TELITI DALAM PENGAJARAN INJIL (Ibrani 2:1-4)

Akhir-akhir ini pemberitaan Injil sangat ramai dan semarak, sampai-sampai ada yang tidak terkendali dan menyerempet ajaran agama lain lalu dipolisikan. Tetapi juga muncul ajaran-ajaran baru yang tidak sesuai dengan apa yang selama ini diajarkan dalam gereja dan diimani umat Kristen. Di mana-mana muncul pengkobah-pengkotbah, penginjil-penginjil yang membuat orang senang dan ketawa-ketawa, bahkan muncul pengajar-pengajar yang tidak berkeyakinan Kristen, tetapi berbicara tentang ajaran Kristen. Kita sedang berhadapan dengan apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus kepada anak rohaninya, Timotius. “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng” (2 Tim 4:3 – 4). Peringatan Paulus kepada Timotius tersebut sedang berlaku, telah tiba waktu tampilnya guru-guru dengan ajaran yang tidak sehat. Bagaimana kita, warga GKI di Tanah Papua menghadapi kondisi keagamaan seperti itu?

 

Mari kita perhatikan apa yang disampaikan dalam Ibrani 2:1. “Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus”!. Kita harus lebih teliti memperhatikan apa yang kita dengar mengenai pemberitaan Injil, yang saat ini menjamur di mana-mana. Kita tidak begitu saja tertarik dan menerima khotbah-khotbah, ajaran-ajaran yang bertebaran di media social misalnya di tiktok yang punya daya tarik, namun sesungguhnya tidak sehat, karena bukan memberitakan Injil yang berpusat pada Kristus yang mati dan bangkit; juga bukan yang diajarkan dalam GKI di Tanah Papua. Ajaran-ajaran yang tidak sehat itu, tidak dapat dicegah, malah akan semakin marak, karena sekarang memang waktunya hadir ajaran yang menyesatkan. Yang kita lakukan bukan mecegah, melainkan lebih teliti, lebih berhati-hati, lebih waspada, agar tidak dibawa hanyut arus ajaran yang sesat itu.

 

Mengapa kita harus “lebih teliti”?. Lebih teliti berarti, ketelitian kita bukan biasa-biasa, melainkan ekstra teliti sampai kita tahu dan sadar bahwa yang kita dengar bukanlah ajaran yang benar. Kita harus lebih teliti, lebih hati-hati, dan lebih waspada, karena bisa saja yang kita dengar itu adalah “aspal”, alias asli tapi palsu. Misalnya beberapa waktu lalu kita dihebohkan dengan ajaran dari seorang pendeta, bahwa yang juruselamat adalah YHWH, bukan Yesus; yang belajar teologi mungkin membutuhkan ketelitian ekstra untuk memahaminya. Juga muncul ajaran, bahwa di luar Yesus ada keselamatan, padahal Alkitab mengajarkan keselamatan itu hanya ada di dalam Yesus yang mati dan bangkit, sebab “keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kisah Rasul 4:12). Hari ini kita benar-benar berhadapan dengan suasana keagamaan yang kompleks, yang sulit dan menyesatkan.

 

Dalam suasana keagamaan yang rumit itu, kita orang Kristen harus punya pengetahuan dan pengenalan yang benar mengenai Yesus Kristus, agar tidak hanyut terbawa arus ajaran yang menyesatkan. Kita pun patut memiliki kepribadian sebagai murid Kristus, agar tidak mudah diombang-ambingkan oleh rupa-rupa pengajaran yang menyesatkan. Kita warga GKI di Tanah Papua harus tahu ajaran-ajaran dalam gereja ini, agar tidak mudah dibodohi oleh para pedagang dan pebisnis Injil dalam gereja dan di tengah masyarakat. GKI di Tanah Papua mengimani bahwa keselamatan itu hanya ada di dalam dan melalui Yesus Kristus yang mati dan bangkit. Karena itu, gereja ini pun mengaku, bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Kepala yang memerintah dan memelihara gereja melalui Firman dan Roh Kudus.

 

Ketika orang Kristen dan secara khusus warga GKI di Tanah Papua tidak teliti, tidak hati-hati dan tidak waspada, lalu mengikuti ajaran yang menyesatkan, maka kita sesungguhnya, seperti disebutkan dalam ayat 3: “menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu”. Mengapa menyia-nyiakan keselamatan? Karena dengan percaya dan beriman kepada Yesus Kristus, kita sudah ada dan hidup di dalam keselamatan, namun ketika kita mengikuti ajaran sesat, kita telah membuat sia-sia keselamatan yang Kristus berikan kepada kita, dan keselamatan itu tidak ada lagi artinya bagi kehidupan kita, sehingga kita menjalani hidup ini tidak lagi mencerminkan keselamatan melalui perbuatan-perbuatan baik yang memuliakan Bapa di Sorga. Sebaliknya, yang kita lakukan adalah kejahatan yang menodai kemuliaan Allah. Misalnya karena terpengaruh dengan ajaran bahwa diluar Kristus ada keselamatan, bisa saja orang kembali kepada kepercayaan tradisional dan mencari pertolongan “orang pintar” ketika sakit, mencari jodoh, merebut posisi jabatan tertentu dan mempersulit orang lain yang menjadi saingan politik maupun bisnis.

 

Karena itu, kita patut menyadari bahwa kita hari ini ada sebagai orang Kristen, dan secara khusus sebagai warga GKI di Tanah Papua, karena Injil keselamatan yang Tuhan beritakan melalui para penginjil yang diberi Allah kuasa dan karunia Roh Kudus. Mari kita perhatikan pekabaran Injil di Tanah Papua. GKI di Tanah Papua adalah hasil pekabaran Injil yang berlangsung sejak 5 Februari 1855. Dan harus kita katakan, keberhasilan pekabaran Injil dengan berdirinya gereja ini adalah suatu keajaiban. Betapa tidak! Semua catatan sejarah yang menjelaskan pekabaran Injil di Tanah Papua memberi gambaran bahwa penginjilan di daerah ini tidak mudah, para penginjil mengalami banyak kesulitan dan hambatan. Lalu kenapa pekabaran Injil bisa berhasil dan gereja bisa hadir di Tanah Papua? inilah alasannya: “Allah meneguhkan kesaksian mereka oleh tanda-tanda dan mujizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan dan karunia Roh Kudus yang dibagi-bagikan menurut kehendak-Nya” (ay 4). Penginjilan itu berhasil dan berbuah dengan berdirinya gereja, karena Allah bekerja di dalam dan melalui para penginjil, Allah memberi kuasa dan karunia Roh Kudus kepada mereka.

 

Orang Kristen dan gereja ada di Tanah Papua karena Allah meneguhkan para penginjil dan kesaksiannya dalam menghadapi dan mengatasi tantangan. GKI di Tanah Papua ada, karena Allah memberi kekuatan dan semangat rasuli kepada para penginjil dengan memberi kuasa dan karunia Roh kudus. Jadi gereja ini adalah buah pekerjaan Roh Kudus. Oleh sebab itu, kalau ada majelis jemaat dan anggota jemaat yang merusak persekutuan dan pelayanan dalam jemaat GKI, klasis GKI, bahkan seluruh gereja, maka orang itu tidak hanya menyia-nyiakan keselamatan, tetapi sekaligus berdosa terhadap Roh Kudus. Dan kita tahu dosa terhadap Roh Kudus tidak dapat diampuni (Mat 12:31). Jadi yang sok pintar dan merusak pelayanan di majelis dan unsur jemaat serta dalam jemaat maupun dalam klasis harus sadar sekarang bahwa itu perbuatan melawan Roh Kudus yang membuat gereja ini ada, dan sekali lagi, dosa terhadap Roh Kudus tidak dapat diampuni.  

 

Kondisi keagamaan yang ditandai dengan munculnya berbagai ajaran yang tidak sehat itu, tidak perlu membuat kita resah dan kehilangan iman kepada Kristus. Juga jangan sampai menyia-nyiakan keselamatan hanya karena dogma tentang keselamatan yang berbeda dengan yang kita imani. Kita berada dalam gereja  yang Tuhan dan kepalaNya ialah Yesus Kristus, dan karena itu, Kristus mengawasi setiap orang dalam gereja ini, agar tetap hidup dan berjalan dalam kebenaran. Kristus melalui Firman dan Roh Kudus menjaga setiap majelis dan anggota jemaat, agar senantiasa hidup dan melakukan kebenaran, supaya tidak menyia-nyiakan keselamatan. Kristus mengawasi setiap ajaran dan pemberitaan Firman dari para Pendeta, Penatua, Syamas, Guru jemaat dan Penginjil, agar tidak menyesatkan umat Tuhan.

 

Marilah kita bergereja dengan lebih teliti, lebih hati-hati dan lebih waspada menghadapi kondisi keagamaan yang semakin menantang iman kita. Tidak perlu galau dan kehilangan percaya diri berada dalam GKI di Tanah Papua, kita ada dalam gereja yang benar, gereja yang Tuhan dan KepalaNya adalah Yesus Kristus. Dia senatiasa menuntun kita oleh Firman dan Roh Kudus, agar kita selalu ada dan hidup dalam kebenaran. Kristuspun berjanji kepada kita, Ia tidak membiarkan dan meninggalkan kita, Ia menyertai kita sampai pada akhir zaman. Amin!  (Penulis: Pdt. DR. Sostenes Sumihe. M. Th)

 

 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "TELITI DALAM PENGAJARAN INJIL (Ibrani 2:1-4)"

Posting Komentar

Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.

YANG PALING BARU

DILENGKAPI DALAM PANGGILAN ALLAH (I Samuel 3:1-21)

ABOUT ME

Foto saya
Sorong, Papua Barat Daya, Indonesia
Menemukan PELANGI dalam hidup sendiri dan menjadi PELANGI di langit hidup sesama. Like and Subscribe my youtube channel: DEAR PELANGI CHANNEL

Iklan

Display

Inarticle

Infeed