KEBERANIAN DALAM PENYERTAAN ALLAH (Ester 5:1-8)
Tema kita: Keberanian dalam Penyertaan Allah. Keberanian adalah kemampuan melakukan sesuatu yang sulit meskipun ada resikonya. Ester berani menghadap raja Ahasweros, bukan karena ia yakin akan kekuatannya sendiri, bukan mengandalkan kecantikannya atau posisinya sebagai ratu tetapi karena Ester yakin penyertaan Allah. Ester sudah tiga puluh hari tidak dipanggil menghadap raja (Ester 4:11). Menghadap Raja tanpa dipanggil resikonya adalah terancam mati. Tapi Ester memulai langkah beraninya dengan doa dan puasa. Bersama orang Yahudi di Kota Susan, mereka berpuasa selama tiga hari. Sesudah itu Ester mengambil keputusan kalau terpaksa aku mati, aku mati. Karena Ester sudah memulai dengan berpuasa. Ester memulai dengan Tuhan, maka Ester berani menghadap Raja meskipun tidak dipanggil. Ester berani mati. Dalam keberanian karena percaya penyertaan Allah. Maka Allah bertindak. Mujizat Allah terjadi. Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Orang yang percaya kepada Tuhan mungkin tetap merasakan takut, tetapi ia tidak membiarkan ketakutan mengalahkan imannya atau menghentikan langkahnya. Sebab ketika Tuhan menyertai, pintu yang tampaknya tertutup dapat terbuka, hati yang keras dapat dilunakkan, dan jalan yang tampaknya buntu dapat menjadi awal dari pertolongan Tuhan.
Menurut hukum Persia, siapa pun yang masuk menemui raja tanpa dipanggil akan dihukum mati. Kecuali, jika raja mengulurkan tongkat emas. Dan itulah yang terjadi. "Ketika raja melihat Ester berdiri di pelataran, Ester mendapat kasih sayang di hadapannya." Ester mendapat kasih sayang Raja bukan karena pakaiannya mewah. Tetapi karena Allah sudah bekerja lebih dahulu di hati raja. Allah yang mengubah hati raja sehingga raja mengulurkan tongkat emas. Ester mendapat akses. Bahkan Raja bersedia memberikan setengah kerajaanpun jika itu yang diinginkan Ester. Ester sudah mendapat kesempatan bahkan dua kali kesempatan tapi Ester tenang, tidak tergesa – gesa. Karena Ester tidak mengandalkan kehebatannya. Ester tidak bertindak menurut egonya. Ester percaya Allah yang hebat. Allah yang bekerja dengan cara Allah dalam waktu Allah. Allah yang bekerja di setiap keadaan, Allah yang bisa mengubah hati raja.
Ini pelajaran penting untuk kita. Kadangkala kita baru kecewa sedikit, langsung bikin status. Belum berdoa. Belum tenang untuk pikir persoalan baik sudah meledak. Kisah Ester mengajarkan bahwa orang beriman tidak dikendalikan emosi tapi dikendalikan oleh hikmat Tuhan. Ada banyak hal membuat kita takut. Saat berjuang dan bergumul dengan sakit yang berat. Saat harus masuk ruang operasi. Saat ada konflik keluarga. Saat berpikir masa depan anak-anak. Saat bergumul dengan tanggung jawab pelayanan yang mulai terasa berat. Datang pada Tuhan. Hadapi dengan tenang. Percaya penyertaan Allah. Minggu ini kita merayakan Minggu khusus PW, kita akan merayakan HDS PW GKI pada 26 Juli. Dan Elim akan jadi tuan rumah HDS PW di Klasis Sorong. Ini adalah berkat. Mari menjadi perempuan – perempuan yang menyambut berkat ini dengan sukacita. Jadi perempuan – perempuan yang mau terlibat dalam karya Allah. Jadi perempuan – perempuan yang berani karena percaya penyertaan Allah. Allah bekerja melalui keberanian seorang perempuan yang bersedia dipakaiNya. Seperti Ester, Debora yang berani memimpin bangsa Israel, Rut yang berani meninggalkan tanah kelahirannya untuk mengikuti Allah Israel, Hana yang berani datang kepada Tuhan dengan air mata dan pengharapan, Maria ibu Yesus yang percaya sungguh maksud Allah atas hidupnya dan berkata: jadilah padaku seperti yang Kau kehendaki. Juga janda di Sarfa, yang berani mengorbankan tepung terakhirnya untuk memberi makan Elia. Bukankah kita melihat penyertaan Allah yang luar biasa dalam hidup tokoh – tokoh Alkitab itu?
Begitupun untuk kita sekarang. Kalau kita sudah berdoa, tetapi belum ada jawaban. Jangan putus asa. Tiga hari Ester berpuasa. Belum ada tanda. Tetapi ketika pintu istana terbuka, ternyata Tuhan sudah bekerja. Panitia Sidang Klasis, Panitia Pemilihan Majelis, Aksi 10 ribu dan berbagai sumbangan untuk menyelesaikan kewajiban khusus kita. Kerja saja. Lakukan dengan iman. Yang sedikit kita kumpul. Kita kerjakan dalam percaya. Tuhan mengerjakan bagian Tuhan untuk kita. Kita tidak selalu melihat ujung perjalanan, tetapi kita mengenal Tuhan yang memimpin perjalanan itu. Kalau ada penyakit, jangan menyerah. Kalau ada pergumulan ekonomi, jangan putus asa. Kalau pelayanan terasa berat, jangan berhenti. Kalau keluarga sedang bergumul, jangan kehilangan pengharapan. Allah yang menggerakkan hati raja Ahasweros. Allah membuka pintu pertolongan bagi Ester. Allah menyiapkan kemenangan bagi Israel. Allah yang menyertai Ester adalah Tuhan yang sama yang menyertai kita hari ini. Mari berani percaya karena Allah menyertai. Keberanian kita mungkin kecil. Tetapi penyertaan Tuhan tidak pernah kecil. Amin.


Belum ada Komentar untuk "KEBERANIAN DALAM PENYERTAAN ALLAH (Ester 5:1-8)"
Posting Komentar
Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.