat kehidupan suami istri menghadapi badai rumah tangga sampai maut memisahkan. Dalam cinta, orang tua membawa anak – anak untuk menerima Sakramen Pembaptisan Kudus. Orang tua akan mendidik anak – anak ini dalam iman dan pengenalan kepada Yesus, sehingga anak – anak ini akan mengalami pertumbuhan sebagaimana yang dialami Yesus: menjadi besar serta bertambah – tambah dalam hikmat dan kasih karunia. Ajarlah anak – anak kita, cara hidup yang takut akan Tuhan. Jika anak-anak tumbuh dalam cinta Kristus maka mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang cinta damai, jujur dan penuh kasih. Yesus adalah Raja, Sang Mesias dan Allah tapi Yesus sebagai manusia juga menerima cinta dari orang tua dan keluarganya. Betapa penting cinta kasih Tuhan dalam kehidupan setiap keluarga. Jadi ingatlah saudaraku, semua yang terjadi hari ini bukan sekedar sebuah tradisi dalam kehidupan Gereja tapi karena kita mencintai Kristus, mensyukuri cinta kasihNya dan hidup dalam cinta kasih Kristus. Selamat Merayakan Natal Yesus Kristus. Tuhan memberkati kita sekalian.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "KHOTBAH NATAL II: CINTA KASIH KRISTUS DALAM KELUARGA (Lukas 2:21-40)"

Posting Komentar

Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.

YANG PALING BARU

KEKASIHKU TUHANKU (Kidung Agung 5:9-6:3)

ABOUT ME

Foto saya
Waropen, Papua, Indonesia
Menemukan PELANGI dalam hidup sendiri dan menjadi PELANGI di langit hidup sesama. Like and Subscribe my youtube channel: DEAR PELANGI CHANNEL

Iklan

Display

Inarticle

Infeed