KUASAILAH DIRIMU DAN BERITAKANLAH INJIL KRISTUS (II Timotius 4:1-5)

Saat tiba di pantai Mansinam pada Minggu pagi pukul 06.00 tanggal 5 Februari 1855,  hal pertama yang dilakukan Carl William Ottow dan Johan Gottlob Geissler yaitu mengucapkan doa: “Dengan nama Tuhan kami menginjakan kaki di Tanah ini”. Kedua Rasul Papua itu tidak tahu seperti apa hasil Pekabaran Injil di Tanah Papua tapi mereka mengimani pertolongan Tuhan. Mereka tidak tahu, apa yang akan terjadi dengan hidup mereka, tapi hati mereka penuh sukacita. Geissler mengungkapkan rasa sukacita itu dalam surat yang ditulisnya kepada Bapa Gosner: “Anda tak dapat membayangkan, betapa besarnya rasa sukacita kami bahwa pada akhirnya tanah tujuan terlihat. Matahari terbit dengan indahnya,  Ya semoga matahari yang sebenarnya menyinari kami dan orang-orang kafir yang malang itu, yang telah sekian lamanya merana di dalam kegelapan. Semoga sang Gembala setia mengumpulkan mereka dibawah tongkat Gembala-Nya yang lembut”

 

Hari ini, 5 Februari 2021, doa dan harapan Ottow dan Geissler dijawab oleh Tuhan. Terang Injil dari Kristus sang Matahari kehidupan masih tetap menyinari kita. Hari ini, sukacita Ottow dan Geissler juga menjadi sukacita kita, saat kmerayakan HUT ke – 166 Pekabaran Injil di Tanah Papua. Tema khotbah kita dari bacaan Alkitab dalam II Timotius 4:1-5 adalah Kuasailah dirimu dan beritakanlah Injil Kristus. Surat Paulus kepada Timotius berisi pesan – pesan Pastoral bagi Timotius dalam tugas pemberitaan Injil. Paulus memulai perikop ini dengan mengatakan : “Dihadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh…”, pernyataan ini mengandung makna bahwa Allah adalah pemilik pekerjaan pemberitaan Injil ini. Baik Paulus, Timotius, Ottow dan Geissler juga saya dan Bpk/Ibu, kita adalah alat yang dipakai Allah dalam tugas pemberitaan Injil. Setiap orang yang dipanggil Allah harus melakukan tugas pemberitaan Injil dengan kesungguhan untuk menyenangkan Tuhan dan bukan manusia. Dalam ayat – ayat selanjutnya, Paulus menekankan beberapa hal sebagai pesan bagi Timotius tetapi juga bagi kita semua.

 

Pertama, Panggilan kita adalah panggilan untuk memberitakan Firman, siap sedia baik atau tidak baik waktunya.  Tugas pemberitaan Injil menuntut ketaatan, penyerahan diri dalam iman kepada Allah. Marilah berkomitmen sesuai nasihat Firman Tuhan ini, seperti Ottow dan Geissler, entahkah situasi menguntungkan atau merugikan, menyenangkan atau menyakitkan, kita tetap memberitakan Injil. Menyebut Papua berarti menyebut Injil. Tanah Papua telah dimenangkan oleh Injil Kristus. Itu berarti setiap orang yang mendiami Tanah ini terpanggil untuk memberitakan Injil. Hidup kita adalah untuk memberitakan Injil.

 

Kedua, kita memberitakan Injil dalam perilaku hidup sehari - hari: Jadi pemberitaan Injil bukan hanya melalui khotbah dan kata – kata tapi melalui tindakan yang nyata. Jika Injil Kristus telah menyinari Papua sampai pada 166 tahun ini, maka hiduplah sesuai Injil itu. Jika Injil yang adalah kekuatan Allah telah mengubah peradaban Papua. Yang dahulu gelap, kini hidup dalam terang. Maka renungkan dengan sungguh – sungguh: apakah setiap perkataan atau tindakan kita sejalan dengan Iniil Kristus? Ayat 2b menyebutkan cara hidup: menyatakan apa yang salah, saling menegor dan menasihati dalam kesabaran dan pengajaran. Jadi pemberitaan Injil mengandung unsur penggembalaan. Itu artinya hidup kita, sikap kita, respons kita terhadap hal – hal yang tidak kita setujui, tetap mesti direspons dengan cara - cara yang Injili. Jika kita marah, kecewa, tidak setuju karena sesuatu hal, respons kita sebagai jemaat dewasa, bukan respons atas dasar apa yang kita rasa: kecewa, marah dan tidak setuju itu. Respons kita adalah respons secara Injili. Janganlah mempermalukan Injil Kristus dengan pemikiran, perkataan dan tindakan yang tidak Injili. Tidak setia dalam keluarga, tidak setia dalam pelayanan dan pekerjaan, tidak menjaga kelestarian alam, tidak peduli dengan nasihat dan teguran rang tua: itu contoh – contoh hidup yang tidak sejalan dengan Injil.

 

Ketiga, panggilan kita adalah untuk menguasai diri dalam segala hal (ay.5). Sabar menderita dan tunaikan tugas pelayanan. Memberitakan Injil berarti siap menerima resiko. Seperti Kristus yang menderita sampai mati. Seperti Paulus, Timotius, Ottow dan Geissler yang setia sampai akhir, maka kita sekalian dipanggil untuk setia menjalankan tugas pemberitaan Injil sampai akhir dengan tetap menguasai diri.

 

Keempat, kita diperhadapkan dengan tantangan Pekabaran Injil: “kelak akan datang waktunya, orang tidak lagi mau mendengar Injil, tidak mau bersekutu, tidak mau menerima ajaran sehat, mereka akan mengikuti guru-guru, para pengajar duniawi untuk memuaskan keinginan telinga mereka”. Di zaman dengan kemajuan teknologi, kita juga menghadapi tantangan yang tidak mudah. Salib pemberitaan Injil ini berat tapi jangan berhenti menyerah. Pandanglah pada Kristus yang memanggil kita, ia yang menyertai kita sampai pada akhir zaman.

 

Tahun ini kita merayakan HUT ke – 166 Pekabaran injil di Tanah Papua dalam terang tema: KETAHUILAH AKU MENYERTAI KAMU SAMPAI PADA AKHIR ZAMAN (Matius 28:20) dan Sub Tema: Mensyukuri HUT Pekabaran Injil ke – 166, Di Tanah Papua, kita bertekad untuk terus Memberitakan Injil di dalam Gereja dan di tengah Masyarakat di Tanah Papua sampai akhir zaman. Ini jaminan dari Allah bahwa apapun pergumulan dan resiko yang kita hadapi, Allah menyertai kita. Allah menyertai kita dalam gumul di tengah dunia karena Pandemi Covid 19. Allah menyertai kita di tengah pergumulan Papua untuk Otonomi Khusus. Allah menyertai pergumulan Waropen sesudah PILKADA 2020 maupun menuju Sidang Sinode XVIII tahun 2022. Penyertaan Allah itu sempurna, tidak berkurang sedkitpun. Yang perlu kita lakukan adalah tetap setia.

 

Pada saat kebaktian pengutusan untuk datang ke Papua, Geissler menulis dalam catatan hariannya: Kami pergi ke daerah yang belum pernah ada seorang pekabar Injil, kami tidak mengharapkan pertolongan dari orang lain selain dari Dia yang mengatakan “Aku menyertai kamu sampai kepada akhir hidup (Mat 28:20”). Ottow dan Geissler membuktikan kesungguhan dan kesetiaan pada panggilan Allah sampai akhir hidup mereka. Ottow meninggal dan dimakamkan di Kwawi dan Geissler kembali ke Jerman karena sakit tanpa kekayaan material dan meninggal serta dimakamkan secara sederhana dengan inisial nama pada batu nisan: JGG. Mensyukuri HUT ke – 166 tahun ini, pakailah hidup untuk memberitakan Injil, peliharalah iman dalam keluarga, dalam pekerjaan, dalam kehidupan bersama. Allah menyertai kita sampai pada kesudahan zaman. Amin. SELAMAT MERAYAKAN HUT ke – 166 PEKABARAN INJIL Di Tanah Papua 05 Februari 1855 -  05 Februari 2021.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

2 Komentar untuk "KUASAILAH DIRIMU DAN BERITAKANLAH INJIL KRISTUS (II Timotius 4:1-5)"

  1. Syaloom Ibu Pendeta, terima kasih untuk berkat renungan Firman Tuhan yang sudah disampaikan untuk mengingatkan kita untuk selalu menjadi surat-surat Kristus yang hidup yang dapat dibaca oleh semua orang. Tuhan memberkati Ibu Pendeta, untuk tetap setia mewartakan Fiŕman Tuhan melalui blog DEAR PELANGI bagi banyak orang di Tanah Papua. Amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin ...
      Tuhan senantiasa memberkati ...
      Selamat HUT ke - 166 Pekabaran Injil di Tanah Papua ...

      Hapus

Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.

ABOUT ME

Foto saya
Waropen, Papua, Indonesia
Menemukan PELANGI dalam hidup sendiri dan menjadi PELANGI di langit hidup sesama. Like and Subscribe my youtube channel: DEAR PELANGI CHANNEL

Iklan

Display

Inarticle

Infeed