BERSYUKUR DALAM DUKACITA (Habakuk 3:17-19)

Ada perbedaan antara senang dan bersukacita.  Senang adalah perasaan gembira ketika mendapatkan sesuatu yang diharapkan.  Misalnya seorang anak ingin memiliki sebuah Hand Phone (HP). Beberapa waktu kemudian, orang tuanya membelikan sebuah HPAnak ini pasti sangat senang. Sedangkan sukacita adalah keadaan ketika kita menaruh iman bukan pada apa yang terjadi seperti yang diharapkan, tetapi apa yang ada di dalam jiwa, yaitu bagaimana menaruh harapan kepada Tuhan.  Seperti dalam dukacita yang dialami keluarga saat ini.

 

Dukacita pastinya membawa kesedihan. Kita kehilangan seorang yang dikasihi. Kita menangis dan bersedih tetapi sekaligus kita bersyukur. Bukan bersyukur sebagai sebuah kebiasaan atau tradisi belaka. Ini memang sesuatu yang sulit dipahami secara logika. Bagaimana mungkin pada saat menangis kita bersukacita? Pada saat bersedih tetap bersyukur? Inilah iman karena pekerjaan Roh Kudus  sebab kita mempercayai bahwa Tuhan punya maksud dan rencana. Kita bersyukur sebab dalam dukacita, kita beroleh penghiburan dan kekuatan dari Tuhan

Habakuk menaikan sebuah doa dan nyanyian ratapan. Tapi ratapan ini bukan bernada keputusasaan. Justru ini sebuah nyanyian pengharapan pada Tuhan yang Mahakuasa. Habakuk bersedih dan berkeluh atas keadaan Israel, tetapi ia tidak membiarkan dirinya berada di dalam kekecewaan dan putus asa. Habakuk memang berduka, tetapi kemudian ia bersukacita.  Habakuk tidak menaruh kekuatannya di dalam dirinya sendiri, atau di dalam keyakinannya bahkan di dalam prestasinya. Habakuk tahu bagaimana dan kepada siapa ia berharap? Habakuk menaruh kepercayaan pada Tuhan.

 

Dari Habakuk kita belajar, bagaimana memberi respons terhadap keadaaan yang menyedihkan dan mengecewakan. Habakuk memberi teladan bahwa sukacita sejati adalah sebuah pilihan yang tidak tergantung pada realita hidup yang sedang terjadi tapi pada relasi kita dengan Tuhan. Ketika kita menggantungkan harapan pada Tuhan maka kita dapat bersukacita. Hidup tidak tergantung pada sesuatu yang sedang terjadi. Situasi dan kondisi bisa mengecewakan bagaikan keadaan ketika pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang.  

 

Pohon Ara sering digunakan sebagai simbol kehidupan orang Israel. Yang diharapkan dari pohon Ara adalah buahnya yang dapat dimakan ataupun dikeringkan lalu dibuat kue. Pohon ara yang tidak berbunga otomatis tidak dapat menghasilkan buah. Sedangkan pohon ara yang tidak berbuah menjadi gambaran sebuah malapetaka yang besar. Pohon Anggur banyak terdapat di Kanaan. Pohon Anggur melambangkan kemakmuran dan damai sejahtera bagi Israel. Anggur sendiri menjadi minuman  sejak zaman dahulu, baik dalam pesta maupun perjamuan. Biasanya pohon Anggur menghasilkan buah dua kali dalam setahun. Jadi Pohon Anggur yang tidak berbuah menandakan sebuah kegagalan besar. Pohon Zaitun adalah jenis pohon yang selalu hijau di segala musim dan menjadi ciri khas tumbuhan di daerah Laut Tengah. Seperti halnya Pohon Anggur, hasil Pohon Zaitun yang diolah menjadi minyak Zaitun adalah salah satu sumber penghasilan di Israel. Pohon Zaitun menjadi symbol kekuatan dan berkat Ilahi. Bila hasil pohon Zaitun mengecewakan itu menandakan sebuah kondisi yang tanpa harapan. Ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang lebih menegaskan lagi sebuah keadaan yang sangat buruk. Meskipun keadaan menjadi sangat buruk tetapi Habakuk tetap  bersorak-sorak dan beria-ria di dalam Tuhan. Ayat 19 merupakan suatu pengakuan diujung pergumulan Habakuk yang melelahkan. Ia telah memperkuat iman percayanya.  Ia melanjutkan hidup! 

 

Bersedih dan menangis saat berduka adalah sesuatu yang wajar secara manusia tetapi janganlah sampai membuat kita kehilangan kendali atas hidup ini. Dari Habakuk kita belajar untuk setia dalam kesulitan. Bersyukur saat keadaan buruk. Sebab iman sejati tidak kehilangan asa. Pengharapan kita tidak diletakkan pada situasi sekeliling kita yang tidak menjanjikan. Di tengah malapetaka besar, keadaan yang mengecewakan, kegagalan yang tidak diharapkan bahkan situasi yang tanpa harapan, pandanglah pada Yesus. Jangan berputus asa dan  menyerah. Jangan gentar karena situasi yang meresahkan di sekitar kita, tetapi takjublah karena Tuhan selalu hadir dan berkarya dalam peristiwa segelap apa pun.

Bersyukurlah ketika mengalami permasalahan, kekecewaan, atau kegalauan hidup karena Tuhan sedang membentuk kita menjadi seperti Rusa yang lincah, Rusa yang menawan, Rusa yang mampu berlari sedemikian cepat, dan Rusa yang mampu dengan cekatan menghindari para pemangsa. Tuhan itu kekuatan kita. Kiranya Tuhan menolong kita melewati dukacita dengan tetap bersukacita dan bersyukur dalam pengharapan kepada Tuhan yang hidup.  Amin.

 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "BERSYUKUR DALAM DUKACITA (Habakuk 3:17-19)"

Posting Komentar

Hai, sahabat DEAR PELANGI ... silahkan memberi komentar sesuai topik dengan bahasa yang sopan.

YANG PALING BARU

PRIBADI YANG MEMILIKI HIKMAT KRISTUS ( I Korintus 2:6-16)

ABOUT ME

Foto saya
Waropen, Papua, Indonesia
Menemukan PELANGI dalam hidup sendiri dan menjadi PELANGI di langit hidup sesama. Like and Subscribe my youtube channel: DEAR PELANGI CHANNEL

Iklan

Display

Inarticle

Infeed