REFLEKSI GHAROPENDI BERSEJARAH (Amsal 3:3)

Gharopendi bersejarah adalah tentang identitas sebagai sufado Kai Daa. Gharopendi bersejarah adalah tentang bagaimana kita hidup dengan sesama, alam dan dengan Yang Mahakuasa. Gharopendi bukan sekedar orang hebat yang memiliki keperkasaan, kekuasaan dan kekuatan. Gharopendi bukan hanya menjunjung tinggi nilai – nilai adat tapi juga mensyukuri “ada anugerah kehidupan” dari alam: Bakau, Sagu, Kepiting. Gharopendi juga menyadari “ada orang” dari tanda alam pelepah sagu yang terpotong dan masih bergetah. Gharopendi menyadari ada aturan yang mesti mengatur relasi antar manusia dan ada kasih yang mesti mengikat hubungan antar manusia supaya tercipta Kanibararuko di dalam keluarga juga dalam hidup bersama.

 

Bacaan Alkitab bagi kita yaitu Amsal 3:3 Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu”. Kasih dan setia berkaitan erat. Kasih tanpa kesetiaan hanyalah fatamorgana, indah tapi tidak nyata dan mudah menghilang. Kesetiaan tanpa kasih ibarat perhambaan belaka, hambar tanpa kehangatan dan hanya menjadi kewajiban-kewajiban yang kaku. Tuhan menghendaki kita mengalungkan kasih dan setia di leher dan menuliskan itu pada loh  hati. Allah kita penuh kasih dan setia. Kasih setia “Khesed Yahweh” adalah dari Allah. Karena itu Allah menghendaki agar kasih dan setia-Nya pun menjadi ciri utama dalam kehidupan kita. Kadang kita merasa kehilangan alasan untuk tetap mengasihi dan setia, namun ingatlah, kasih dan setia justru terlihat ketika memang tidak ada lagi alasan di dunia ini. Namun alasannya hanya satu yaitu Tuhan yang kasih dan setiaNya tidak pernah berakhir.

 

Daerah kita mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Waktu terus berputar tanpa pernah berhenti. Tak seorangpun dapat menahan lajunya sang waktu. Bulan lalu tahun 2020 hari ini kita sudah di 14 Januari 2021. Bacaan Alkitab dan kisah Garopendi mengingatkan kita bahwa Waropen bisa berubah seiring perubahan zaman. Setiap detik waktu terjadi perubahan. Semua hal dapat berubah tapi satu hal yang tidak boleh berubah adalah kasih setia Tuhan. Jangan sekali – sekali meninggalkan kasih setia Tuhan dan jangan hidup seperti orang - orang yang tidak memiliki kasih setia Tuhan. Refleksi ini bukan hanya membuat kita terharu tapi harus menyentak hati kita, memukul ego kita, menghancurkan kesombongan kita sebab ternyata kasih yang mula – mula itu telah tergilas oleh zaman. Kaniba raruko berubah menjadi Kanibal raruko. Manusia yang hidup saling sayang satu sama lain menjadi  manusia yang cari untung untuk diri sendiri. Manusia yang sebelumnya menghargai relasi berubah menjadi manusia yang semua hal: uang berbicara. Refleksi ini mengoreksi kehidupan untuk menghidupkan kembali nilai – nilai Kanibararuko. Duduk bersama, makan bersama: “pergi mencari sendiri – sendiri tetapi pulang sore makan bersama (Kikambe kenda aisa tina)”. Papeda satu oyang dikelilingi bersama bermakna menyatukan Kaniba raruko, beusa raruko.

 

Orang Waropen menerima Injil dan Yesus menjadi Sera. Padahal orang Waropen tidak melihat Yesus secara langsung. Padahal gelar Sera tidak diberikan sembarangan. Yesus menjadi Sera bukan sekedar karena Yesus memiliki kekuatan dan kekuasaan. Sera Yesus lebih dari itu. Ia mati untuk kita. Ia sang Imanuel yang menyertai setiap langkah kita sampai memasuki Tahun 2021. Yesus menjadi Imanuel bagi orang Yahudi serta umat manusia. Tapi bagi Sufado Kai Daa Yesus adalah Sera. Ini adalah sesuatu yang istimewa. Karena itu mari kita berkomitmen sebagaimana sub tema: Dengan kehadiran Imanuel, kita menata kembali nilai – nilai Kanibararuko, Nana Sufado Bawa Kai Daa bersama Pemerintah Membangun Rumah Besar Waropen. Masyarakat waropen bersatu untuk membangun kabupaten Waropen seperti para leluhur dalam sejarah peradaban orang waropen baik dari Ronari, Kai maupun Ambumi, bersatu dan membangun dari  peradaban ke peradaban.

 

Mari menjalani tahun 2021 dengan komitmen Kanibararuko: lebih baik saling mengakui dan menerima sebagai sufado daripada hidup bermusuhan. Mari hidup saling mengasihi, saling memperhatikan, Kanibararuko, yang berarti kita duduk bersama, berpikir, berbicara dan bertindak bersama, juga sufado serafai. Ke dalam persekutuan yang hidup dalam kasih setia Allah, yang menghidupkan Kanibararuko, Mazmur 133:3 katakan, kesanalah Tuhan memerintahkan berkat kehidupan untuk selama – lamanya. Sera Yesus yakufa iko. AMIN. 

Saksikan Fragmen GHAROPENDI BERSEJARAH pada DEAR PELANGI CHANNEL: https://youtu.be/2g6A_xGl-rs


Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "REFLEKSI GHAROPENDI BERSEJARAH (Amsal 3:3)"

Posting Komentar

Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.

ABOUT ME

Foto saya
Waropen, Papua, Indonesia
Menemukan PELANGI dalam hidup sendiri dan menjadi PELANGI di langit hidup sesama. Like and Subscribe my youtube channel: DEAR PELANGI CHANNEL

Iklan

Display

Inarticle

Infeed