ARTIKEL : KEMITRAAN PEREMPUAN DAN LAKI - LAKI

Suatu Tinjauan dari Sudut Pandang Teologi Kristen
Oleh : Pdt.Diana Pesireron, M. Teol
    A.   PENDAHULUAN
   Topik tentang perempuan telah menjadi topik hangat diberbagai tempat dan oleh berbagai kalangan. Tetapi kita tidak hanya memberi fokus kepada perempuan saja sebab berbicara tentang perempuan berarti berbicara juga tentang laki – laki dan demikian sebaliknya. Oleh sebab itu fokus kita kini dan kedepan adalah kemitraan antara perempuan dan laki – laki sebagai manusia ciptaan Allah, supaya keduanya dapat bermitra dan memenuhi panggilan Allah di dalam diri mereka.

B.   PENGERTIAN ISTILAH
Istilah “kemitraan” berarti kesetaraan derajat dan jalinan kerja sama antara sesama kawan sekerja berdasarkan kesetaraan tersebut. Kemitraan perempuan dan laki - laki mengandung arti bahwa perempuan dan laki - laki dipahami sebagai dua pihak yang mempunyai kedudukan yang setara sebagai sesama rekan sekerja. Oleh sebab itu kemitraan perempuan dan laki – laki bertujuan pada pengembangan hubungan dan perlakuan yang lebih adil dan seimbang antara laki – laki dan perempuan.

C.   PERGUMULAN YANG DIHADAPI PEREMPUAN
Dalam masyarakat sudah berkembang hubungan yang tidak adil antara laki – laki dan perempuan. Terjadi dominasi kaum laki – laki yang bahkan dilestarikan dalam struktur budaya dan adat, seperti dalam tatanan adat yang bersifat “patriakhal” (kebapakan / laki – laki). Kaum laki – laki menjadi penentu segala – galanya sedangkan kaum perempuan hanya menjadi penurut – penurut saja.
Masyarakat juga membedakan pekerjaan domestik dan pekerjaan publik. Terjadi diskriminasi gender dalam masyarakat karena pembagian peran dan pekerjaan dilihat berdasarkan jenis kelamin. Pekerjaan domestik dianggap lebih ringan, lebih rendah dan lebih cocok untuk perempuan. Pekerjaan diluar rumah dianggap lebih berat, lebih tinggi dan lebih cocok buat laki – laki. Pembagian peran ini terjadi pada hampir segala bidang kehidupan seperti dalam pendidikan keluarga dan sekolah sebagai pendidikan formal: anak perempuan belajar masak memasak, bermain boneka sedangkan anak laki – laki bermain mobil – mobilan, menjadi tentara dan lain - lain. Dari segi jenis pekerjaan di luar rumah, peran yang dilakukan oleh perempuan masih terkait dengan tugas – tugas rumah tangga seperti mengasuh anak, menjadi perawat; tugas mendidik seperti guru; tugas memasak dan mengurus rumah seperti membuka rumah makan, menjahit, salon dan lain – lain. Peran – peran yang dilakukan oleh perempuan dibatasi pada pelayanan jasa dan rumah tangga, administrasi serta pendidikan dan kesehatan. Sedangkan bidang politik dan kepemimpinan masih lebih didominasi oleh laki – laki sebab bidang ini berkaitan dengan pengambilan keputusan yang katanya lebih cocok untuk laki – laki, perempuan dinilai lebih mempertimbangkan perasaan dan kurang tegas dalam pengambilan keputusan.
Itulah kenyataan dan pergumulan yang dihadapi oleh perempuan. Tetapi sebenarnya hal itu menjadi pergumulan bersama laki – laki dan perempuan dalam kemitraannya sebagai manusia yang ciptakan segambar dan serupa dengan Allah.

D.   MENUJU KEMITRAAN YANG BENAR
Usaha mengembangkan kemitraan yang benar sudah berlangsung dengan munculnya kesadaran dalam masyarakat dan Gereja untuk memperjuangkan kesetaraan kaum perempuan dan laki – laki.
Dalam masyarakat umum telah muncul usaha – usaha untuk membebaskan kaum perempuan dari “perbudakan” kaum laki – laki seperti yang disponsori oleh gerakan feminisme. Sedangkan dikalangan Gereja pada tahun 1987 melalui Dewan Gereja – gereja se – dunia menetapkan program aksi oikumenis yang disebut Dasawarsa Solidaritas dengan kaum Perempuan (DSP). Dasawarsa solidaritas dengan kaum perempuan memiliki tiga (3) program prioritas yakni:
1.  Partisipasi penuh kaum perempuan dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat
2.  Pandangan – pandangan dan komitmen – komitmen  kaum perempuan tentang masalah – masalah keadilan, perdamaian dan keutuhan Ciptaan.
3.    Kaum perempuan berteologi dan saling berbagi spiritualitas.
      Jadi baik masyarakat maupun gereja telah berupaya membangun suatu hubungan antara laki – laki dan perempuan yang sederajat dan bertanggung jawab, yang didasarkan atas Firman Tuhan.

E.   KEMITRAAN LAKI – LAKI DAN PEREMPUAN DI DALAM ALKITAB
Alkitab menegaskan bahwa baik laki – laki dan perempuan adalah sama – sama ciptaan Tuhan yang diciptakan “segambar dan serupa” dengan Allah. Keduanya sama – sama merupakan rekan sekerja Allah, dimana yang seorang tidaklah lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain. Keduanya mempunyai kedudukan yang sama dan setara di mata Allah. Berikut ini adalah beberapa bagian Alkitab yang menunjukan relasi setara antara laki – laki dan perempuan.
1.   Menurut Gambar dan Rupa Allah.
Menurut Kejadian 1:26-27, manusia telah diciptakan oleh Allah menurut gambar dan rupa-Nya. Dari ungkapan ini, dapat ditafsirkan bahwa eksistensi dan identitas tersebut berkaitan erat dengan kekuasaan yang dimiliki, juga dengan pikiran dan sifat-sifat yang ada di dalam tubuh manusia. Namun yang lebih dalam dan jauh dari hal-hal ini adalah hubungannya yang tersembunyi di antara manusia dan Khaliknya. Dari proses penciptaan dapat dilihat hal-hal yang khusus, seperti Allah menghembuskan nafas-Nya ke dalam hidungnya (Kej 2:7). Hal ini jelas menunjukkan hubungan yang sangat pribadi, mendalam dan rahasia, yang sulit diterjemahkan dalam bahasa manusia. Dalam Kejadian 1, Allah tidak membedakan manusia antara laki-laki dan perempuan keduanya diciptakan oleh Allah dalam keadaan sama derajat, sejajar, dan sama nilai di hadapan Allah. Tidak ada yang lebih penting dan kurang penting, tidak ada istilah yang satu lebih tinggi daripada yang lain. Bahkan tidak ada penjelasan bahwa laki-laki lebih berkuasa daripada perempuan dan sebaliknya. Kepada manusia laki-laki dan perempuan Allah memberikan tugas untuk berkuasa atas ciptaan Allah yang lain. Maka kaum laki-laki dan perempuan perlu bekerjasama serta melakukan segala tugas yang dipercayakan oleh Allah kepada mereka.
2.   Penolong Yang Sepadan
Dalam Kejadian 2, manusia perempuan diciptakan sebagai “penolong yang sepadan” bagi laki – laki. Istilah “penolong” (Ibrani : ezer) menunjukan bahwa kedudukan si penolong sangat menentukan hidup mati yang ditolong. Tanpa pertolongan kaum perempuan maka kaum laki – laki tidak dapat mengemban tanggung jawab untuk “mengusahakan dan memelihara taman itu” (Kej. 2:15). Kedudukan perempuan bukanlah kedudukan yang lebih rendah sebab Istilah ezer juga dikenakan kepada Tuhan, Tuhan adalah ezer bagi Israel.
3.   Sesama “Kawan Sekerja” Allah
Perumusan Paulus dalam I Korintus 3:9 bahwa rekan sekerja menunjuk pada orang atau orang – orang yang dilibatkan oleh Allah di dalam pekerjaanNya, baik pekerjaan penciptaanNya maupun pekerjaan penyelamatanNya. Manusia laki – laki dan perempuan dipercayakan Allah menjadi rekan sekerja untuk “mengusahakan dan memelihara” seluruh ciptaan Tuhan. Sekalipun manusia sudah jatuh ke dalam dosa tetapi itu bukan penghalang bagi rencana Allah memakai manusia ciptaanNya untuk melaksanakan kehendakNya menjadi mitra Allah.
Sebagaimana Allah memakai laki – laki maka Allah juga memakai perempuan sebagai mitraNya. Kesaksian Alkitab dalam Perjanjian Lama mencatat bahwa ada beberapa wanita yang "dipercayai oleh Allah" maupun masyarakat untuk menjadi pemimpin. Mereka berperan baik di bidang politik maupun kerohanian. Walaupun struktur bangsa Israel tidak memungkinkan wanita berperan secara aktif apalagi tampil ke depan sebagai pemimpin; bagi Allah tidaklah demikian. Allah tetap pada prinsip bahwa pria dan wanita sama di hadapan-Nya, sehingga Ia mengangkat kembali martabat perempuan di khalayak bangsa Israel. Di tengah-tengah bangsa pilihan, Allah telah menampilkan para wanita sebagai pemimpin. Misalnya:
a.    MIRYAM.
Keluaran 2:3-4 mengisahkan tentang seorang gadis pemberani yang menjaga adiknya yang masih bayi di tepi sungai Nil. Dengan lantang ia mengusulkan kepada putri Firaun agar mencari seorang pengasuh dan penyusu untuk si bayi Musa. Pada saat dewasa, bersama dengan Harun dan Musa adik-adiknya, ia menjadi pemimpin (Mi 6:4), dan bergelar nabiah (Kel 15:20).
b.    DEBORA.
Menurut Hak 4:4, ia adalah seorang nabiah sekaligus hakim yang memberi nasihat dan keadilan kepada umat Israel. Ia sangat termasyhur bukan hanya dalam hal keadilan, tetapi juga karunia rohani sebagai nabiah (lihat Hakim-hakim4). Debora adalah seorang pemimpin yang sangat berwibawa. Barak, panglima perang itu, tidak berani maju jika Debora tidak ikut maju ke medan perempuan. Memang bukan Debora yang langsung memimpin perang, tetapi karena dialah Barak menjadi berani. Jadi, bukankah kepemimpinan Debora telah membuktikan bahwa kemitraan antara kaum pria dan wanita bersifat saling melengkapi?
c.    HULDA.
Dalam 2 Raj 22:14, 2Taw 34:22 disebutkan seorang nabiah yang sangat dihormati pada zaman Raja Yosia. Ia dengan berani memberitakan baik hukuman Allah alas Yerusalem, maupun pengampunan Allah bagi raja dan rakyatnya. Hulda betul-betul berwibawa di hadapan raja, para pemimpin Yehuda lainnya, serta rakyat di Yerusalem. Singkatnya, Hulda tampil sebagai pemimpin rohani yang sangat disegani dan dihormati.
d.    ESTER.
Ia adalah seorang ratu yang cantik jelita, gadis yatim piatu anak angkat Mordekhai (Est 2:7). Dalam proses pemilihannya menjadi ratu pengganti Wasti, ia juga mengalami pendidikan dan pelatihan yang tidak mudah. Dalam kapasitasnya sebagai permaisuri raja Ahasyweros, ia tetap mengasihi bangsanya, orang Yahudi yang pada waktu itu menjadi tawanan Persia. Tatkala bangsanya menghadapi ancaman yang mengerikan, ia tampil sebagai pembela dan pahlawan pembebas walaupun nyawanya sebagai taruhannya (Est 7:6).
Di dalam Perjanjian Baru kita bertemu dengan beberapa wanita yang tampil sebagai pemimpin dan juga sebagai pelayan jemaat. Antara lain: Lidya, Priskila, Febe, dan masih banyak lagi nama-nama perempuan yang tercatat sebagai pendukung pelayanan, baik pada masa Kristus juga pada masa Rasul Paulus. (Kis 16:15; 18:2; Rm 16:13; 2Tim 4:19; Luk 8:1-3).
Kenyataan ini membuktikan bahwa Allah tidak pernah membedakan derajat laki - laki dan perempuan. Bahkan kalau kita mau jujur, Juruselamat sendiri dilahirkan melalui rahim seorang wanita, diasuh dan dididik oleh seorang wanita. Juga berita kemenangan atas kematian, yakni kebangkitan-Nya yang menggemparkan itu, diberitahukan untuk pertama kali kepada seorang perempuan. Tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa PB memberi tempat yang layak pada perempuan, walaupun pengaruh keyahudian masih terasa sangat kental di dalamnya.
Jadi Tujuan Tuhan menciptakan penolong bagi Adam bukan cuma untuk perkawinan atau jadi suami istri tetapi jauh lebih prinsip yakni bisa bermitra dan kerjasama. Jika keduanya merupakan mitra kerja Allah maka keduanya juga merupakan sesama mitra satu terhadap lainnya. 
4.   Di dalam Kristus Semuanya Satu
Nasihat Paulus dalam Galatia 3:28 “Dalam hal ini tidak ada orang yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki – laki atau perempuan, karena semuanya adalah satu di dalam Kristus Yesus”.  Ucapan ini tidak bermaksud meleburkan segala perbedaan menjadi satu kesatuan melainkan menekankan bahwa perbedaan termasuk perbedaan jenis kelamin yakni laki – laki dan perempuan, bukanlah penghalang dalam kesatuan dengan Yesus Kristus (band. I Kor 11:11-12).
Jadi fakta adanya perbedaan jenis kelamin tidak mengurangi persekutuan mereka dengan Tuhan dan pengabdian bagi Kristus. Perbedaan jenis kelamin tidak boleh menjadi penghalang dan tidak boleh dijadikan penghalang bagi persekutuan di dalam gereja. Kesatuan selaku tubuh Kristus itulah yang terpenting. Segala tembok pemisah termasuk di dalamnya tembok superioritas (rasa diri unggul) dan tembok inferoritas (rasa diri rendah) dirobohkan dalam kesatuan tubuh Kristus. Selaku tubuh Kristus semua pihak saling tolong menolong untuk memasyhurkan Injil Kristus.

F.    HARAPAN DAN TINDAK LANJUT
Berdasarkan pemaparan di atas, maka jelaslah bahwa kaum laki – laki dan perempuan sesungguhnya memiliki derajat yang sama juga harkat dan martabat yang sama. Oleh sebab itu beberapa hal yang menjadi harapan dan tindak lanjut bagi kemitraan laki – laki dan perempuan adalah:
1.    Perempuan hendaknya menyadari bahwa pengalaman sebagai perempuan merupakan karunia yang berharga dari Tuhan. Kepekaan, kehangatan, kepedulian, kasih sayang bahkan penderitaan perempuan memudahkan kita memahami kasih Tuhan yang tak terbatas. Itu sebabnya perempuan juga memiliki potensi diri untuk mengelola dan mengembangkan kehidupan yang lebih maju.
2.    Misi perempuan tidak pernah untuk dirinya sendiri tetapi untuk kepentingan sesama. Perjuangan perempuan bukanlah untuk menyaingi laki – laki atau untuk mengambil posisi laki – laki atau untuk menjadi sama seperti laki – laki atau untuk melebihi laki – laki. Perjuangan perempuan adalah untuk mengembalikan hakekat manusia sebagai Gambar dan Rupa Allah.
3.  Perempuan diberi tugas dan karunia yang sama dari Tuhan seperti yang diberikan kepada laki – laki. Karena itu, Gereja dan masyarakat masa kini membutuhkan partisipasi perempuan. Gereja dan masyarakat mesti memberi tempat bagi perempuan, menerima keberadaan perempuan dan menghargai potensi – potensi yang dimiliki perempuan. Kaum perempuan sendiri harus aktif dalam berkarya sesuai potensinya.
4.  Peran perempuan dalam gereja hendaknya tidak terbatas pada keikutsertaan dalam ibadah – ibadah saja. Perempuan mesti dibina menjadi perempuan yang cakap, mandiri, dan terampil untuk berkarya dan melayani di tengah persekutuan. Ke luar, persekutuan wanita diharapkan juga dapat terlibat dalam solidaritas kaum perempuan untuk perlindungan HAM, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan, Kekerasan terhadap Perempuan dalam Rumah Tangga dan masyarakat dan berbagai isu lainnya yang dihadapi dan digumuli oleh perempuan.

G.   PENUTUP
Demikian materi tentang Kemitraan Perempuan dan Laki – laki: Suatu Tinjauan dari Sudut pandang Teologi Kristen. Kiranya dapat semakin membangun hubungan positif dalam kemitraan laki – laki dan perempuan. Komitmen kita adalah bahwa dalam Kristus tidak ada perbedaan karena gender, etnis, ras maupun usia. Kita menerima kemajemukan dalam tubuh Kristus sebagai karunia yang dimanfaatkan dalam melaksanakan misi Allah di tengah dunia. Marilah kita saling melengkapi kekurangan dan kelebihan masing – masing agar Allah semakin dimuliakan melalui kita, manusia yaitu laki – laki dan perempuan. Tuhan memberkati!

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "ARTIKEL : KEMITRAAN PEREMPUAN DAN LAKI - LAKI"

Posting Komentar

Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.

YANG PALING BARU

WARISAN IMAN (II Timotius 1:5)

ABOUT ME

Foto saya
Waropen, Papua, Indonesia
Suka menulis dan selalu belajar hal-hal positif dalam diri orang lain

Iklan

Display

Inarticle

Infeed