KHOTBAH 2: NASIHAT UNTUK MENCARI HIKMAT (Amsal 4:1-27)
Hari ini kita ada dalam Minggu PAR menyongsong Hari DOa Syukur PAR GKI di Tanah Papua yang akan dirayakan pada 2 Juli nanti. Di jemaat Elim Malanu, kita juga menyongsong HUT ke – 58 PAR GKI Elim Malanu dan Ibadah MInggu IV dalam bentuk Kontekstual ETnik Toraja. Ada lagu sekolah Minggu: Apa yang di cari orang? Uang. Uang, bukan Tuhan Yesus. Apa yang dicari Yesus? Saya. Saya bukan orang lain. Selama di dunia ini ketika kita mencari hal – hal duniawi: uang, jabatan, kekayaan, ketenaran, Firman Tuhan mengingatkan kita untuk mencari hikmat. Tema kita: Nasihat untuk mencari hikmat. Minggu lalu kita sudah mendengar tentang faedah dari memiliki hikmat Tuhan. Minggu ini kembali kita diingatkan beberapa hal:
1. Hikmat adalah warisan yang lebih berharga dari segala harta (Ayat 1-9). Salomo memulai dengan mengajak anak-anak untuk mendengarkan didikan ayah mereka. "Perolehlah hikmat, perolehlah pengertian." Nasihat ini menunjukkan bahwa hikmat adalah sesuatu yang harus dicari dengan sungguh-sungguh. Hikmat bukan sekadar kepandaian. Tapi cara hidup, prilaku hidup yang sesuai kehendak Tuhan. Hikmat bukan sekedar dicari. Amsal menyebutkan: hikmat harus dikasihi, dipeluk, dan dijunjung tinggi. Artinya: memiliki hikmat Tuhan adalah bagian tak terpisahkan dari hidup. Hiduplah dalam hikmat Tuhan
2. Hikmat menuntun kita di jalan yang benar (Ayat 10-19)
Ada dua jalan kehidupan: jalan orang benar dan jalan orang fasik. Jalan orang benar seperti cahaya fajar yang makin bertambah terang. Jalan orang fasik penuh kegelapan sehingga, dalam gelap orang tidak tahu apa yang dilakukan. Jalan dari Makasar ke Toraja itu berliku – liku, banyak belokannya. Bayangkan kalau jalan tengah malam menempuh perjalanan dari Makasar ke Toraja dengan mobil tanpa lampu. Jalan orang fasik memang menuju kebinasaan. Kefasikan membawa kehancuran. Sedangkan hikmat Tuhan menjadi terang bagi kehidupan kita. Hikmat mengajar pemuda untuk menjaga hidup kudus. Hikmat mengajar orang tua untuk menjadi teladan. Hikmat mengajar pemimpin untuk melayani dengan integritas.
3. Hikmat harus menjaga seluruh kehidupan kita (Ayat 20-27)
Salomo memberikan perkataan hikmat: "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." Hati adalah pusat pikiran, kehendak, dan keputusan manusia. Karena itu, menjaga hati berarti menjaga seluruh kehidupan kita. Kalau hati di jaga maka mulut bisa dikontrol dari perkataan dusta, fitnah, dan kata-kata yang melukai sesama. Mata dapat diarahkan kepada tujuan yang benar sesuai kehendak Tuhan. Kaki apsti berjalan di jalan yang lurus dan tidak menyimpang kepada kejahatan. Nasihat ini sangat relevan bagi kehidupan masa kini. Banyak persoalan muncul karena hati yang tidak dijaga, perkataan yang tidak terkendali, dan langkah yang menjauh dari Tuhan. Jaid mari ingatlah bahwa hikmat adalah warisan yang lebih berharga daripada harta benda. Hikmat menuntun kita berjalan di jalan yang benar. Hikmat menjaga seluruh kehidupan kita agar tetap berkenan kepada Tuhan. Sebagaimana rumah adat Toraja, tongkonan berdiri kokoh karena fondasinya kuat, demikian pula kehidupan orang percaya akan tetap teguh jika dibangun di atas hikmat Tuhan. Dunia dapat berubah, zaman dapat berganti, tetapi orang yang hidup dalam hikmat Tuhan akan tetap berdiri teguh. Jaga anak – anak kita, masa depan gereja ini dalam hikmat Allah. SUkseskan camping PAR Klasis Sorong, mari topang dan jaga keamanan. Mari jadi pribadi, keluarga-keluarga, pemuda, orang tua, pelayan gereja, dan jemaat yang terus mencari hikmat Tuhan setiap hari. Amin.


Belum ada Komentar untuk "KHOTBAH 2: NASIHAT UNTUK MENCARI HIKMAT (Amsal 4:1-27)"
Posting Komentar
Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.