KHOTBAH KEMATIAN GURU JEMAAT: DIPANGGIL DALAM CINTA TUHAN (YOHANES 12:24-26)

Lama hidup banyak dirasa, jauh berjalan banyak dilihat. Itu sebuah kata bijak yang sering diucapkan oleh almarhum kekasih kita. Makna kata bijak ini menunjuk pada pengalaman hidup seseorang, memaknai pahit manis atau asam garam kehidupan yang dijalani. Almarhum kekasih kita ini telah mendahului kita. Tuhan memanggilnya dengan cara yang sangat istimewa tepat pada perayaan HUT ke – 89 Pekabaran Injil ke - di Kampung Ghoyui Paradoi yaitu 28 Februari 2021, di dalam rumah Tuhan, sementara beribadah dalam puji - pujian kepada Tuhan. Tuhan menetapkan batas kehidupan baginya tanpa sakit yang panjang, Tuhan memeluknya dalam keabadian dengan senyuman yang indah.

 

 

Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Anak Manusia yang diutus untuk menderita sengsara dan mati bagi orang banyak. Yesus memakai ilustrasi satu biji gandum yang harus mati supaya menghasilkan banyak buah. Ia mengumpamakan kematian-Nya itu dengan kematian satu biji itu, supaya menghasilkan kehidupan bagi orang banyak. Dampak kematian-Nya yang menghidupkan banyak orang akan digenapi saat Ia mengorbankan diri-Nya di kayu salib. Pengorbanan-Nya itu bukan dilakukan demi kehendak Bapa saja melainkan oleh kehendak Yesus sendiri.

 

Yesus adalah teladan utama bagi kita semua dalam hal pengorbanan diri. Hal itu Ia nyatakan dengan mengorbankan diriNya di kayu salib demi menebus dosa-dosa manusia. Jadi keselamatan kita adalah buah dari pengorbanan-Nya. PengorbananNya adalah bukti cinta. Karena cintaNya bagi manusia dan dunia sehingga Yesus telah mengorbankan diriNya sendiri. Pengorbanan Yesus karena cintaNya tidaklah sia – sia. Karena cinta Yesus menghidupkan kita dan pengorbanan Yesus membuat kita beroleh keselamatan.

 

Hari ini kita melepas kepergian Almarhum kekasih kita, hamba Tuhan, yang dipanggil Tuhan dari tengah – tengah kehidupan Keluarga Besar dan kita semua. Ia di panggil Tuhan dari tengah – tengah barisan para pelayan dalam GKI Di Tanah Papua. Ia di panggil Tuhan dari tengah – tengah kehidupan persekutuan bergereja dan bermasyarakat. Tuhan telah menetapkan batas kehidupannya dan ia telah mencapai garis Finish. Almarhum kekasih kita telah menunjukan kesetiaan kepada Kristus sang pemilik pekerjaan ini. Ia telah bekerja di Kebun Anggur Tuhan. Ia telah berjalan bersama Tuhan dan merasakan pahit manis, asam garam pelayanan di medan yang sulit di Waropen dan dalam GKI di Tanah Papua. Almarhum adalah sosok yang setia. Selama masih kuat meskipun sudah pensiun, ia tetap melayani Tuhan. Beliau telah menunjukan teladan setia sampai akhir. Masa-masa ujian yang berat dalam pelayanan telah dilalui sampai mencapai garis finish. Dan di sini, saat ini ketika kita mengenangnya dan melepaskan kepergiannya selaku keluarga juga rekan spelayanan yang meneruskan kerja dan pelayanan dalam gereja Tuhan. Kita semua aminkan dan imani bahwa telah tersedia mahkota kebenaran sebagai kemenangan kasih karunia dari Kristus kepada almarhum dan kepada barang siapa yang setia.

 

Seringkali kita masih merasa enggan untuk berkorban orang lain karena kita takut kehilangan sesuatu. Kita memperhitungkan untung rugi yang kita peroleh untuk pengorbanan : tenaga, waktu, uang, kesempatan, materi, kehormatan, status, jabatan, dan lain-lainnya. Injil Yohanes ini mengingatkan bahwa nilai pengorbanan kita bagi kebaikan menunjukan nilai kehidupan kita. Di dalam Tuhan jerih payah dan pengorbanan kita tidak pernah sia – sia.

 

Isteri dan anak – anak, Keluarga besar yang ditinggalkan. Ikutilah teladan dari almarhum yang setia dalam tugas, hidup mengasihi keluarga dan sesama, selalu peduli pada kepentingan orang lain. Adakah kita juga demikian? Membantu atau berkorban bagi orang lain memang menuntut konsekuensi kehilangan. Tetapi buah hasil pengorbanan  selalu memberikan kebahagiaan jiwa. Janganlah jemu – jemu berbuat baik. Bagi keluarga yang ditinggalkan : Kita tahu bahwa Allah adalah Allah yang memelihara kita. KepadaNya dapat kita curahkan segala kesusahan kita. Memang kita tidka bisa mengerti segala sesuatu dalam hidup ini tetapi kita tahu bahwa segala sesuatu terjadi di dalam Tuhan, dan Tuhan bersama kita dalam segala hal. Tuhan memberi penghiburan dan kekuatan melewati hari – hari ini. Tuhan menghendaki kitapun setia kepadaNya : Setia sampai akhir agar keluarga dan kita semua keluar sebagai pemenang. Taburlah cinta Tuhan maka kitapun akan menuai cinta Tuhan. Tuhan Yesus bersabda :   "Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.” (Yohanes 12:25). Tuhan memberkati.

 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "KHOTBAH KEMATIAN GURU JEMAAT: DIPANGGIL DALAM CINTA TUHAN (YOHANES 12:24-26)"

Posting Komentar

Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.

ABOUT ME

Foto saya
Waropen, Papua, Indonesia
Menemukan PELANGI dalam hidup sendiri dan menjadi PELANGI di langit hidup sesama. Like and Subscribe my youtube channel: DEAR PELANGI CHANNEL

Iklan

Display

Inarticle

Infeed