CIRI - CIRI MENJADI MURID TUHAN (Lukas 22:14-38)

Kita harus tetap memiliki sukacita dan damai sejahtera dalam hidup karena kita adalah orang – orang yang sudah diselamatkan. Yesus sudah menderita sengsara dan mati untuk kita. Kita tidak perlu mencari keselamatan. Kita sudah selamat. Karena itu kita bersukacita dan bersyukur. Sahabatku, ada cerita Lucu dari Papua atau Mop Papua. Suatu ketika ada pace 3 orang. Dong tiga mau kasih tunjuk kehebatan dong tiga pu kampung dalam hal mancing. Pace yang pertama de bilang: "Kawan, di sa pu kampung tuh, baru ke laut 1 menit saja, perahu su tenggelam deng ikan". Pace yang kedua tra mau kalah, de balas: "Eh kam dua tahu, kami di sa pu kampung tuh, belum mancing lagi, ikan dong su tanya umpan mana?”. Pace yang ketiga dalam hati bilang: “tra bisa, sa tra boleh kalah dari dong dua”. Pace senyum senyum saja. Dan dia pu teman dua itu tanya: “Eh kenapa pace ko senyum – senyum?” Pace yang ketiga santai saja dan jawab: "Pace kam dua, di sa pu kampung itu, kitong masih tidur, pagi-pagi buta lagi cakalang deng ekor kuning dong su toki pintu dan tanya mau kuah ka goreng?". Hahahaaaa… haaaaaa….

 

Sahabatku, cerita lucu ini menggambarkan bahwa ketiga orang ini tidak mau kalah dalam hal menunjukan kehebatan. Masing - masing mau tunjukan kehebatan bahwa dia pu kampung sudah, dia sudah nih yang hebat. Ini sesungguhnya menunjukan realitas kehidupan kita sebagai manusia bahwa kita manusia cenderung berambisi mau menjadi yang terbesar. Semua mau menjadi pemimpin. Tidak ada yang mau mengalah. Sulit untuk merendahkan hati. Semua mau kasih tunjuk jago, mau kasih tunjuk skill, mau kasih tunjuk sombong. Tapi sahabatku, bukan itu yang Tuhan Yesus ajarkan bagi para muridNya juga bagi kita sekarang. Pada minggu sengsara ke – 6 yang disebut Minggu Judika: Berilah Keadilan, tema khotbah kita adalah: “Ciri – ciri menjadi murid Tuhan”.

 

Saudaraku, ciri artinya tanda khas yang membedakan sesuatu atau seseorang dengan yang lain. Murid SUPM dikenal dari ciri seragamnya. Seragam menunjukan identitasnya. Tapi menjadi murid Tuhan bukan hanya dikenal dari apa yang tampak di luar atau dari penampilan. Murid Tuhan dikenal dari karakter yang tampak dari hati dan dari pola hidup. Dari bagian Firman Tuhan dalam perikop tentang: Penetapan Perjamuan Malam dan Percakapan Waktu Perjamuan Malam, ada beberapa ciri murid Tuhan, bagaimana seharusnya menjadi murid Tuhan?.

a.  Seorang murid selalu mendengar apa yang diucapkan sang Guru. Murid melakukan teladan Gurunya. Seorang murid memiliki inisiatif bersama Guru. Murid harus belajar taat. Kitapun mesti menjadi warga jemaat yang taat. Bapak/Ibu yang akan menerima tanggung jawab pelayanan juga mesti menunjukan ciri murid yang setia di dalam Yesus.

b.  Seorang murid selalu mengucap syukur atas segala sesuatu dan bersedia menjadi berkat bagi sesama. Sebagaimana Yesus mengucap syukur atas cawan penderitaan maka murid Tuhan juga mesti setia dan mengucap syukur meskipun salib pelayanan berat. Tetap setia dan menjadi berkat dalam pelayanan.

c.   Seorang murid bersedia berkorban. Yesus sudah menunjukan teladan pengorbanan. DarahNya dicurahkan. TubuhNya dipecah – pecahkan sebagaimana disimbolkan dengan Roti dan Anggur saat Yesus mengadakan Perjamuan Paskah dengan murid – muridNya. Jadi sebagai murid Tuhan, kita dipanggil bukan untuk memerintah atau menguasai tetapi untuk melayani. Pengorbanan yang kita lakukan: pengorbanan tenaga, waktu maupun uang sesungguhnya itu belum apa – apa dibandingkan dengan pengorbanan darah Yesus. Jadi berkorbanlah tanpa bersungut – sungut dan mengeluh. Sebab jika kita bersungut – sungut dan mengeluh berarti kita belum menjadi murid Tuhan sebab bersungut dan mengeluh bukan ciri murid Tuhan yang sejati. Ciri murid adalah bersedia berkorban.

d.  Seorang murid saling menopang bukan saling mengkhianati. Kita belajar dari kehidupan para murid Yesus. Mereka mengikuti Yesus. Mereka mendengar pengajaran Yesus. Mereka menyaksikan perbuatan – perbuatan Yesus, mujizat yang dilakukan Yesus. Mereka adalah orang dekat tapi yang menjual Yesus dan menyangkal Yesus adalah muridNYa sendiri. Tapi murid sejati harus mengalami pemulihan. Yesus mengingatkan Petrus pada teks kita ini. Murid sejati harus mengalami pemulihan agar saling menopang bukan saling mengkhianati atau menjatuhkan.

e.  Seorang murid mengejar damai sejahtera bukan kedudukan. Kita melayani bukan soal jabatan dan kedudukan tapi pelayanan yang mendatangkan damai sejahtera agar semua orang mengalami kehadiran Kerajaan Allah. Semua yang dipanggil dalam pekerjaan Tuhan memiliki wibawa jabatan dan pengutusan yang sama hanya tugas dan fungsi saja yang berbeda.

f.    Seorang murid selalu rendah hati seperti Yesus yang sudah mengosongkan diriNya menjadi manusia. Karena itu murid Tuhan yang sejati haruslah rendah hati. Bagaimana menjadi rendah hati? Mesti menyangkal diri.

g.  Seorang murid tekun menghadapi ujian seperti teladan Yesus. Jadilah murid yang tekun saat berhadapan dengan ujian dan tantangan pelayanan.

h.  Seorang murid tidak memusingkan dirinya dengan upah dunia ini sebab fokusnya adalah mahkota kemuliaan, upah yang besar di Sorga.

i.    Seorang murid tidak tergoda dengan dunia ini. Yesus mengingatkan Petrus dan para murid tentang hal ini. Roh memang penurut tapi daging lemah karena itu para murid mesti berjaga – jaga senantiasa. Berpeganglah pada Yesus. Ia bukan hanya Guru yang Agung tapi juga Ia Tuhan di Sorga dan di bumi. Ia Juruselamat kita.

j.    Seorang murid memegang janji dan menepatinya. Seorang murid berintegritas, sejalan antara kata dan perbuatan. Ini memang tidak mudah tapi Kristus yang memanggil kita ke dalam pekerjaaNya, dalam proses belajar kita sebagai murid, Ia memperlengkapi kita.

k.  Seorang murid harus menyadari dan bersyukur bahwa ia akan menikmati berkat – berkat tanpa kekurangan suatu apapun. Jangan cemas dan khawatir karena ada berkat yang Tuhan sediakan bagi murid yang setia.

 

Sebagai murid marilah kita ingat bahwa kita hanya alat saja di tangan Tuhan. Tetapi sebagai alat kita mesti berfungsi dengan sebaik - baiknya dan benar. Pelayanan kita sepenuhnya bergantung pada anugerah Allah bukan pada kekuatan dan kepintaran kita. Ia yang memanggil kita mengenal setiap pribadi kita, kelebihan dan kekurangan kita. Ia tidak menuntut kita untuk sukses tetapi Ia menghendaki kita untuk setia. Panggilan kita adalah panggilan supaya setiap orang mengenal Kristus bukan supaya kita dipuji tetapi supaya Kristuslah yang dipuji dan dimuliakan. Bukan soal kita sebagai apa dan di mana tetapi bagaimana kita menjadi berarti dalam tugas – tugas yang dipercayakan bagi kita. Ingatlah, seorang Tuan bersikap memerintah, tetapi seorang murid bersikap melakukan perintah.

Seorang Tuan mempertahankan hak pribadi, ego pribadi tetapi seorang murid mengutamakan  kepentingan orang lain. Seorang Tuan bersikap mengambil, tetapi seorang murid bersikap memberi hidup kita dan apa yang ada pada kita untuk melayaniNya. Amin. Selamat Hari Minggu. Tuhan memberkati.

 

 

 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

2 Komentar untuk "CIRI - CIRI MENJADI MURID TUHAN (Lukas 22:14-38)"

Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.

YANG PALING BARU

BAHASA LIDAH, BAHASA SEHARI - HARI (Artikel)

ABOUT ME

Foto saya
Sorong, Papua Barat Daya, Indonesia
Menemukan PELANGI dalam hidup sendiri dan menjadi PELANGI di langit hidup sesama. Like and Subscribe my youtube channel: DEAR PELANGI CHANNEL

Iklan

Display

Inarticle

Infeed