CINTA UANG ADALAH AKAR SEGALA KEJAHATAN (I Timotius 6:2b-10)

Sebuah benda dapat diselewengkan fungsinya menjadi sesuatu yang merugikan. Pisau dapat digunakan untuk memotong sayuran tapi juga dapat digunakan untuk membunuh. Demikian pula dengan uang. Dari segi kegunaan, uang mempunyai manfaat untuk pemenuhan kebutuhan hidup seperti untuk makan, minum, atau pakai, mengurus pendidikan atau usaha, membangun rumah dan lain sebagainya. Tetapi uang juga dapat menjadi akar kejahatan. Cinta uang dapat mengakibatkan orang menjadi serakah dan melakukan hal – hal yang jahat seperti perilaku korupsi, mengambil hak orang, dan mengambil keuntungan bagi diri sendiri. Perilaku ini bukan salah bendanya (uang) tetapi karena perilaku orang yang menggunakan benda (uang) itu.

 

Dalam bacaan Alkitab saat ini, Rasul Paulus memberi nasehat bagi Timotius untuk melakukan tugas pelayanan dengan iman, taat dan setia kepada Allah. Paulus menguatkan Timotius untuk berani menghadapi tantangan pelayanan termasuk menghadapi ajaran – ajaran sesat yang mengacaukan kehidupan iman jemaat.  Tugas Timotius disebutkan oleh Rasul Paulus pada ayat 2b “ajarkanlah dan nasihatilah”. Pengajaran yang benar dan nasehat – nasehat iman akan memberi pertumbuhan iman yang baik bagi jemaat.

 

Pengajaran yang benar adalah pengajaran yang berasal dari Tuhan. Pengajaran – pengajaran itu diikuti oleh sikap hidup yang benar dan kudus. Berbeda dengan ajaran – ajaran sesat yang tampak dalam sikap hidup berlagak tahu, mencari – cari soal, bersilat kata, menimbulkan fitnah, percekcokan, mencari keuntungan bahkan dari ibadah – ibadah. Ajaran – ajaran sesat membuat kehidupan anggota jemaat menyimpang dari Kristus. Bukan Kristus yang menjadi prioritas hidup tapi kesenangan diri, keserakahan yang membawa kebinasaan. Perilaku hidup yang demikian berarti mengubah orientasi hidup dari cinta Yesus menjadi cinta uang.

 

Cukupkanlah diri dengan apa yang ada (ay 8), Rasul Paulus mengingatkan Timotius untuk “tetap merasa cukup” dengan apa yang sudah Tuhan limpahkan baginya dalam tugas pelayanannya yang sudah ia kerjakan. Karena keinginan untuk “hidup berlebihan, atau melimpah atau cinta uang” adalah akar dari segala kejahatan.

 

Bagian Firman Tuhan ini memberi pesan penting bagi kita di tengah upaya kita untuk mengejar dan mencari hal – hal yang memuaskan kita. Pertanyaan penting untuk kita renungkan adalah: di manakah hati kita berada? Pada uang atau pada Kristus? Di mana cinta kita berlabuh ? Pada harta atau pada Tuhan?

 

Cinta uang adalah akar segala kejahatan karena cinta buta pada uang dapat membuat seseorang melakukan apa saja. Berbagai cara akan ditempuh yang penting kantong tetap penuh. Kecintaan buta pada uang membuat manusia melakukan kejahatan. Tema khotbah kita saat ini menyadarkan kita agar bertobat dari cara hidup cinta uang. Kita harus menyadari bahwa uang adalah BERKAT TUHAN yang patut kita syukuri. Mari kita belajar dari nasihat Paulus kepada Timotius melalui kata “CUKUP” (ayat 8). Berapapun uang yang kita peroleh dari hasil pekerjaan kita bukanlah soal, yang penting diikuti rasa cukup yang membuat kita bersyukur.

 

Apapun pekerjaan kita, baik sebagai pelayan Tuhan, Pendeta, Guru Jemaat, Penginjil, Pengajar, atau pekerjaan ditengah-tengah umat : Petani, Nelayan, ASN, Pegawai Swasta, TNI-POLRI, Pengusaha, penjual di pasar-pasar, tukang ojek, tukang bangunan, dan semua lainnya, kita semua diingatkan untuk “bekerjalah dengan benar”. Hasilkan dan perolehlah uang dengan penuh kejujuran dan takut akan Tuhan. Ingatlah bahwa cinta uang itu akar dari segala kejahatan. Uang memang penting tetapi bukan yang terutama. Segala hal butuh uang tapi uang bukanlah segala sesuatu. Karena itu, jangan menjadikan uang sebagai “tuhan” atas hidup kita.

 

Seluruh harta kekayaan kita, apapun mereknya memiliki label yang sama yaitu : SEMENTARA. Rumah hanyalah sebuah kotak tempat berlindung dari hujan dan panas. Mobil hanyalah sebuah alat untuk membawa kita dari satu tempat ke tempat yang lain. Kita tidak dapat membawa harta kekayaan itu saat kita meninggal dunia. Maka janganlah mengikat hatimu pada harta kekayaan. Keterikatan yang mendalam dengan harta sangat membahayakan hidup kerohanian kita. Keterikatan yang tidak sehat pada hal-hal yang bersifat materi dapat menghalangi kita untuk hidup bagi Kristus. Kelolalah uang dan harta kekayaan dengan bijak dan bertanggung jawab. Jagalah hati agar tidak menjadi serakah dan cinta uang.

 

Ada sebuah kisah, suatu kali seorang pemilik tanah berujar kepada seorang pria yang ingin memiliki tanah yang luas, demikian: "Anda akan mendapatkan tanah seluas daerah yang mampu Anda kelilingi sebelum matahari terbenam. Jika Anda berhasil mengelilingi 40 hektar, Anda mendapatkan 40 hektar. Jika Anda mampu mengelilingi 50 hektar, Anda mendapatkan 50 hektar." Tanpa buang waktu, orang ini segera berlari sekuat tenaga. Ia terus berlari, dari pagi hingga petang, sampai akhirnya dengan terhuyung-huyung ia berkata kepada pemilik tanah itu, "Saya dapat, saya dapat 500 ribu meter persegi." Namun seketika ia roboh, dan mati. Keserakahan tidak akan membuat hidup kita semakin kaya, keserakahan justru akan membuat jiwa kita miskin dan akhirnya menghancurkan kita. Mungkin secara materi kita semakin kaya, tetapi apa arti semuanya itu jika kita mengabaikan keluarga, pelayanan, dan diri kita? Keserakahan tidak akan pernah ada habisnya. Karena "cinta uang" itu seperti meminum air laut, makin banyak makin haus. Dari sedikit ingin banyak, dari banyak ingin lebih banyak lagi. Semua itu baru berhenti, setelah keserakahan itu menghancurkan semua hal di hidup kita. Mari kita belajar untuk mencukupkan diri, sehingga kita punya banyak waktu tidak hanya untuk mencari, tetapi juga untuk menikmati kasih sayang Tuhan yang lebih berharga dari apapun juga. Amin. SELAMAT HARI MINGGU. TUHAN MEMBERKATI

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "CINTA UANG ADALAH AKAR SEGALA KEJAHATAN (I Timotius 6:2b-10)"

Posting Komentar

Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.

YANG PALING BARU

MENJADI SEKUTU ALLAH (Rut 1:15-22)

ABOUT ME

Foto saya
Waropen, Papua, Indonesia
Menemukan PELANGI dalam hidup sendiri dan menjadi PELANGI di langit hidup sesama. Like and Subscribe my youtube channel: DEAR PELANGI CHANNEL

Iklan

Display

Inarticle

Infeed