KHOTBAH HUT ke - 59 YPK: DIDIKLAH MEREKA DALAM KEBENARAN, KEADILAN DAN KEJUJURAN (Amsal 1:3)

Kita merayakan HUT ke – 59 YPK Di Tanah Papua dengan tema: “Didiklah mereka dalam Kebenaran, Keadilan dan Kejujuran” (Amsal 1:3) dan Sub Tema:Melalui peringatan hari jadi 59 tahun YPK Di Tanah Papua, kita mendorong perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan.”  Saudaraku, kebenaran, keadilan dan kejujuran adalah aspek-aspek penting dalam kehidupan. Kebenaran, keadilan dan kejujuran lebih berharga dari kekayaan, kepintaran dan popularitas. Ketiganya tidak cukup dipelajari secara teori dalam bentuk pengetahuan saja. Kebenaran, keadilan dan kejujuran adalah salah satu bentuk pendidikan berkarakter. Yang ditanamkan adalah moralitas dan perilaku. Nah apa teknik dan metode dalam pendidikan berkarakter? Kitab Amsal memberikan kunci penting bagi kita: Hiduplah takut akan Tuhan. Kitab Amsal bertujuan mendidik orang untuk hidup dalam kebijaksanaan, disiplin ima, kebenaran, keadilan dan kejujuran. Intinya yaitu agar kita memiliki hikmat Allah. Ada orang berpendidikan tinggi, kaya dan cerdas tetapi belum tentu memiliki hikmat. Hikmat tidak sama dengan kecerdasan. Hikmat tidak diperoleh dengan kekayaan / kecerdasan sebab hikmat di dapat dari takut akan Tuhan.

 

Orang yang takut akan Tuhan adalah orang yang dipimpin oleh Tuhan. Setiap langkah adalah langkah dalam bimbingan Tuhan. Hikmat di sini bukanlah kepintaran secara intelektual tapi perilaku dan sikap hidup yang melakukan kebenaran, keadilan dan kejujuran. Orang yang berhikmat adalah orang yang bersedia menerima didikan baik dari Tuhan maupun melalui pendidikan formal untuk mencerdaskan intelegensinya tapi juga memiliki karakter moral yang baik.

 

Ketika kita bersyukur bersama YPK di hari jadinya yang ke – 59, 08 Maret 1962 sampai 08 Maret 2021. Tema dan Sub tema perayaan ini mengajak kita bersama YPK untuk memberi perhatian, mendidik dan mengajarkan sikap hidup yang benar, adil dan jujur bagi anak – anak kita. Guru bukan saja mengajarkan pengetahuan semata tapi juga teladan hidup yang dipimpin oleh hikmat Allah. Karena itu Guru harus menempatkan diri sebagai hamba yang setia. Orang tua dan Gereja harus menjadi teladan memberi motivasi di tengah pergumulan pendidikan masa covid 19.

Sebuah kisah menuturkan, hiduplah seorang raja yang arif dan bijaksana yang sangat disegani rakyatnya. Ia memiliki kerajaan yang sangat besar dan luas, namun sayang ia tidak memiliki putra sebagai penerus kerajaannya. Maka pada suatu hari ia mengadakan sebuah sayembara. Para pemuda diseluruh kerajaan dikumpulkan di sebuah lapangan. Raja ingin memilih siapa yang terbaik diantara mereka, yang layak menjadi raja nantinya.

 

Sang raja kemudian mengumumkan bahwa setiap peserta sayembara akan diberikan sebuah biji kacang siap tanam. Tugas mereka sangat mudah, yaitu menanam biji tersebut dan memeliharanya dengan baik. Barangsiapa mempunyai hasil tanam terbaik maka dialah yang akan menjadi pemenang sekaligus pewaris tahta kerajaan. Setiap peserta pulang dan langsung menanam biji yang mereka terima dengan sebuah harapan besar untuk menjadi pengganti raja. Setiap hari masing – masing peserta berusaha memilih tanah yang subur, pupuk yang bagus dan metode tanam terbaik. Mereka tidak saling mengecek satu dengan yang lain karena masing – masing berusaha keras.

 

Satu bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya para peserta membawa hasil tanaman kacang mereka untuk diperiksa oleh raja. Hampir semua peserta membawa tanaman kacang yang tumbuh subur dan tinggi. Sedangkan seorang pemuda hanya membawa pot berisi tanah subur tanpa tanaman. Orang – orang menertawakan si pemuda itu. Si pemuda itu tertunduk menahan malu karena ditertawakan. Setelah Raja selesai mmemeriksa tanaman kacang para peserta, Raja memanggil si pemuda yang hanya membawa pot berisi tanah dan mengumumkan bahwa pemuda itu adalah pemenangnya. Semua orang terkejut dan mengajukan protes keras. Bukankah pemuda itu hanya membawa pot dengan tanah tanpa tanaman? Bagaimana bisa dialah yang menjadi pemenangnya? Dengan bijak raja berkata, " Sebulan yang lalu, aku memberikan biji kacang yang telah kurebus. Jadi biji itu tidak akan pernah tumbuh. Sayembara ini dibuat untuk menguji kejujuran. Hanya pemuda inilah yang jujur, meski tahu bahwa biji tidak akan tumbuh, ia tetap merawatnya dan membawa hasilnya. Sementara kalian telah mengganti biji yang diberikan untuk memenangkan sayembara ini, itu artinya kalian tidak jujur. Kerajaan membutuhkan orang jujur dan pemuda inilah yang akan mewarisi kerajaan ini.” 

 

Bukan hanya kerajaan dalam cerita di atas yang membutuhkan orang jujur. Tapi Papua juga membutuhkan pemimpin dan orang - orang yang berlaku benar, adil dan jujur. Tuhan memakai YPK dalam proses pemulihan bagi Papua. YPK bukan hanya menabur benih ilmu tapi juga iman. Berkarakter Kristiani dan Unggul. Itulah yang dibutuhkan negeri ini. Negeri ini bukan hanya membutuhkan pemimpin – pemimpin yang pintar tapi juga pemimpin – pemimpin yang takut Tuhan. YPK Di Tanah Papua tetap eksis dan menjadi idola, sebab YPK mempersiapkan dan mencetak pemimpin – pemimpin masa depan negeri ini. Mari kita berjuang dalam keyakinan iman bersama YPK. Jayalah YPK. Selamat Hari Jadi YPK Di Tanah Papua. Tuhan memberkati

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "KHOTBAH HUT ke - 59 YPK: DIDIKLAH MEREKA DALAM KEBENARAN, KEADILAN DAN KEJUJURAN (Amsal 1:3)"

Posting Komentar

Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.

ABOUT ME

Foto saya
Waropen, Papua, Indonesia
Menemukan PELANGI dalam hidup sendiri dan menjadi PELANGI di langit hidup sesama. Like and Subscribe my youtube channel: DEAR PELANGI CHANNEL

Iklan

Display

Inarticle

Infeed