PENGHIBURAN KALA DUKA: BERSYUKUR MESKIPUN KEHILANGAN (Ayub 1:20-22)

Tidak ada seorangpun yang merasa senang bila mengalami kehilangan. Alkitab mencatat bagaimana Ayub, seorang yang saleh di hadapan Tuhan, mengalami kehilangan hampir semua yang dimilikinya. Hanya dalam sekejap saja, Ayub kehilangan seluruh anaknya, harta kekayaannya bahkan kesehatannya. Yang tersisa dari hidup Ayub pada waktu itu hanyalah nyawanya dan isteri yang memintanya untuk mengutuki Allah (ay. 9). Tetapi respon Ayub sungguh luar biasa. Mengalami kehilangan yang begitu dahsyat, dia sujud dan menyembah Tuhan, “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Terpujilah nama Tuhan!”

 

Ayub menanggapi semua musibah yang menimpa dirinya dengan kesedihan yang sangat, tetapi juga dengan kerendahan hati yang tunduk kepada Allah dan terus menyembah Dia di tengah-tengah kesukaran yang hebat. Pada saat kehilangan, Ayub tidak berbalik melawan Allah, tetapi dengan terus terang mengungkapkan perasaannya kepada Allah. Kitab Ayub menunjukkan bagaimana orang percaya yang setia hendaknya menghadapi musibah di dalam hidup ini. Sekalipun kita mengalami penderitaan hebat dan kesengsaraan yang tidak dapat dipahami, kita tetap berdoa memohon kasih karunia dan belajar memaknai kehilangan yang kita alami. Tuhan mengerti dan peduli dengan perasaan dan keluhan kita.

 

Iman Ayub dapat bertahan dan malah akan bertambah murni. Bahkan dari mulut seorang Ayublah keluar dua seruan agung, "Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!" Saat Tuhan mengijinkan ada sesuatu yang hilang dari dalam hidup kita, mungkin merasa Tuhan tidak adil. Kita merasa marah dan kecewa, karena Tuhan seakan-akan tidak peduli dan telah melupakan kita. Sesungguhnya, kita perlu menyadari bahwa segala sesuatu yang ada di dalam hidup kita, semuanya itu adalah milik Tuhan yang dipercayakan untuk kita jaga, kita rawat dan kita kelola. Bila Tuhan ingin mengambilnya, tentu itu adalah hak Tuhan. Mungkin kita berkata bahwa apa yang kita miliki ini adalah hasil dari jerih payah kita dan kita berhak untuk memiliki itu semua. Tapi ingatlah, tanpa campur tangan Tuhan yang membuat hidup kita berhasil dan menjadi sebagaimana kita ada saat ini, jerih payah kita hanyalah sia-sia belaka.

 

Ketika kita menyadari sepenuhnya bahwa apa yang kita miliki adalah kepunyaan Tuhan dan Dia berhak atas segala yang ada di dalam hidup kita, maka kita akan mampu merespon seperti Ayub. Memuji dan menyembah Tuhan di tengah kehilangan. Ketika Tuhan mengizinkan kita mengalami kehilangan, jangan biarkan kasih kita kepada-Nya ikut hilang. Renungkanlah apa yang menjadi rencana Tuhan di dalam kita. Dia adalah Tuhan yang Maha Bijak, tidak pernah Dia salah dalam bertindak.

 

Apakah kita hanya mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Ayub menyadari bahwa segala yang pernah dimilikinya adalah pemberian semata. Ia bersyukur bisa menikmatinya walau hanya sejenak, dan ia bersedia melepaskannya. Ayub tidak menggenggam erat-erat harta miliknya sebab ia tahu bahwa memang bukan dialah pemiliknya. Tetaplah bersyukur meskipun kehilangan. Tuhan menguatkan keluarga menjalani dukacita tanpa anak kekasih yang telah mendahului. Tangan Tuhan sedang merenda suatu karya yang agung dan mulia dalam hidup kita.  Saatnya akan kita lihat indahnya pelangi kasih dari Tuhan. Amin. Tuhan memberkati.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "PENGHIBURAN KALA DUKA: BERSYUKUR MESKIPUN KEHILANGAN (Ayub 1:20-22)"

Posting Komentar

Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.

ABOUT ME

Foto saya
Waropen, Papua, Indonesia
Menemukan PELANGI dalam hidup sendiri dan menjadi PELANGI di langit hidup sesama. Like and Subscribe my youtube channel: DEAR PELANGI CHANNEL

Iklan

Display

Inarticle

Infeed